Ar-Razzaq, Hanya 1 Sumber Rezeki

Sumber Rezeki Hanya 1: Ar-Razzaq

Memahami Makna Ar-Razzaq

Ar-RazzaqSalah satu dari 99 asma’ul husna (nama-nama yang indah) yang dimiliki oleh Allah adalah Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki). Dalam keyakinan tauhidul asma’ was shifat (Tauhid dalam nama dan sifat Allah) ditegaskan bahwa nama Ar-Razzaq mengandung arti bahwa hanya Allah satu-satunya Zat yang menjadi sumber rezeki bagi alam semesta ciptaan-Nya dan Dia terus-menerus melakukan aktifitas-Nya memberikan rezeki hingga sekarang dan masa yang tak kita ketahui.

Keyakinan tentang kandungan makna nama Ar-Razzaq tersebut wajib dipahami, diterima, dan diyakini oleh setiap orang yang beriman untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ironinya, mayoritas manusia yang telah mengaku beriman dan sangat hafal nama Ar-Razzaq justru lebih menyandarkan harapannya kepada selain Allah, bahkan sampai pada tahap menafikan Allah dalam masalah rezeki.

Rezeki itu apa?

Setiap kali terdengar kata rezeki, pikiran kita pada detik pertama segera terasosiasi kepada uang atau sesuatu yang bersifat materiil. Memang tak salah, tapi rezeki bukan terbatas hanya pada sesuatu yang materiil saja. Rezeki mencakup segala sesuatu yang diberikan oleh Allah Sang Pencipta kepada sekalian mahluk ciptaan-Nya sebagai sarana untuk menjalani kehidupan, bahkan kehidupan itu sendiri adalah rezeki dari Sang Pencipta. Umumnya rezeki dikaitkan dengan pemberian yang  bersifat baik, seperti kehidupan, kebahagiaan, usia, waktu, kesehatan, ilmu, kekuatan, kekuasaan, harta, anak, jodoh, dan sebagainya.

Ironi Sandaran Sumber Rezeki

Kata “Ironi” pada subjudul di atas menunjuk pada praktek keseharian dalam mencari rezeki setelah pemahaman dan keyakinannya bahwa Allah sebagai satu-satunya Ar-Razzaq, Zat Pemberi rezeki.

Suatu saat, ada seorang perempuan muslimah berjilbab yang menjadi karyawati di sebuah bank swasta mendapat teguran dari managernya tentang jilbab yang dikenakannya. Dia diultimatum untuk memilih pekerjaannya atau jilbabnya. Dalam kebingungan memilih opsi, beberapa orang di sekitarnya ada yang memberi pertimbangan bahwa Allah Maha Mengetahui masalah yang dihadapinya, maka sebaiknya dia menanggalkan jilbabnya daripada kehilangan sumber rezekinya.

Tentulah sikap tersebut salah, seperti salahnya sikap orang yang berani meninggalkan shalat dan/atau puasa karena mengejar target pendapatan harian, orang yang ‘terpaksa’ membantu penjualan dan distribusi makanan dan minuman haram, orang yang ‘terpaksa’ menjalani kemaksiatan, orang yang terlibat dalam sindikat mendapatkan harta dengan cara maksiat, dan lain sebagainya. Mereka adalah kelompok orang-orang yang mencari rezeki dengan cara yang dilarang dan dibenci oleh Ar-Razzaq. Dalam habitat mereka sering terdengar slogan ‘yang haram saja susah didapatkan, apalagi yang halal’.

Dahulu… para orang tua sering menasehati anak dan menantunya dengan kata-kata, “banyak anak banyak rezeki.” Masa kini, nasehat orang tua itu sudah dianggap salah dan mungkin menjerumuskan. Akibatnya banyak pemuda-pemudi yang akhirnya takut untuk menikah hanya karena memikirkan beban rumah tangga dan keluarga yang mesti ditanggungnya. Mereka yang sudah menikah takut punya anak dan berusaha meminimalkan jumlah anak. Keluarga yang ditinggal oleh bapak akan bingung memikirkan masa depannya, begitulah seterusnya. Mereka adalah kelompok orang-orang yang tertipu mata pengetahuannya tentang ‘sumber dan saluran’ rezeki.

Di sisi lain adalah kelompok orang yang bersikap instan dan menafikan prosedur. Dikisahkan pada masa khalifah Umar bin Khattab ra. ada seorang lelaki yang sejak subuh hingga dluhur terus melafalkan do’a di sebuah masjid. Umar bin Khattab memperhatikan orang tersebut dan mencoba mengetahui do’a apa yang dipanjatkan. Ternyata orang tersebut meminta rezeki. Umar lantas memarahi orang tersebut sambil berujar, “Sesungguhnya langit tidak akan menurunkan hujan emas atau pun perak. Kalau mau mendapat rezeki, pergilah ke pasar, bekerjalah! Tangan mana yang digerakkan (untuk mencari rezeki) akan mendapat rezeki.” Begitulah kira-kira ucapan Umar bin Khattab dalam bahasa kita. Orang tersebut dan sejenisnya adalah orang yang salah memahami makna dan cara tawakkal dan do’a.

Rezeki adalah jaminan Allah

Dalam Al-Qur’an Allah SWT sudah membuat statement pasti (QS. Hud: 6), “Dan tidak ada satu mahluk yang melata pun di muka bumi kecuali Allah menjamin rezekinya.” Kemurahan Allah Sang Maha Pemurah dan kasih-sayang Sang Rahman dan Rahim yang menjadi garansi atas terjaminnya kelangsungan hidup mahluk-Nya sampai tiba ajal masing-masing, termasuk di dalamnya jaminan atas rezeki bagi masing-masing.

Untuk sekedar hidup, kita tidak boleh sama-sekali untuk meragukan jaminan rezeki dari Allah. Tidak ada orang yang mati karena kelaparan, kehausan, atau kekurangan. Bukan pula kemiskinan, penderitaan, atau pun sakit, yang menyebabkan kematian. Banyak orang kaya dan tampak senang dalam hidupnya yang juga mati, banyak orang yang tak pernah kelihatan sakit lantas mati mendadak, banyak pula orang yang mati selepas berpesta-pora.

Selanjutnya, untuk meningkatkan kualitas hidup lebih dari sekedar hidup, manusia mestilah melakukan sesuatu yang selaras dengan apa yang diinginkannya. Kalau ingin kenyang mesti makan, kalau mau mengambil sesuatu di tempat yang agak tinggi mesti berdiri atau mungkin perlu sedikit melompat, kalau ingin mengejar sesuatru mesti berlari, begitulah seterusnya. Analoginya adalah kalau ingin memiliki dana untuk membiayai kebutuhan hidupnya mestilah bekerja mencari pendapatan, kalau mau memiliki ilmu mestilah belajar, kalau mau kuat fisik mestilah berolahraga, dan seterusnya sampai kepada kebahagiaan di dunia dan akherat.

Dari uraian di atas dapatlah diambil sebuah resume sederhana bahwa rezeki – seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi thalib ra – terbagi menjadi dua:

Rezeki yang diterima, yaitu rezeki yang dijamin oleh Allah untuk mahluknya secara umum, sekedar untuk memberi kelangsungan hidup.

Rezeki yang dicari, yaitu rezeki yang diterima oleh masing-masing individu sesuai dengan harapan dan usaha yang dilakukan secara khusus.

Selain kedua macam rezeki yang diberikan oleh Allah secara umum kepada semua manusia, atau tepatnya kepada seluruh jenis mahluk-Nya, terdapat pula satu jenis rezeki yang dikhususkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, yakni para hamba yang beriman dan beramal sholih (baca tulisan saya tentang amal sholeh di https://ustadzm.com/amal-shaleh/). Rezeki khusus tersebut berupa berkah (https://ustadzm.com/berkah/) dan taufik.

Pelajaran dari Kisah Nyata

Sebelum menutup tulisan tentang rezeki ini, saya perlu ungkapkan tiga buah kisah nyata tentang jaminan rezeki dari Allah SWT. Pertama tentang keberanian seorang pemuda untuk menikah, kedua tentang keberhasilan suatu keluarga besar, dan ketiga tentang nasib seorang istri dan anak-anaknya setelah sang suami dan ayah wafat. Semua nama yang disebut bukan nama sebenarnya. Di akhir kisah akan kita tarik pelajaran yang berharga.

Kisah Pertama.

Ahmad, seorang pemuda yang bernasib baik adalah karyawan sebuah bank daerah. Belum berkeluarga dan hidup bersama kedua orang tuanya. Gajinya sangat besar, namun setelah beberapa tahun bekerja di bank, rumah orangtua yang ditumpanginya tidak mengalami perubahan, masih sangat sederhana. Ahmad pun tak bisa menikmati gajinya sampai ujung bulan. Simpanannya pun tak bertambah saldonya.

Suatu saat, dia terpeleset membantu pengucuran kredit kepada seseorang yang ternyata tidak layak untuk mendapatkan kredit. Dia diberhentikan dengan hormat justru ketika dia sudah sampai kepada tahap akhir akan menikahi calon istrinya. Tekadnya tak berubah. Dia tetap melanjutkan rencananya untuk menikah meskipun dia tidak tahu bagaimana dia akan mencari nafkah untuk istri dan keluarganya.

Sisa simpanannya habis untuk biaya resepsi pernikahan, biaya kontrak rumah, dan belanja sebulan yang dia berikan kepada istrinya. Tak ada masa bulan madu, karena Ahmad segera berjalan kesana-kemari mencari kerja. Tak lama kemudian dia diterima menjadi karyawan sebuah koperasi milik perusahaan ekspedisi darat pengiriman barang antar pulau. Berdasarkan pengalamannya sebagai karyawan bank dia diserahi tanggung jawab pembukuan. Gajinya sangat kecil dibandingkan gaji banknya dulu, hanya seperlima. Apa mau dikata? Daripada tidak ada pemasukan sama sekali.

Aneh, gaji yang sedikit tersebut ternyata mencukupi kebutuhannya selama sebulan, bahkan ketika Allah menganugerahi seorang bayi, semua kebutuhan anaknya dapat disediakan, meskipun dalam kondisi serba sederhana.

Ketika Ahmad bertanya, “Bagaimana bisa seperti ini?”

Jawabannya adalah apa yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an (QS. An-Nur: 32), “Jika mereka miskin maka Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Kisah Kedua.

Sepasang orang tua (kedua-duanya sudah almarhum) dengan 11 orang anak. Sang bapak adalah pegawai negeri dan istrinya seorang guru TK. Ketika anak sulungnya berhasil menamatkan studi SMA dan meminta restu kedua orangtuanya agar dapat kuliah di perguruan tinggi, kedua orang tua tersebut termenung, mampukah mereka membiayai kuiah anak sulungnya dan di saat yang sama membiaya sekolah anak-anaknya yang lain? Sementara gaji mereka hanyalah gaji pegawai negeri.

Rasa sayang kepada anak dan tanggung jawab sebagai orang tua membuat kedua orang tua itu ‘nekad’memberi restu, diiringi tekad di hati mereka untuk mencari pendapatan tambahan dan beberapa trik lain untuk menghemat pengeluaran mereka.

Terlalu panjang untuk diceritakan apa yang terjadi, namun akhirnya kesebelas orang anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan strata 1 semua.

Ada sebuah keluarga muda yang kagum dan bertanya kepada sang ibu, “bagaimana bisa terjadi?” Sang ibu hanya bisa tersenyum, merapatkan kedua tangannya dan mengangkatnya, lalu mengusapkannya ke wajahnya seraya berkata, “alhamdulillah.”

Kisah Ketiga.

Sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah yang menjadi tumpuan keluarga, seorang ibu rumah tangga yang seluruh waktunya hanya untuk suami, anak-anak dan rumah tangganya, serta lima orang anak (2 laki dan 3 perempuan): si sulung sudah kuliah semester 3 dan si bungsu masih kelas 5 SD. Secara mendadak, sang ayah wafat meninggalkan anak istrinya tanpa rumah dan harta yang memadai. Sang ibu tak mampu berhenti menangis, bukan tidak ikhlas ditinggal suami tercinta, tetapi karena memikirkan masa depan kelima anaknya.

Dalam masa takziah, seorang kerabat memberinya uang dengan nilai yang tak seberapa besar disertai pesan agar uang tersebut dijadikan modal usaha. Tekad si ibu disertai tawakkal ternyata membuahkan hasil yang tak diduga. Kondisi ekonomi keluarga tersebut melejit sangat cepat, sehingga semua kelima anaknya berhasil menyelesaikan kuliah dan sudah berkeluarga semua. Semuanya hidup sejahtera.

Dari ketiga kisah di atas dapat ditarik bebrapa pelajaran sebagai berikut:

Rezeki dari Allah, bukan dari bapak, ibu, atasan, boss, pemerintah, orang kaya, donatur, dan lain sebagainya. Selain Allah wewenangnya hanyalah saluran rizki. Sumbernya hanya Satu, yakni Allah ar-Razzaq.

Allah akan menggenapkan rizki setiap hamba-Nya. Seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya di dunia telah genap diterima semuanya.

Allah memberikan rezeki kepada hamba-Nya melalui saluran yang dikehendaki. Jika suatu saluran sudah habis masa tugasnya, maka tugas penyaluran akan dilanjutkan oleh saluran yang lain. Artinya bahwa jatah rezeki seseorang tidak terpengaruh oleh keadaan salurannya. Saluran itu bisa saja hanya satu, tapi bisa juga lebih dari satu atau bahkan banyak saluran.

Jaminan rezeki khusus bagi mereka yang berusaha memenuhi ajaran Allah dan Rasul-Nya, seperti menikah demi menghindari maksiat, mencari ilmu, dakwah, menyebarkan ilmu, menyantuni anak yatim dan kaum dluafa’ lainnya, dan sebagainya.

Simpulan

Jika kita menghendaki – seperti yang seringkali kita bisikkan dalam do’a kita – rezeki yang luas, halal, thayyib, dan diberkati, maka sebaiknya kita berusaha untuk menepati keyakinan tauhid kita dalam hal Allah sebagai satu-satunya Ar-Razzaq, Zat Yang menjadi sumber rezeki, Yang dengan sepenuh rahmat-Nya akan mengucuri kita dengan rezeki. Cara terbaik adalah dengan terus bekerja tanpa melanggar aturan dan rambu-rambu Allah dan Rasul-Nya.

Sebaiknya kita tidak terjebak untuk melihat rezeki dari materi yang masuk kepada kita saja, tetapi harus juga mengingat keberkatan dari materi yang kita terima. Apalah gunanya masuk Rp 1 juta jika kemudian harus kita belanjakan untuk berobat sebesar Rp 900.000,-. Dalam hal ini pemasukan yang hanya Rp 500.000,- dan tidak dituntut belanja kesehatan lebih dari Rp 100.000,- menyisakan lebih banyak modal untuk dimanfaatkan bagi kebutuhan lain.

Agar keberkatan dapat terus mengiringi setiap rezeki yang kita terima, maka selayaknya kita mengolahnya (mendapatkannya dan menggunakannya) sesuai ajaran Allah dan Rasulnya, penuh takwa, penuh syukur, penuh ridla, bersih dari syubhat, dan jauh dari maksiat.

Bukankah Allah sudah menegaskan dengan firman-Nya (QS. At-Thalaq: 2 – 3), “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menyediakan baginya jalan keluar (dari masalahnya), dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” Ayat-ayat inilah yang kemudian terkenal dengan nama Ayat 1000 Dinar.

Wallahu a’lam.

Pasir Gudang, 10 Mei 2011

 

Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda: