Tsurayya di Bulan 5. An Extremely Awaited Star.

Tsurayya dalam Hadits

Tsurayya, nama sebuah bintang yang tiba-tiba populer dan diharapkan kemunculannya di pagi hari pada pekan pertama atau kedua dari bulan Mei.

Bermula dari sebuah video yang disiarkan oleh Yayasan Al-Muafah melalui YouTube pada tanggal 4 April 2020 dengan judul Sampai Kapan Corona Berakhir?. Dalam video tersebut Pengasuh Yayasan, KH. Rizqi Dzulqornain Al-Batawy, MA. menyebutkan beberapa hadits nabi dan penjelasannya dari beberapa kitab yang berkaitan dengan akhir suatu wabah.

Disusul kemudian dengan video yang disiarkan oleh channel YouTube: null, milik Idnan A. Idris, yang berjudul Akhir Suatu Wabah, menampilkan KH. Deden Muhammad Makhyaruddin, MA. yang juga menjelaskan beberapa hadits dan penjelasannya terkait dengan berakhirnya wabah pada tanggal 7 April 2020.

Kedua video YouTube di atas segera viral karena waktunya sangat tepat, yaitu ketika masyarakat sudah kelelahan menghadapi epidemi Corona dan sangat berharap epidemi itu segera berakhir di bulan Ramadhan 1441 atau setidaknya sebelum Idul Fitri 1 Syawwal 1441 H.

Penjelasan kedua orang kyai dalam dua video tersebut sama. Berikut penjelasan beliau berdua:

  1. Dalam kitab Al-Musnad yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal, jilid VIII, halaman 330 terdapat sebuah hadits pada nomor 8476:

إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ، رُفِعَتِ الْعَاهَةُ

Apabila bintang telah terbit pada pagi hari maka ahat akan diangkat.

  1. Syech Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna as-Sa’aty dalam kitabnya Al-Fathur Rabbany dengan syarah (penjelasan)nya, Bulughul Amany, jilid XX, halaman 13, menjelaskan bahwa bintang yang disebut di dalam hadits di atas bernama Tsurayya.
  2. Syech Ahmad As-Saaty juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-ahat adalah wabah penyakit yang menimpa manusia atau tanaman.
  3. Imam As-Suyuthi pada kitabnya Jami’ul Ahadits (Al-Jami’us Shoghir), jilid I, halaman 236, mencatat hadits nomor 1574 : إذا طلعت الثريا Artinya: Jika bintang Tsurayya telah terbit .
  4. Dalam Penjelasan kitab Al-Jami’us Shoghir, Muhammad bin Ismail Al-Amir As-Shon’any menyusun kitab At-Tanwir. Pada jilid II, halaman 132, Muhammad As-Shon’any menjelaskan bahwa bintang Tsurayya terbit pada waktu pagi sepuluh hari pertama dari bulan Ayyar (Mei).
  5. Ibnu Hajar Al-Atsqolany, Badruddin Al-‘Ainy, dalam Penjelasan Kitab Shahih Bukhary: Wabah akan terangkat di saat panas menyengat di awal musim panas.
  6. At-Thabrany dalam Mu’jamus Shaghir: إذا ارتفع النجمُ رفعت العاهةُ عن كل بلدٍ Jika bintang sudah meninggi, maka terangkatlah wabah dari seluruh negeri.

Bintang 7

Tsurayya, Bintang Apa?

Jika mengamati penjelasan tentang Tsurayya yang ada dalam beberapa kitab yang disebutkan dalam kedua video, maka dapat dipahami bahwa bintang Tsurayya adalah bintang yang terbit di pagi hari pada sepuluh hari pertama bulan Mei.

HijazBeberapa penjelasan lain dalam literatur lain tentang Tsurayya menyebutkan bahwa bintang tersebut muncul di awal musim panas, di wilayah negri Hijaz. Hijaz adalah sebutan untuk wilayah di sebelah barat laut Saudi Arabia. Di wilayah Hijaz terletak kota Makkah dan Madinah.

Dalam literatur modern, Tsurayya (bahasa Arab) disebut dengan beberapa nama di beberapa bangsa yang terkenal ilmu perbintangannya, seperti Pleiades (Yunani, dan menjadi nama ilmiah yang resmi), Seven Sisters (Inggris), Mulmul (Babilonia), Krittika (India), Mao (Cina), Subaru (Jepang), dan lain sebagainya. Di Indonesia dikenal dengan nama Bintang Kartika atau Bintang Tujuh Bidadari.

Tsurayya atau Pleiades atau Kartika adalah sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus, merupakan gugus bintang paling jelas dilihat dengan mata telanjang, dan salah satu yang terdekat dengan Bumi. Dalam tradisi perbintangan Jawa ia dikenal sebagai Lintang Wuluh.

Untuk wilayah nusantara, Pleiades akan tampak di langit malam selepas matahari terbenam hingga akhir April. Ia akan terlihat kembali di arah timur menjelang matahari terbit pada bulan Juli. Waktu terbaik mengamati gugus ini pada November karena ia akan terlihat di sepanjang malam.

Jika di wilayah nusantara Tsurayya atau Pleiades muncul pagi hari di bulan Juli, maka di wilayah Hijaz muncul pada pagi hari di bulan Mei. Perbedaan waktu ini terjadi karena perbedaan posisi geografis, khususnya perbedaan jarak suatu daerah dengan garis katulistiwa, apakah di sebelah utara atau sebelah selatan garis katulistiwa.

Selain perbedaan waktu terbit Tsurayya atau Pleiades, terjadi juga perbedaan jadwal musim yang diakibatkan oleh perbedaan geografis. Untuk wilayah Hijaz yang terletak di utara garis katulistiwa, musim panas dimulai pada bulan Mei seperti yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al-Atsqolani dalam kitabnya yang terkenal, Fathul Bari, Jilid 4, halaman 395:

Musim“Terbitnya (Tsurayya) pada pagi hari terjadi di awal musim panas, ketika panas sangat tinggi di negeri Hijaz. Buah-buahan mulai masak.”

Untuk perbandingan bahwa secara umum terdapat empat musim di daerah-daerah subtropis. Dalam kondisi normal jadwal keempat musim tersebut adalah sebagai berikut:

TANGGAL SUBTROPIS UTARA SUBTROPIS SELATAN
21 Maret – 21 Juni Musim semi Musim gugur
21 Juni – 23 September Musim panas Musim dingin
23 September – 22 Desember Musim gugur Musim semi
22 Desember – 21 Maret Musim dingin Musim panas

Tsurayya atau Pleiades atau Kartika atau apa pun namanya merupakan tanda waktu berkaitan dengan pergantian musim. Untuk di wilayah Hijaz, tanda mulainya musim panas (as-shaif).

 

Kajian Hadits tentang Tsurayya

Menurut ilmu Mustholahul Hadits kajian terhadap suatu hadits mencakup kajian atas sanad dan matan. Kajian atas sanad adalah kajian atas rantai periwayatan. Ilmu Mustholahul hadits telah menetapkan kriteria suatu hadits dari aspek sanad menjadi shahih, hasan (bagus), dla’if (lemah), dan maudlu’ (palsu). Untuk hal-hal yang menyangkut masalah keimanan dan hukum syari’at, hanya hadits shahih dan hasan yang boleh dipakai. Untuk kebaikan-kebaikan lain selain masalah keimanan dan hukum syariat, sebagian ulama’ memperbolehkan penggunaan hadits dla’if. Hadits maudlu’ (palsu) tidak boleh digunakan sama sekali.

Terkait beberapa hadits yang menyebut terbitnya bintang di pagi hari dan dikaitkan dengan diangkatnya wabah, ternyata tercatat dalam kitab kumpulan hadits dla’if : Mawsu’atul Ahadits wal Atsar ad-Dla’ifah wal Mawdlu’ah, Jilid XV, halaman 119.

Walaupun dla’if, tapi karena banyak yang isinya serupa, maka menurut prinsip Mustholahul Hadits, derajatnya bisa naik menjadi Hasan.

Kajian selanjutnya adalah terhadap matan, yaitu materi hadits. Dalam hal ini yang perlu dikaji adalah sababu wurudil hadits (sebab munculnya hadits). Berikut adalah penjelasan Jami’us Sunnah wa Syuruhuha, sebuah website yang khusus memecahkan masalah berkaitan dengan hadits, khususnya hadits yang sedang dibahas dalam tulisan ini. Yaitu hadithportal.com.

Hadits إِذَا طَلَعَتِ الثُّرَيَّا صَبَاحًا رُفِعَتِ الْعَاهَةُ عَنْ أَهْلِ الْبَلَدِ (Jika Tsurayya terbit di pagi hari, diangkatlah ahat dari penduduk negeri) berhubungan dengan hadits مَا طَلَعَ النَّجْمُ صَبَاحًا قَطُّ وَتَقُومُ عَاهَةٌ إِلَّا رُفِعَتْ عَنْهُمْ أَوْ خَفَّتْ (Setiap kali bintang terbit di pagi hari dan pada saat itu suatu kaum ditimpa ahat, maka ahat tersebut diangkat dari mereka atau diringankan). Hadits ini berhubungan juga dengan hadits أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تَذْهَبَ الْعَاهَةُ  (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang menjual buah sehingga ahat sudah pergi). ahat menurut Ibnu Umar diangkat ketika bintang atau Tsurayya terbit di pagi hari.

Terbitnya bintang atau Tsurayya di pagi hari terjadi pada tanggal 12 bulan Mei, yaitu pada saat buah kurma sudah masak.

ahat yang dimaksud di dalam hadits adalah penyakit yang mengenai buah-buahan, atau hama.

Penjelasan yang senada terdapat pada Hidayatullah.com edisi 13 April 2020 dengan Judul Munculnya Bintang Tsurayya Tanda Diangkatnya Wabah, Benarkah? Yang ditulis oleh Ismail Al-Fasiry.

Ismail yang menyitir juga hadits Ibnu Umar yang melarang jual beli buah sebelum hama tanaman hilang menyimpulkan bahwa yang menjadi pesan universal dari hadits-hadits yang menyebutkan terbitnya bintang di pagi hari dan terangkatnya hama adalah petunjuk untuk menghindari gharar dalam jual beli buah-buahan dan hasil pertanian. Bukan, sebagai jaminan diangkatnya wabah hama dengan munculnya bintang Tsurayya.

Larangan Rasulullah terhadap penjualan buah-buahan sebelum perginya hama muncul karena banyaknya perselisihan jual-beli buah-buahan di pasar Madinah karena banyaknya buah-buah yang cacat karena hama.

Kembali kepada penjelasan tentang Tsurayya yang disampaikan oleh Syech Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna as-Sa’aty dalam kitabnya Al-Fathur Rabbany dengan syarah (penjelasan)nya, Bulughul Amany, jilid XX, halaman 13 dan 14, menjelaskan bahwa bintang yang disebut di dalam hadits di atas bernama Tsurayya. Berikut penjelasan selengkapnya dari Syech Ahmad As-Sa’aty:

Matan hadits yang di jelaskan:

مَا طَلَعَ النَّجْمُ (8) صَباَحاً قَطٌّ وَبِقَوْمٍ عاَهَةٌ (9) إِلاَّ رُفِعَتْ أَوْخُفِّفَتْ (10)

Penjelasan:

(8) يَعْنِيْ الثُّرَيَّا فَإِنَّهُ اِسْمُهاَ بِالْغَلْبَةِ لِعَدَمِ خَفَائِهَا لِكَثْرَتِهَا (وقوله صباحا) أي عند الصبح.

Yaitu Tsurayya, begitulah namanya secara umum karena tidak tersembunyi karena banyaknya bintang tersebut. (Tentang pagi) maksudnya waktu subuh.

(9) العاهة تشمل المرض والوباء في النفس أو المال

‘Ahat mencakup penyakit dan wabah yang menimpa diri (manusia) dan harta.

(10) أي رفعت نهائيا أو أخذت في النقص والانحطاط

Maksudnya diangkat habis sekaligus atau secara bertahap, sedikit demi sedikit.

(قال العلماء) ومدة مغيبها نيف وخمسين ليلة لأنها تخفى لقربها من الشمس قبلها وبعدها فإذا بعدت عنها ظهرت في الشرق وقت الصبح، قيل أراد بهذا الخبر أرض الحجاز لأن الحصاد يقع بها في أيار وتدرك الثمار وتأمن من العاهة. فالمراد عاهة الثمار خاصة والله أعلم.

(Kata ulama’) masa ketidakmunculan (bintang tersebut) adalah lebih limapuluh malam. Ia tersembunyi karena kedekatannya dengan matahari, sebelum dan sesudahnya. Jika sudah menjauh dari matahari muncullah ia di timur pada waktu subuh. Dikatakan bahwa yang dimaksud dalam khabar (hadits) ini adalah negeri Hijaz, karena masa panen disana pada bulan Ayar (Mei). Buahnya sudah nampak dan sudah aman dari ‘ahat. Yang dimaksud dengan ‘ahat adalah ‘ahat buah-buahan secara khusus (hama). Wallahu a’lam.

Dari penjelasan tentang matan hadits dan penjelasannya dari beberapa sumber, maka dapa disimpilkan bahwa hadits tentang bintang atau Tsurayya yang terbiyt di pagi hari berkenaan dengan hama tanaman yang mewabah.

 

Hadits Tsurayya dan Pandemi Corona

Hadits tentang Tsurayya bukanlah hadits ramalan Rasulullah tentang peristiwa di masa depan yang belum pernah terjadi di zaman kehidupan Rasulullah atau zaman sebelum beliau lahir. Hadits tersebut adalah hasil amatan beliau terhadap peristiwa yang sudah terjadi berulang kali terkait dengan jadwal kemunculan bintang Tsurayya atau Pleiades atau Kartika yang rutin setiap tahun dan pergantian musim, khususnya di wilayah Hijaz.

Logika yang ada adalah bahwa memuncaknya suhu di musim panas ketika Tsurayya terbit di pagi hari memiliki andil yang sangat besar dalam menumpas hama penyakit yang menyerang tanaman.

Belum pernah ada riwayat yang membuktikan bahwa suatu wabah berupa penyakit yang menimpa manusia hilang dari suatu masyarakat ketika Tsurayya terbit di pagi hari. Di zaman Rasulullah pun pernah terjadi tha’un atau wabah atau pandemi. Dalam hal ini Rasulullah tidak menjelaskan bahwa pandemi yang menimpa masyarakat akan hilang ketika Tsurayya terbit di pagi hari. Bahkan Amr bin Ash yang berhasil menangani masalah pandemi di Negeri Syam pun tidak mengandalkan terbitnya Tsurayya di waktu subuh. Amr bin Ash menangani pandemi dengan cara distansi fisik.

Corona bukan hama tanaman. Virus Corona adalah penyakit yang menyerang manusia. Apakah suhu yang panas berpengaruh dalam menumpas virus corona? Para pakar kesehatan memberikan isyarat bahwa virus corona tidak serta-merta mati karena suhu iklim yang panas.

 

Penutup

Ketika artikel ini ditulis, ada pertimbangan yang berat antara menyampaikan kebenaran ilmiah atau membiarkan optimisme dan fikiran positif masyarakat semakin tumbuh dalam menghadapi pandemi Corona?

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya artikel ini ditulis dan dipublikasikan ke masyarakat. Biarlah masyarakat mengetahui hakekat sebenarnya agar mereka dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi pandemi Corona ini.

Ada beberapa simpulan yang bisa ditarik:

  1. Bintang yang terbit di pagi hari yang bernama Tsurayya atau Pleiades atau Kartika hanya sebagai tanda pergantian musim, yakni tibanya musim panas. Bukan bintang itu yang memiliki kekuatan menghilangkan wabah penyakit.
  2. Hadits tentang Tsurayya berkaitan dengan wabah hama tanaman. Tidak ada sama sekali hubungannya dengan wabah penyakit yang menimpa masyarakat.
  3. Untuk menghadapi pandemi Corona selayaknya tetap bersikap yang benar, yakni mengikuti arahan para ulama’ untuk bersikap seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan arahan pemerintah yang didukung oleh arahan para pakar kesehatan. Sila baca: Memilih Takdir.

Wallahu a’lamu bis showab, Wallahul musta’an.

Mari berbagi
  •  
  • 71
  •  
  •  
  •  
  •  
    71
    Shares
  • 71
    Shares
Komentar Anda:
Close Menu