Puisi Lapar

Puisi Lapar

Puisi Lapar merupakan hasil kontemplasi dari ibadah shiyam di saat menyusuri rahmat di bulan Ramadhan.

Lapar

————————————

Pak… Minta makan, Pak…

Mulut kelaparan anak istriku sudah menganga

menunggu sesuap harapan dari orang-orang yang menyimpan milik kami

tapi ketika mereka lewat, mulut ketamakan mereka pun menganga juga

lebih lebar dari mulut-mulut kami

dan semua milik kami pun dilahapnya tanpa sisa

kaki-kaki kami terbirit-birit penuh luka

karena kami tak ingin menjadi mangsa

dan ketika kami terduduk memandang darah dan daging di ujung jari

kami menelan ludah yang sudah kering dengan terpaksa

karena kami tidak ingin menjadi kanibal

 

Bu… Minta makan, Bu…

Perut kelaparan anak istriku sudah membuncit

berisi harapan kosong yang ditiupkan oleh topeng-topeng palsu

bosan kami menunggu uluran tangan yang tak jijik menyentuh

karena perut kesombongan mereka yang lebih buncit

terlebih dahulu menggusur kami dari jalur yang menjadi hak kami

gigi-gigi kami tak bisa mengunyah apa yang mereka nikmati

karena perut kami hanya terbiasa dengan makanan

yang diikhlaskan, yang dihalalkan

Jika sewaktu-waktu terdengar alunan suara dari rongga perut kami

Aku tak yakin, shalawatkah itu? atau sebuah tangisan pilu?

 

Hei… Aku minta makan…!

Mana mungkin aku bisa membaca untuk mengisi otakku

Jika darahku mengalir lamban tak punya daya?

Mana mungkin aku bisa menggoreskan karya menjunjung panji

Jika ototku meringkuk pedih kehabisan tenaga?

Mana mungkin aku bisa menggiring bola melambungkan prestasi

Jika menanggung badan pun aku sudah tak mampu?

Oooh…! Kalian tak mendengar suaraku yang tak berbunyi

Tapi bagaimana aku bisa mengantarkan pesan ke telinga tuli?

Bagaimana aku bisa mengirim sandi ke mata yang tak sudi?

Ketika aku sudah tak punya apa-apa lagi

 

Tuhan…!

Aku lapar…

Anak istriku lapar…

Sepanjang waktuku adalah apa yang mereka sebut Ramadhan

Aku heran mengapa Kau datangkan lagi Ramadhan bagi mereka

yang tidak tahu bahwa aku lapar, bersama anak istriku?

Maafkan aku, Tuhan, jika aku tak sopan

Tapi… katakan padaku bahwa Engkau pun lapar

agar aku bisa menghibur anak istriku untuk menahan lapar.

 

Taliwang, 7 Agustus 2011

AMH

Mari berbagi
  •  
  • 157
  •  
  •  
  •  
  •  
    157
    Shares
  • 157
    Shares
Komentar Anda: