Pilihlah Takdir yang Baik – Menghadapi Dreadful Covid-19

MEMAHAMI TAKDIR

Salahsatu rukun iman adalah percaya kepada Qadla’ dan Qadar. Percaya kepada takdir.

Dalam memberikan penjelasan tentang Qadla dan Qadar Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Para ulama mengatakan, al-Qadha adalah ketetapan global secara keseluruhan di zaman azali. Sementara Qadar adalah bagian-bagian dan rincian dari ketetapan global itu. (Fathul Bari, 11/477)

Definisi tersebut di atas merupakan salah satu pendapat dari sekian pendapat yang berbeda, namun esensinya sama bahwa apa pun yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi di alam semesta ini adalah qadla dan qadar Allah atau yang lebih akrab dengan sebutan Takdir.

Dalam upaya memahami takdir muncul dua aliran yang ekstrim:

  1. Qadariyah, yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya memiliki kebebasan berkehendak dan menentukan pilihan perbuatannya. Untuk itu Allah memberi manusia akal dan atas dasar pilihannya tersebut manusia akan dituntut pertanggungjawaban amal perbuatannya.
  2. Jabariyah, yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya berada pada posisi ‘terpaksa’ menjalani kehidupannya. Semua nasib dan peristiwa yang akan dialami oleh manusia sudah tertulis dalam ketentuan takdir. Kewajiban manusia hanyalah melaksanakan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan akan mendapatkan pahala dan ketidaktaatan akan menghasilkan dosa.

2 TakdirPerdebatan antara dua kubu yang sama-sama ekstrim tersebut berkepanjangan dan tidak pernah tuntas. Untuk itu para ulama’ menasehatkan agar kaum muslimin keuar dari perdebatan tentang takdir. Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengatakan bahwa Takdir itu jalan yang gelap maka jangan dilalui, ibarat laut yang dalam maka jangan diselamimerupakan Rahasia Allah maka jangan membebani diri untuk mengungkapnya.

Namun demikian, pemahaman terhadap takdir merupakan satu kebutuhan agar kaum muslimin dapat bersikap dengan benar ketika menghadapi situasi dan kondisi yang berkaitan erat dengan nasib yang akan datang.

Untuk kepentingan tersebut para ulama ahlu sunnah wal jamaah menjelaskan bahwa takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz bukanlah paksaan Allah. Yang tertulis adalah kumpulan ilmu Allah yang tak terbatas di zaman azali tentang segala hal yang akan terjadi melalui serangkaian peristiwa yang selaras dengan hukum alam yang akan Allah Ciptakan.

Jangan bayangkan ketidakterbatasan ilmu Allah. Namun untuk mencoba memahami, dapat dilihat dari kemampuan seorang guru yang memiliki pengalaman mendidik puluhan tahun. Guru itu bisa memberikan prediksi tentang seorang murid yang baru masuk sekolah, apakah si murid itu akan naik kelas atau tidak, dan bagaimana nasib murid tersebut beberapa tahun yang akan datang. Meskipun tidak selalu tepat, tapi kebanyakan prediksinya mendekati kenyataan.

Seorang dokter yang sudah menghadapi ribuan pasien dengan berbagai keluhan selama puluhan tahun. Barangkali tidak perlu lagi pasien tersebut menjelaskan keluhannya panjang lebar, dokter pun sudah mengetahui penyakit apa yang diderita oleh si pasien. Bahkan banyak kasus seorang dokter ahli yang sangat berpengalaman mampu memberikan prediksi kondisi kesehatan seorang pasien untuk beberapa waktu yang akan datang.

Hal yang sama terjadi juga pada para profesional yang memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam memberikan prediksi tentang hal yang terkait dengan profesinya.

Jika manusia yang ilmunya sangat terbatas mampu mengetahui berdasarkan teori ilmiyah peristiwa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang dengan tingkat validitas yang cukup tinggi, maka tingkat validitas ilmu Allah Yang Mahamengetahui diyakini sangat tepat 100%; dan ketidakterbatasan ilmu Allah Yang Mahamengetahui pun menjangkau semua peristiwa yang akan terjadi hingga batas masa yang disebut dengan abadi di bawah Keabadian Allah Al-Akhir.

Semua yang Allah ketahui itulah yang ditulis di Lauhul Mahfudz. Setelah selesai penulisan Lauhul Mahfudz disegel, ‘cap stempel’. Itulah Qadla’.

 

MEMILIH TAKDIR

Seperti dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah bahwa takdir adalah rahasia Allah, maka yang dimaksud adalah qadla’ yang tertulis itulah yang menjadi rahasia Allah. Rahasia tersebut tidak akan terungkap kecuali setelah pelaksanaannya. Itulah Takdir.

Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui rahasia takdir kecuali diberitahu oleh Allah. Yang masuk dalam misteri rahasia takdir tersebut adalah: rezeki, amal perbuatan, ajal, dan nasib.

Rahasia rezeki contohnya. Kaya ataupun miskin sama-sama takdir. Orang menjadi kaya karena takdirnya. Orang menjadi miskin karena takdirnya.

Dalam koridor hukum alam yang merupakan sunnatullah. Orang menjadi kaya karena rajin bekerja, giat berusaha, tidak malas, dan tidak menghambur-hamburkan harta untuk kemubadziran. Sedangkan orang yang malas bekerja, malas berusaha, dan suka memubadzirkan harta akan terjerumus dalam kemiskinan.

Jika kandungan dari dua paragraf di atas digabungkan, maka takdirnya orang kaya diperoleh melalui serangkaian usaha yang sesuai dengan hukum alam, yakni bekerja dan berusaha, serta menggunakan harta untuk hal-hal yang manfaat dan produktif. Bisa dikatakan bahwa orang kaya memilih takdirnya dengan menempuh jalur yang benar.

Jika logika di atas dibawa ke misteri ajal, dapat dikatakan bahwa ada bagian yang terkait dengan kematian yang bisa dipilih.

Ada tiga hal yang terkait dengan kematian yang semuanya merupakan rahasia Allah, yaitu waktu, tempat, dan kondisi kematian. Waktu dan tempat merupakan rahasia yang dipegang sepenuhnya oleh Allah. Untuk dua hal ini Allah tidak menuntut pertanggungjawaban manusia.

Terkait dengan kondisi kematian, meskipun juga menjadi rahasia Allah, namun di dalamnya Allah meletakkan peluang bagi manusia untuk menentukan pilihan. Apakah memilih kondisi ketaatan atau kemaksiatan? Apakah memilih kondisi sedang pasrah dan menyerah atau kondisi sedang berusaha dan tawakkal?

Pilih TakdirOrang yang mati dalam ketaatan adalah takdir. Orang yang mati saat melakukan maksiat juga takdir. Mau pilih kondisi takdir kematian yang bagaimana?

Orang yang mati dalam keadaan pasrah dan menyerah adalah takdir. Orang yang mati dalam keadaan upaya sampai akhir dan tawakkal adalah takdir. Pilih kondisi takdir yang mana?

Orang yang kehilangan sepedamotor karena diparkir tanpa pengaman adalah takdir. Orang yang sepedamotornya selamat dari pencurian karena diberi pengaman secukupnya adalah takdir.

Mengapa kedua kondisi yang berlawanan tersebut dinyatakan sebagai takdir? Karena memang apa yang akan terjadi pada diri manusia tidak diketahui sebelumnya. Dan jika kemudian terjadi salahsatu opsi dari dua kemungkinan yang ada. Itulah takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, karena apa yang akan terjadi pasti tidak akan menyalahi qadha’ di Lauhul Mahfudz.

Itulah sebabnya Rasulullah saw. mengajarkan: Ikat untamu dan bertawakkallah! Artinya: jangan mengaku tawakkal jika belum mengikat unta! Karena setidaknya, jika unta sudah diikat, menandakan bahwa unta itu dimiliki oleh seseorang. Sedang bila unta tidak diikat, menandakan bahwa unta itu bebas, bukan milik seseorang.

Tawakkal yang benar adalah memasrahkan hasil dari usaha yang sudah dilakukan.

 

PILIHAN TAKDIR MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

Covid-19Pandemi Covid-19 muncul bersamaan dengan fajar tahun 2020 dari Wuhan Cina. Menyebar dengan sangat pesat ke hampir seluruh negara di dunia. Kecepatan penyebarannya sangat mengejutkan. Kurang dari 100 hari ratusan ribu manusia terjangkit wabah sebelum para pakar kesehatan berhasil menemukan obatnya. Yang lebih merepotkan bahwa penularan Covid-19 menyerupai hantu, karena virus carrier Covid-19 tidak menunjukkan tanda-tanda fisik permulaan yang khas.

Rasa takut pun menyebar bagai angin menerpa seluruh manusia di muka bumi.

Dalam menghadapi pandemi yang hanya mengandalkan daya imunitas masing-masing orang, para pakar kesehatan merekomendasikan langkah karantina bagi daerah yang sudah positif terjangkit,  serta langkah social distancing dan lock down bagi daerah yang belum positif terjangkit.

Ketiga cara tersebut memang efektif terbukti dalam sejarah penanganan pandemi. Bahkan Rasulullah pun mengajarkan: “Jika kalian mendengar adanya tha’un mewabah di suatu daerah, jangan masuk ke daerah itu; Jika kamu berada di daerah yang terjangkit, jangan keluar dari daerah itu!” (HR. Bukhari).

Social DistancingAmr bin Ash pada tahun 18 H, ketika mendapat tugas menjadi gubernur Syam (sekarang: Syiria) menggantikan Abu Ubaidah bin Jarrah yang wafat akibat tha’un yang mewabah di Syam, melakukan dua gebrakan sekaligus: Lock Down dengan menutup pintu Syam sehingga tidak ada yang keluar atau masuk Syam, dan Social Distancing dengan memerintahkan penduduk Syam untuk hidup di bukit-bukit atau di tempat-tempat terpencil, keluarga demi keluarga, mengurangi komunikasi yang tidak perlu, dan melarang pertemuan-pertemuan massa. Akhirnya pandemi Tha’un di Syam tertangani dalam hitungan pekan.

Masalah yang muncul kemudian terkait dengan pelaksanaan ibadah yang dilakukan secara berjamaah: shalat jamaah 5 waktu di masjid bagi kaum muslimin (lelaki) dan shalat jum’at. Kebijakan social distancing tentu bertentangan dengan ajaran berjamaah. Hal ini yang kemudian memicu sebagian orang untuk bereaksi ekstrim, dengan mengambil sikap melawan ketakutannya terhadap virus Covid-19 dan menolak kebijakan social distancing.

Untuk memberikan landasan religi bagi sikapnya tersebut digunakanlah ajaran dan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits tentang ketauhidan bahwa hanya Allah yang patut ditakuti. Hanya Allah tempat berlindung dari segala makhluk-Nya. Hanya Allah yang bisa menolong dari segala bahaya yang ditimbulkan oleh makhluk-Nya. Bahwa ajal seseorang sudah ditetapkan dan malaikat maut tidak akan salah sasaran dalam melaksanakan tugasnya.

Ajaran yang dijadikan dasar sikap tersebut sangat benar. Yang kurang tepat adalah memaksakan ajaran dan dalil-dalil naqly dengan mengabaikan ajaran dan dalil-dalil naqly yang lain yang juga berkaitan dengan masalah menghadapi pandemi.

Beberapa hari sebelum Khalifah Umar bin Khattab menugaskan Amr bin Ash menjadi gubernur di Syam pada tahun 18 H, Khalifah Umar dan rombongan sahabat dari Madinah melakukan perjalanan dinas ke Syam. Di perbatasan Syam, mereka ditemui oleh sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah yang menjadi gubernur Syam. Namun kemudian Khalifah Umar mendapat informasi bahwa di Syam sedang berjangkit pandemi.

Setelah meminta saran dari sahabat yang datang dari Madinah, Khalifah Umar memutuskan untuk membatalkan masuk ke Syam dan kembali ke Madinah. Tentu Gubernur Abu Ubaidah kecewa dan berkata: “Apakah kalian lari dari takdir?”

Khalifah Umar menjawab: نَفِرُّمِنْ قَدَرٍ إِلىَ قَدَرٍ    (kita lari dari suatu takdir menuju takdir yang lain).

Perdebatan tersebut akhirnya berhenti ketika sahabat Abdurrahman bin Auf mengucapkan hadits Nabi yang mengajarkan sistem karantina tersebut di atas.

Terjangkit wabah adalah takdir, selamat dari wabah adalah takdir juga. Takdir manakah di antara kedua kemungkinan tersebut yang menunggu rombongan Khalifah Umar jika mereka jadi masuk ke negeri Syam? Tidak ada seorang pun yang tahu. Kemungkinannya 50%-50%.

Di sisi lain, Jika mereka kembali ke Madinah, kemungkinan mereka selamat dari wabah mendekati 100%. Itu pun takdir juga.

Peristiwa yang dialami oleh Khalifah Umar bin Khattab dapat direfleksikan ke kondisi kekinian. Terjangkit Covid-19 adalah takdir. Selamat dari Covid-19 adalah takdir juga.

Tinggal memilih takdir selamat sehat wal afiat dari Covid-19? Atau memilih takdir terjangkit Covid-19?

Jika memilih takdir selamat dari Covid-19 maka harus menapaki jalur sunnatullah atau hukum alamnya, yaitu melakukan hal-hal yang disarankan oleh pakar kesehatan. Menjaga kesehatan diri, meningkatkan daya imunitas diri, menjauhi sumber-sumber pandemi, dan mengambil jarak dari sesama yang belum diketahui kepastiannya, apakah bebas dari Covid-19 atau sebagai virus carrier.

 

LA DLARARA WA LA DLIRAARA

Ungkapan La Dlarara wa La Dliraara adalah matan sebuah hadits Rasulullah yang sangat penting dan dijadikan salahsatu kaidah yang asasi dalam usul fiqh dan hukum Islam. Maksud yang mudah untuk dipahami adalah “Tidak boleh ada bahaya yang menimpa seseorang dan tidak boleh ada bahaya yang disebabkan oleh orang itu”; Tidak boleh saling menimbulkan bahaya bagi semua pihak.

Bahasan tentang hadits di atas sebagai tambahan atas bahasan tentang upaya menghadapi Covid-19 yang sudah sampai kepada seruan agar hanya takut kepada Allah dan jangan takut terhadap virus corona.

Sikap hanya takut kepada Allah memang sikap yang sangat tepat dan merupakan sikap yang paling dasar dalam keimanan. Namun Allah pun membekali manusia dengan rasa takut terhadap segala sesuatu yang berpotensi membahayakan hidupnya untuk menjaga kehidupan manusia itu sendiri.

Takut terhadap segala sesuatu yang bisa membahayakan kehidupan adalah sesuatu yang manusiawi, sesuai fitrah. Untuk itulah Allah mengajarkan cara berlindung dari bahaya yang ditimbulkan oleh sebagian mahluk-Nya seperti yang tertera di QS. Al-Falaq 1-2:

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقٍ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ.

Katakan, aku berlindung kepada Tuhan Penguasa waktu fajar, dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.

Kembali kepada implementasi hadits La Dlarara wa La Dliraara di atas, dapat dijelaskan bahwa matan hadits tersebut mengandung dua aspek: pertama, aspek tidak mendapatkan bahaya; dan kedua, aspek tidak menimbulkan bahaya.

Jika seseorang sudah memasrahkan hidupnya dengan berkeyakinan bahwa takdirnya ada di tangan Allah, kemudian dia berkumpul dengan banyak orang, maka pada aspek pertama dia sudah tidak ada masalah. Andaikan dia tertular pun, sudah tidak bisa menimpakan kesalahan pada pihak lain, karena dengan sepenuh kesadaran dan kemauannya sendiri dia berani menghadapi segala risiko. Syukurlah kalau dia selamat dari ketertularan.

Pada aspek kedua, sudahkah dia yakin bahwa dirinya bersih dari Covid-19? Yakinkah dia bukan sebagai pembawa virus (virus carrier) yang harus dibuktikan dengan surat keterangan ahli kesehatan? Jika tidak yakin, dan dengan takdir Allah ternyata dia adalah seorang virus carrier, kemudian berkumpul dengan banyak orang, bersentuhan, dan jika pada saat itu takdir menentukan ada orang yang tertular virus yang dia bawa, maka saat itu dia sedang melakukan dliraar (membahayakan orang lain). Dia melakukan pelanggaran terhadap prinsip La Dlarara wa La Dliraara.

Bukankah tujuan ibadah jama’iyyah adalah untuk mengutamakan kepentingan sosial, kepentingan bersama daripada kepentingan individu, kepentingan pribadi? Bukankah kelebihan 27 derajat didapatkan karena muamalah sosial?

 

Allahu a’lam bis showab, wallahul musta’an.

 

Taliwang, 20032020

Mari berbagi
  •  
  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares
  • 14
    Shares
Komentar Anda:
Close Menu