Menghadapi Wabah Covid-19

Khutbah Jum’at, 20 Maret 2020, Masjid Agung Darussalam KTC Taliwang

Covid-19

Wabah Coronavirus Desease 19 melanda seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Diperlukan penanganan yang komprehensif dan saling mendukung antara semua lini kehidupan, termasuk di bidang keagamaan.

 

Khutbah Pertama

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Dalam kesempatan hari yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah dengan selalu berusaha menjalankan semua perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi semua larangan Allah dan Rasul-Nya, serta waspada dan hati-hati terhadap hal-hal yang masih syubhat dan tidak jelas hukumnya agar kita tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Di dalam kitab suci-Nya Allah SWT berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti (bentuk tasbih) mereka. Sesungguhya Dia adalah maha penyantun lagi maha Penyayang.”

(QS. Al-Isra’:44)

 

Beberapa bulan terakhir ini kita umat manusia mendapatkan musibah dalam skala global berupa wabah penyakit menular yang muncul tiba-tiba dan menular dengan sangat cepat ke seluruh penjuru dunia sehingga sampai sekarang para dokter dan ahli kesehatan belum mampu menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Kondisi ini kemudian menebarkan rasa takut di kalangan kita. Ada yang berlebihan rasa takutnya sehingga panik, mengisolasi diri dari pergaulan dan kehidupan, serta menumpuk persediaan makanan dan minuman sehingga hampir-hampir tidak menyisakan bagi orang lain.

Sebaliknya, ada juga yang keluar dari rasa takut, membuang rasa takut, dan dengan sangat berani bertindak ceroboh dan tidak menghiraukan wabah tersebut.

Kedua sikap yang ekstrim tersebut bukanlah sikap yang benar menurut ajaran Islam. Islam mengajarkan sikap yang wajar dalam menghadapi musibah berupa wabah penyakit, sikap yang memadukan antara iman dan ilmu pengetahuan.

 

Zumratal mukminin rahimakumullah!

Di masa Rasulullah pernah terjadi pandemi yang disebut tha’un, penyakit menular yang ganas dan mematikan. Dalam hal ini Rasulullah saw. menyampaikan ajaran:

إِذاَ سَمِعْتُمْ باِالطاَّعُوْنِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوْهاَ، وَإِذاَ وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهاَ فَلاَ تَخْرُجُوْا مِنْهاَ

Jika kalian mendengar ada wabah yang berjangkit di sebuah tempat maka jangan masuki tempat itu. Jika Kalian berada di tempat berjangkitnya wabah itu maka jangan keluar dari tempat itu. (HR. Bukhari).

Hadits tersebut mengajarkan kepada kita tentang sistem karantina dan sistem lockdown untuk mengendalikan suatu wabah agar tidak menular luas dan dapat ditangani.

Tahun 18 H. Khalifah Umar bin Khattab bersama rombongan sahabat melakukan perjalanan dinas ke Syam (Iraq). Di perbatasan mereka ditemui oleh sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah yang menjadi gubernur Syam. Namun kemudian Khalifah Umar mendapat informasi bahwa di Syam sedang berjangkit pandemi. Setelah meminta saran dari sahabat yang datang dari Madinah Khalifah Umar memutuskan untuk membatalkan masuk ke Syam dan kembali ke Madinah. Tentu Gubernur Abu Ubaidah kecewa dan berkata: “Apakah kalian lari dari takdir?”

Khalifah Umar menjawab: نَفِرُّمِنْ قَدَرٍ إِلىَ قَدَرٍ    (kita lari dari suatu takdir menuju takdir yang lain).

Perdebatan tersebut akhirnya berhenti ketika sahabat Abdurrahman bin Auf mengucapkan hadits Nabi yang mengajarkan sistem karantina tersebut di atas.

Taqdir meskipun sudah tertulis di lauhil mahfudz, merupakan rahasia yang tidak akan diketahui kecuali setelah qadla’, yaitu terjadinya taqdir.

Terjangkit wabah adalah takdir, selamat dari wabah adalah takdir juga. Takdir manakah di antara kedua kemungkinan tersebut yang menunggu rombongan Khalifah Umar jika mereka jadi masuk ke negeri Syam? Tidak ada seorang pun yang tahu. Kemungkinannya 50%-50%.

Di sisi lain, Jika mereka kembali ke Madinah, kemungkinan mereka selamat dari wabah mendekati 100%. Dalam hal ini Rasulullah mengajarkan:

دَعْ ماَ يُرِيْبُكَ إِلىَ ماَلاَ يُرِيْبُكَ

Tinggalkanlah yang meragukanmu menuju yang tidak meragukanmu.’”

(HR. Tirmidzi, An-Nasa’i)

 

Namun demikian, perlu diingat bahwa hadits Nabi tentang wabah tersebut diawali dengan kata syarat (إِذاَ) yang berarti jika, yaitu jika wabah sudah berjangkit di suatu daerah. Dengan demikian jika suatu daerah belum positif terjangkit wabah, maka yang diperlukan adalah kewaspadaan agar wabah yang terjadi di daerah lain tidak menular ke daerah yang belum terjangkit.

Berkenaan dengan kondisi di Kabupaten Sumbawa Barat yang alhamdulillah masih belum terjangkit wabah, perkenankan saya sampaikan beberapa sikap yang seharusnya kita ambil sebagai berikut:

  1. Kembali meyakini bahwa semua peristiwa di alam semesta ini terjadi atas izin dan ketetapan dari Allah SWT.

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah 51)

  1. Kembali meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah makhluk ciptaan Allah SWT.

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti (bentuk tasbih) mereka. Sesungguhya Dia adalah maha penyantun lagi maha Penyayang.” (QS. Al-Isra’:44)

Virus Corona pun makhluk Allah, maka kita hendaklah meminta pertolongan kepada Allah dari keburukan yang ditumbukan oleh Makhluk-Nya.

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. (QS. Al-Falaq 1-2)

  1. Menyikapi bahwa wabah ini merupakan bala’ atau musibah dari Allah. Bukan sekedar peristiwa alam biasa.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (QS. Al-Baqarah 155-156).

Ketika terjadi musibah, baik pada diri kita ataupun pada orang lain, hendaknya kita segera menundukkan jiwa kita di hadapan Allah. Kita perbanyak istighfar memohon ampunan dosa, kita perbanyak amal kebaikan agar kita diselamatkan dari musibah. Serta kita jauhkan diri kita dari sikap sombong dan menantang musibah, karena sesungguhnya Allah sangat marah terhadap setiap kesombongan.

  1. Waspada dan menjaga diri kita, keluarga, dan masyarakat dengan melakukan upaya manusiawi yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Untuk masalah wabah, mari kita perhatikan dan ikuti saran dan arahan para pakar kesehatan melalui pemerintah.

Cara yang tepat dalam bertawakkal adalah mengikuti alur sebab-akibat. Melaksanakan dahulu ikhtiar manusiawi, selebihnya kita pasrahkan kepada Allah. Demikianlah Rasulullah mengajarkan: Ikatlah dulu untamu, baru tawakkal!

  1. Selain memperkuat daya imun fisik jasmani, mari kita perkuat juga daya imun ruhani dengan memperbanyak do’a dan zikir. Salah satu do’a yang bisa dipraktekkan tersebut dalam sebuah hadits:

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ

Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: bismillahilladzi laa yadlurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa la fis samaa’ wa huwas sami’ul ‘alim (dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan ada apa pun yang membahayakannya.

(HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

 

Jamaah Jum’at rahimakumullah!

Terkait dengan upaya menghadapi wabah Corona, Majelis Ulama Indonesia sudah menerbitkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 yang isinya cukup komprehensif dan bisa dijadikan acuan dalam bersikap, khususnya dalam pelaksanaan ibadah.

Mari kita hadapi Pandemi Covid-19 ini secara rasional dan terukur, tidak abai tapi juga tidak lebay. Semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah SWT dan diselamatkan dari berbagai keburukan yang ditimbulkan oleh makhluk-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى القُرآنِ الكَرِيْم، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا ِفيْهِ مِنْ الآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْم، وَتَقَبَّل مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ المسْلِمِيْنَ وَ المسْلِمَات، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

 

Khutbah Kedua

الحمدُ ِلله، والصلاةُ والسلامُ علىُ رسولِ الله وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ ومَنْ وَالاَه، أشهد أن لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وحْدَهُ لاَ شَريِكَ لَه جَلَّ ِفيْ عَلاَه، وأشهد أن محمداً عَبْدُهُ ورسُولُه ومجْتَباه، صلى اللهُ عليهِ وعلى آلِهِ وصحبِه حمَلَةِ دَعْوَتِهِ وَهُدَاه. أما بعد

أيها المسلمون ـ اتقوا الله حَقَّ التَّقْوَى، ورَاقِبُوهُ في السِّرِّ والنَّجْوَى

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ ، يَآ أَيُّهاَ الّذَيْنَ آمَنُوْا صّلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْماً

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْساَنٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ للِمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِناَتِ، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلماَتِ، اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ أَنْتَ سمِيْعٌ قَرِيْبٌ مجِيْبُ الدَّعَواَتِ وَقاَضِيَ اْلحاجاَتِ.

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَاْلمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ ، أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

رَبَّناَ آتِناَ فيِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفيِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ الناَّرِ

سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَماَّ يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلىَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَالحمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعاَلمِيْنَ

عِباَدَ اللهِ ! إِنَ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْساَنِ وَإِيْتاَءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشاَءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

فَاُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْألُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أكْبَر، وَالله ُيَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ، أقِيْمُوْا الصَّلاَةَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Sila baca: Syahid karena Covid-19

Mari berbagi
  •  
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
  • 6
    Shares
Komentar Anda:
Close Menu