Terapan Hadits Wabah di KSB. The Best Way to Face C19

Hadits Wabah

Hadits wabahYang dimaksud dengan hadits wabah adalah ajaran Rasulullah ketika terjadi wabah di suatu tempat. Dalam hal ini Rasulullah saw. menyampaikan ajaran:

إِذاَ سَمِعْتُمْ باِالطاَّعُوْنِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوْهاَ، وَإِذاَ وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهاَ فَلاَ تَخْرُجُوْا مِنْهاَ

Jika kalian mendengar ada wabah yang berjangkit di sebuah tempat maka jangan masuki tempat itu. Jika Kalian berada di tempat berjangkitnya wabah itu maka jangan keluar dari tempat itu. (HR. Bukhari).

الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَفِرُّوا مِنْهُ

Wabah Tha’un adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah Tha’un, maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya, dan jika Tha’un telah terjadi pada suatu daerah dan kalian disana, maka janganlah kalian keluar darinya. (HR. Muslim).

لاَ تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ

Janganlah kalian mencampurkan (unta) antara yang sakit dengan yang sehat. (HR. Bukhari).

Dalam istilah kekinian, hadits-hadits wabah tersebut dikatakan sebagai hadits tentang karantina pandemik, distansi fisik, bahkan bisa dijadikan dasar bagi pembatasan sosial dan lock-down, menutup suatu daerah.

Hadits wabah ketiga memang bicara tentang percampuran unta atau binatang secara umum, tetapi esensinya adalah tentang penularan penyakit.

Tempat yang dimaksud di dalam hadits wabah di atas bersifat umum jika ditinjau dari aspek cakupan atau luasannya. Bisa pada skala negara, provinsi, dan seterusnya, bahkan bisa sampai pada skala terkecil, yaitu suatu kawasan pemukiman penduduk.

Pelajaran yang dapat dipetik dari ketiga hadits wabah di atas adalah sebagai berikut:

  1. Penularan penyakit terjadi karena berbaurnya orang sakit dan orang sehat, karena virus yang menyebabkan penyakit bisa menular lewat cairan dari orang sakit yang kemudian bertransmini lewat sentuhan atau lewat udara dalam jarak dekat.
  2. Langkah yang efektif dalam mencegah penularan adalah dengan cara distansi fisik, menjaga jarak yang tidak bisa dijangkau oleh virus antara yang sakit dengan yang sehat.
  3. Distansi fisik yang paling aman adalah dengan mengarantina wilayah yang dilanda wabah. Wilayah yang dilanda wabah ditandai dengan adanya penduduk yang sakit di wilayah dimaksud.
  4. Penduduk di wilayah yang tidak dilanda wabah tidak dibatasi gerakannya kecuali satu: tidak masuk ke wilayah yang dilanda wabah.

 

Hadits Wabah dan Pandemi Corona

Tha’un yang disebut di dalam matan hadits wabah di atas berarti wabah atau pandemi secara umum, yaitu penyakit menular apa pun yang menjangkiti manusia dan menular dengan media apa pun, baik yang berdampak ringan bagi fisik manusia, berdampak pada cacat fisik, ataupun yang berdampak mematikan.

Berdasarkan pengertian terhadap diksi Tha’un di atas, maka hadits-hadits wabah tersebut dapat diterapkan juga pada pandemi corona yang sedang melanda di seluruh negara di dunia saat ini.

Beberapa negara dapat dikatakan cukup berhasil dalam menghadang penularan corona dengan cara melakukan karantina wilayah bahkan lockdown, beberapa negara tidak berani mengambil langkah lockdown dengan berbagai pertimbangan.

Salah satu pertimbangan yang mendasari keputusan lockdown atau karantina wilayah adalah ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang selama ini dipenuhi dari hubungan sosial ekonomi antar wilayah atau antar negara.

Jika sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan masyarakat bisa menimbulkan masalah lain yang dampak dominonya sampai kepada penjebolan dinding karantina wilayah dan lockdown itu sendiri, sehingga kebijakan lockdown atau karantina wilayah yang sudah diterapkan dan menguras sumberdaya menjadi sia-sia.

Untuk itu, kebijakan karantina wilayah atau lockdown sebaiknya tidak diberlakukan secara total, tetapi dilakukan secara parsial dan fokus ke sub wilayah yang memang secara faktual dijangkiti pandemi.

Masyarakat yang berada di wilayah yang sehat tetap diberi ruang untuk berproduksi sehingga perekonomian tidak lumpuh secara total.

Satu masalah yang menjadi misteri dalam menghadapi pandemi Corona adalah bahwa orang yang sudah tertular tidak menunjukkan gejala klinis pada masa awal inkubasi virus. Bahkan untuk orang yang memiliki stamina kesehatan yang cukup tinggi, bisa jadi selamat dari infeksi yang disebabkan oleh virus, tetapi orang tersebut menjadi inang bagi virus, seorang pembawa virus (virus carrier), sehingga memiliki potensi untuk menularkan virus kepada orang lain. Itu di satu pihak.

Di pihak lain, sampai tulisan ini disusun, belum ditemukan obat atau vaksin yang dapat menyerang langsung ke virus corona yang sudah masuk ke tubuh manusia. Sehingga upaya untuk menjamin seseorang bersih dari virus corona tidak bisa dilakukan secara mandiri. Dibutuhkan asistensi dari laboratorium dan tenaga kesehatan yang jumlah dan lokasinya sangat terbatas. Andaikan sudah ada pun tidak bisa dijangkau oleh semua orang, khususnya mereka yang tinggal di daerah-daerah pelosok.

Sistem penanganan wabah yang diajarkan oleh Rasulullah menjadi pilihan yang paling menjanjikan efektivitasnya untuk pemutusan rantai penularan Corona, yaitu karantina wilayah terfokus, sambil tetap menjaga agar perekonomian masyarakat tidak lumpuh secara total.

 

Penerapan Hadits Wabah di Kabupaten Sumbawa Barat.

ksbPenerapan Hadits Wabah di Kabupaten Sumbawa Barat dapat dilakukan dengan cara membagi wilayah Kabupaten Sumbawa Barat menjadi sel-sel terkecil yang disesuaikan dengan wilayah terkecil administrasi pemerintahan, yaitu dusun atau lingkungan.

Dusun atau lingkungan di dalam cakupan wilayah suatu desa atau kelurahan dikonsolidasi oleh Pemerintah Desa/Kelurahan.

Pemerintah Desa/Kelurahan harus dapat memastikan status kesehatan setiap dusun/lingkungan di wilayahnya, apakah dusun/lingkungan sehat atau dusun/lingkungan sakit? Dusun/lingkungan sakit segera dikarantina. Tidak boleh ada penduduk dari dusun/lingkungan sehat masuk ke dusun/lingkungan sakit dan tidak boleh ada penduduk di dusun/lingkungan sakit keluar. Karantina dusun/karantina sakit ditarget selama waktu yang dibutuhkan tergantung perkembangan keadaan.

Semua sumberdaya desa/kelurahan didukung oleh sumberdaya kecakatan dan kabupaten diarahkan untuk merubah status dusun/lingkungan yang sakit menjadi sehat. Ketegasan sangat dibutuhkan agar target perubahan status kesehatan dusun/lingkungan dapat tercapai pada waktunya.

Untuk menjamin kepatuhan masyarakat di dusun/lingkungan sakit, maka Pemerintah menjamin keterpenuhan kebutuhan pokok masyarakat, menjamin ketersediaan hal-hal yang dibutuhkan untuk akselerasi perubahan status dari sakit menjadi sehat. Dengan demikian, tidak ada hal yang dapat dijadikan alasan oleh penduduk di dusun/lingkungan sakit untuk keluar.

Masyarakat yang berada di dusun/lingkungan sehat diberi ruang untuk melakukan kegiatan ekonominya sehingga beban pemerintah untuk menjamin keterpenuhan kebutuhan pokok masyarakat berkurang dan sumberdaya yang dimiliki oleh pemerintah dapat difokuskan ke wilayah yang bermasalah.

Untuk tetap menjamin status sehat bagi dusun/lingkungan yang sehat, perlu dilakukan langkah-langkah preventif oleh seluruh masyarakat sebagai berikut:

  1. Masing-masing individu bersedia menjamin dirinya dalam keadaan sehat dan bukan sebagai inang virus corona. Hal ini dapat dikoordinir oleh Kepala Keluarga di bawah kendali Ketua Rukun Tetangga yang dipertanggungjawabkan kepada Kepala Dusun/Lingkungannya masing-masing. Termasuk dalam kesediaan tersebut adalah kesediaan menerima sanksi jika melakukan ketidakjujuran terkait jaminan kesehatan dan kebersihan diri dari virus corona.
  2. Masing-masing individu bertanggungjawab agar tempat kediaman dan aset yang dimiliki atau dikuasai tidak disinggahi oleh penduduk dari dusun/lingkungan yang sakit, atau oleh orang yang tidak terjamin kesehatan dan kebersihan dirinya dari virus corona.
  3. Masing-masing individu berpartisipasi dengan penuh tanggung jawab agar dusun/lingkungannya tidak dimasuki oleh orang dari dusun/lingkungan sakit atau oleh orang yang tidak terjamin kesehatan dan kebersihan dirinya dari virus corona.
  4. Masing-masing individu berpartisipasi dengan penuh tanggung jawab agar semua fasilitas umum yang ada di dusun/lingkungannya dapat dijamin kebersihannya dari virus corona.
  5. Pemerintah dari tingkat desa/kelurahan sampai tingkat kabupaten menyediakan mekanisme atau standar operasi dan prosedur pelaksanaan kewajiban setiap individu di wilayah sehat, termasuk bantuan ketegasan hukum.

Batasan dusun/lingkungan seperti yang digunakan dalam bahasan di atas bisa saja diubah sesuai kebutuhan, misalnya per gang, per kluster pemukiman, atau per RT. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki.

Untuk wilayah kabupaten, demi menjamin kondisi wilayah sehat yang ada, maka ajaran hadits wabah dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Menetapkan prinsip utama: orang dari tempat sehat tidak boleh masuk ke tempat sakit, dan sebaliknya orang dari tempat sakit tidak boleh masuk ke tempat sehat.
  2. Meminimalkan pintu keluar masuk. Hanya menyediakan pintu keluar masuk yang dapat efektif dipantau dan dikendalikan oleh pemerintah dan masyarakat.
  3. Membatasi akses bagi orang yang hendak masuk tanpa keperluan yang mendesak. Jika ada keperluan yang mendesak maka harus ada penjamin dari penduduk yang diperlukan dengan SOP yang ketat, di antaranya adalah pembatasan kontak dengan penduduk selain yang diperlukan.
  4. Membatasi akses keluar bagi penduduk tanpa keperluan yang mendesak. Jika ada keperluan mendesak di luar daerah, maka diberlakukan SOP yang ketat, di antaranya adalah catatan riwayat tempat yang disinggahi dan orang-orang yang ditemui.
  5. Peralatan transportasi yang mendukung perekonomian diberi akses dengan kawalan disertai SOP yang ketat, di antaranya rute perjalanan dan daftar toko yang disinggahi.

Kebijakan menjaga KSB tetap hijau dalam menghadapi wabah corona dapat diilustrasikan sebagai berikut:

hadits wabah

Dari ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa jika dalam satu kecamatan hanya ada satu atau dua dusun/lingkungan yang berstatus sakit, maka karantina hanya pada dusun/lingkungan yang sakit saja. Penduduk di dusun/lingkungan sehat masih diberi ruang untuk melakukan kegiatan ekonomi di semua wilayah yang sehat. Penanganan bisa lebih fokus.

Kata kunci dari penerapan hadits wabah dalam menangani pandemi corona di KSB adalah:

  1. Lokalisasi wabah.
  2. Penentuan target waktu.
  3. Pengawalan lalu lintas keluar masuk wilayah KSB.
Mari berbagi
  •  
  • 225
  •  
  •  
  •  
  •  
    225
    Shares
  • 225
    Shares
Komentar Anda: