Menepati Do’a Al-Fatihah 7

Khutbah Jum’at tentang Al-Fatihah 7

Khutbah Jum’at dengan Judul Menepati Do’a Al-Fatihah 7 disampaikan di Masjid Agung Darussalam Kamutar telu Center (KTC) Taliwang KSB NTB pada hari Jum’at, 8 Februari 2019, dengan tujuan mengajak jamaah untuk tidak merayakan Valentine’s Day.

Fatihah 7

Khutbah Pertama

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا وَيُنذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ ُمحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ كَماَ صلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَباَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدِناَ إِبْراَهِيْمَ وَعَلىَ آلِهِ

أَماَ بَعْدُ

قاَلَ اللهُ عز وجل : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

وقال أيضا : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jama’ah Jum’at rahimakumullah!

Mari kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah dengan berupaya menjalankan seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi seluruh larangan Allah dan Rasul-Nya, serta senantiasa berhati-hati dalam hal-hal yang belum jelas. Dengan demikian semoga kelak ketika ajal kita tiba, kita dapat menghadap kepada Allah dalam keadaan muslim, dalam keadaan berserah diri sepenuhnya.

 

Jama’ah Jum’at rahimakumullah!

Salah satu rukun shalat yang harus kita baca adalah membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalat kita. Jika kita tidak membacanya maka shalat kita batal karena kita tidak menggenapi rukun shalat.

Dua ayat terakhir dari surat Al-Fatihah adalah rangkaian doa kita yang berbunyi:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ   صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, bukan pulan jalan orang-orang yang sesat.

 

Orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah adalah mereka yang disebut dalam surat An-Nisa’ 69:

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul maka dia bersama orang-orang yang telah mendapat nikmat dari Allah, yaitu para Nabi, para siddiqin, para syuhada’, dan orang-orang yang sholih. Mereka adalah sebaik-baik teman.

Sementara itu, orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah umat Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah umat Nasrani, sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اْلمَغْضُوْبَ عَلَيْهِمُ الْيَهُوْدُ وَإِنَّ الضاَّلِّيْنَ النَّصاَرَى

Rasulullah saw. bersabda: Orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang yang sesat adalah Nasrani (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

Jama’ah Jum’at rahimakumullah!

Sikap yang benar ketika berdo’a adalah menepati do’a kita dengan perbuatan kita sehari-hari.

Ketika kita berdoa memohon rezeki, maka sikap yang tepat adalah kita bekerja keras dan giat berusaha. Sikap malas bekerja dan enggan berusaha sangat berlawanan dengan doa kita dan bisa membuat doa kita tidak makbul, tidak diterima.

Ketika kita berdoa memohon ilmu dan pemahaman atas sesuatu, maka sikap yang tepat adalah kita giat belajar dan rajin membaca. Insyaallah doa kita diijabah. Namun jika kita malas belajar dan enggan membaca, mana mungkin doa kita mustajab.

Demikian pula dengan sikap yang tepat terhadap doa yang kita ucapkan ketika kita membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat shalat kita. Ada dua hal yang harus kita perhatikan untuk menepati doa kita tersebut:

  1. Agar kita bisa mendapat hidayah jalan yang lurus seperti yang diberikan oleh Allah kepada para nabi, para siddiqin, para syuhada’, dan orang-orang yang sholih, maka hendaklah kita mempelajari sirah nabawiyyah, riwayat hidup orang-orang yang sholih untuk kita contoh dan kita teladani dalam hidup sehari-hari. Kita hidupkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan nyata kita.
  2. Agar kita terhindar dari jalan orang yang dimurkai dan yang sesat, yakni orang Yahudi dan Nasrani, maka hendaklah kita tidak mengikuti tradisi kedua agama tersebut dan agama-agama lain yang bertentangan dengan ajaran agama kita.

Sungguh, Rasulullah sudah memrediksi bahwa kita, umat beliau, akan terjerumus mengikuti tradisi kaum Yahudi dan Nasrani, sehingga Rasulullah mengingatkan:

قال رسول الله e: لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِراَعاً بِذِراَعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُواْ جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. فَقُلْناَ: ياَ رَسُوْلَ اللهِ، الْيَهُوْدُ وَالنَّصاَرَى؟، قاَلَ: فَمَنْ؟ (رواه البخاري ومسلم)

Rasulullah saw. bersabda: Sungguh kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian, depa demi depa, hasta demi hasta, sehingga jika mereka melewati lubang sarang biawak pun kalian akan melewatinya juga. Maka kami (para sahabat) bertanya: Ya Rasulallah, (apakah yang kau maksud adalah) Yahudi dan Nasrani? Rasulullah menjawab: Siapa lagi?  (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Jama’ah Jum’at rahimakumullah!

Sayangnya, prediksi Rasulullah tersebut terbukti dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak tradisi Yahudi dan Nasrani yang diikuti oleh kaum muslimin, seperti:

  1. Perayaan tahun baru masehi yang merupakan tradisi kaum musyrikin, Yahudi dan Nasrani, banyak diikuti oleh kaum muslimin. Dalam hal ini, khatib menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah KSB, dan Pemerintah Kecamatan yang sudah mengeluarkan himbauan agar tidak merayakan tahun baru masehi, walaupun, mungkin karena terlambat dan pertama kali, masih banyak warga kaum muslimin yang keluar rumah untuk merayakannya.
  2. Munculnya Gender Ketiga (Transgender), yakni laki-laki yang merasa dirinya perempuan dan perempuan yang merasa dirinya laki-laki yang saat ini sudah mulai diakui haknya oleh negara-negara sekuler. Ironisnya banyak didukung oleh kaum muslimin.
  3. Perayaan Valentine’s Day tanggal 14 Februari yang mulai dipromosikan oleh televisi-televisi nasional.

 

Jama’ah Jum’at rahimakumullah!

Valentine’s Day merupakan tradisi keyakinan kuno yang penuh kesyirikan karena dikaitkan dengan keyakinan hari perkawinan antara Dewa Zeus dan Dewi Hera pada pertengahan bulan Februari, saat yang menurut ilmu astronomi merupakan masa akhir dari musim dingin dan persiapan memasuki musim semi; awal musim kesuburan.

Valentine diambil dari nama pendeta Katholik yang bernama Valentinus yang dipercaya menjadi martir (korban) yang mewujudkan cinta terlarang antara dua kekasih. Cinta tersebut dilarang oleh kaisar pada waktu itu sehingga Valentinus dihukum mati.

Perayaan Valentine’s Day dibungkus dalam ungkapan Kasih-sayang, berkedok cinta-kasih kepada sesama manusia, namun di dalamnya dan pada ujungnya berisi dengan aktivitas dekadensi moral, termasuk di dalamnya perzinahan, baik antara lawan jenis, maupun dengan sesama jenis. Na’udzubillah.

Untuk itu, dari mimbar ini khatib mewasiatkan agar kita kaum muslimin menghindarkan diri dari tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dalam rangka menepati doa yang kita baca di setiap rakaat shalat kita. Mari kita ingatkan diri, keluarga, dan sahabat kita agar tidak ikut-ikutan merayakan Valentine’s Day.

Kepada Pemerintah Daerah KSB dan Pemerintah Provinsi NTB dimohon untuk menerbitkan Himbauan Larangan Perayaan Valentine’s Day untuk menjaga moral dan akhlak masyarakat kita.

 

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى القُرآنِ الكَرِيْم، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا ِفيْهِ مِنْ الآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْم، وَتَقَبَّل مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ المسْلِمِيْنَ وَ المسْلِمَات، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

الحمدُ ِلله، والصلاةُ والسلامُ علىُ رسولِ الله وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ ومَنْ وَالاَه، أشهد أن لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وحْدَهُ لاَ شَريِكَ لَه جَلَّ ِفيْ عَلاَه، وأشهد أن محمداً عَبْدُهُ ورسُولُه ومجْتَباه، صلى اللهُ عليهِ وعلى آلِهِ وصحبِه حمَلَةِ دَعْوَتِهِ وَهُدَاه. أما بعد

أيها المسلمون ـ اتقوا الله حَقَّ التَّقْوَى، ورَاقِبُوهُ في السِّرِّ والنَّجْوَى

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ ، يَآ أَيُّهاَ الّذَيْنَ آمَنُوْا صّلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْماً

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْساَنٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ للِمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِناَتِ، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلماَتِ، اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ أَنْتَ سمِيْعٌ قَرِيْبٌ مجِيْبُ الدَّعَواَتِ وَقاَضِيَ اْلحاجاَتِ.

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَاْلمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ ، أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

رَبَّناَ آتِناَ فيِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفيِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ الناَّرِ

سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَماَّ يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلىَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَالحمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعاَلمِيْنَ

عِباَدَ اللهِ ! إِنَ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْساَنِ وَإِيْتاَءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشاَءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

فَاُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْألُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أكْبَر، وَالله ُيَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ، أقِيْمُوْا الصَّلاَةَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mari berbagi
  •  
  • 26
  •  
  •  
  •  
  •  
    26
    Shares
  • 26
    Shares
Komentar Anda: