Meneguhkan Fitrah, Idul Fitri 1440

TENTANG FITRAH

Fitrah dan fitri berasal dari akar kata yang sama. oleh karenanya syariat Idul Fitri diyakini memiliki hikmah yang agung bagi upaya meneguhkan fitrah manusia.

Fitrah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أَكْبَرُ ، الله أَكْبَرُ ، الله أَكْبَرُ

الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحاَنَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْدَهُ ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ الله أَكْبَرُ ، الله أَكْبَرُ وَِللهِ اْلحَمْدُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ ُمحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِالْهُدَى إِلىَ يَوْمِ الْقِياَمَةِ. أَماَّ بَعْدُ.

 

Hadirin-hadirat rahimakumullah!

Semenjak usai Ashar kemarin, menjelang akhir Ramadhan dan awal Syawwal. kita dan seluruh umat Islam telah mengumandangkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil sebagai ekspresi dari besarnya kesyukuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, karena berkat rahmat-Nya kita dapat menyelesaikan kewajiban kita beribadah selama bulan Ramadhan.

Kita bersyukur karena kita sudah menjalani proses rehabilitasi total yang mencakup jasmani dan ruhani kita, mencakup mental spiritual kita, melalui serangkaian amal ibadah selama bulan suci Ramadhan. Pada siang hari kita berpuasa dan pada malam hari kita mendirikan amalan-amalan sunat. Sepanjang Ramadhan kita isi dengan pengendalian hawa nafsu, kita perkuat sisi-sisi kebaikan yang ada pada diri kita dengan memperbanyak sabar, memperbanyak sedekah, sambil kita perlemah sisi-sisi negatif yang ada pada diri kita.

Insyaallah kita telah mampu meraih rahmat di bagian awal Ramadhan, meraih maghfirah di pertengahan Ramadhan, dan meraih itqun minan nar di akhir Ramadhan.

Pada hakekatnya, Allah telah mendatangkan Ramadhan dalam siklus tahunan kehidupan kita untuk memperbaiki kualitas kemanusiaan kita, untuk merehabilitasi kualitas fitrah kita. Oleh karena itu, perkenankan kami ucapkan selamat, minal aidin wal faizin.

Ungkapan Minal Aidin wal Faizin terdiri dari dua ungkapan doa, yaitu minal aidin dan minal faizin. Minal aidin berarti “semoga termasuk dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrahnya”; Minal faizin berarti “semoga termasuk dalam golongan orang-orang yang sukses mengikuti program rehabilitasi fitrah”.

Doa tersebut mengandung isyarat peneguhan fitrah. Itulah alasannya mengapa hari raya ini disebut dengan Idul Fitri yang berarti Hari Raya Fitrah.

 

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah!

Kata fitrah yang secara eksplisit dikaitkan dengan manusia disebutkan dalam surat ar-Rum 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفاً، فِطْرَةَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهاَ، لاَ تَبْدِيْلَ ِلخَلْقِ اللهِ ، ذلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ،

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) dalam keadaan lurus! Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus.

 

Ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah riwayat Bukhari dan Muslim:

ماَ مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَأَبَواَهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ ُيمَجِّساَنِهِ.

Tidak ada seorang anak pun kecuali dilahirkan menurut fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka yahudi, nashrani, atau majusi.

Dalam memahami makna fitrah para ulama memberikan pengertian yang beragam. Pengertian-pengertian tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kutub: kutub penciptaan dan kutub agama.

Al-Biqa’i menyebut fitrah sebagai ciptaan pertama dan tabiat awal yang Allah ciptakan manusia atas dasarnya. Menurut Thahir Ibnu ‘Asyur, Fitrah adalah unsur-unsur dan sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk. Fitrah manusia adalah apa yang diciptakan oleh Allah dalam diri manusia yang terdiri dari jasad dan akal (serta jiwa). Para ahli psikologi kemudian mengisitilahkan fitrah sebagai suatu sistem potensi yang dimiliki oleh manusia sejak kelahirannya.

Achmad Mubarok mengatakan bahwa fitrah manusia adalah potensi psikologis dan rohaniah yang sudah ada dalam desain awal penciptaannya, baik potensi yang mendorong kepada hal-hal yang positif maupun yang mendorong kepada hal-hal yang negatif. Demikian diantara penjelasan fitrah pada kutub penciptaan.

Sedangkan pada kutub agama, fitrah dipahami sebagai Islam dan tauhid. Pengertian inilah yang banyak dijelaskan dalam banyak kitab tafsir, apalagi jika diamati dengan cermat keseluruhan ayat Ar-Rum 30 tersebut, dimana pada awal ayat disebutkan “maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) dalam keadaan lurus” dan pada akhir ayat disebutkan “Itulah agama yang lurus”. Ibnu Katsir menafsirkan fitrah sebagai agama yang lurus, yaitu agama yang diajarkan oleh para nabi dan Rasul, agama yang hanif (lurus) yang berakhir dan berpuncak pada agama Islam.

Kedua kutub pemahaman tersebut bukanlah kutub-kutub yang berlawanan seperti kutub-kutub magnet, tetapi kutub-kutub yang saling melengkapi dari perspektif yang berbeda. Jika kedua kutub pengertian fitrah tersebut digabungkan maka fitrah adalah seperangkat potensi-potensi asli yang ada pada manusia sejak awal penciptaannya yang sesuai dengan ajaran Allah melalui agama yang hanif (lurus) yaitu Islam.

Dalam ungkapan di atas terdapat dua komponen dari pengertian fitrah manusia, yaitu seperangkat potensi asli sejak awal penciptaan. Fitrah ini dinamakan Fitrah Penciptaan. Yang kedua adalah ajaran Allah berupa agama Islam yang menjadi pedoman. Fitrah ini dinamakan Fitrah Hidayah.

Ibarat sebuah komputer dengan teknologi yang sangat canggih dan memiliki banyak fitur yang sangat bermanfaat, disertai banyak tombol dan menu yang terpampang pada layar sentuh. Di dalam paket komputer tersebut disertakan panduan tata-cara penggunaan dan pengoperasian komputer dalam bentuk hardcopy ataupun softcopy. Setiap pengguna dianjurkan untuk membaca panduan dan mengoperasikan komputer tersebut sesuai panduan, dengan peringatan bahwa operasi komputer yang menyalahi panduan bisa mengakibatkan terjadinya gangguan dan disfungsi sebagaimana mestinya.

 

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah!

Kembali kepada firman Allah bahwa “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya” dan sabda Rasulullah bahwa “Setiap orang dilahirkan dalam fitrah” maka dapat dipahami bahwa fitrah merupakan titik awal dari perjalanan hidup manusia di dunia.

Manusia terlahir bukanlah ibarat kertas putih bersih kosong seperti konsep tabularasa milik John Lock. Manusia lahir dengan membawa tugas pengabdian kepada Sang Khaliq (Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku – QS. Adz-Dzariyat 56), berfungsi sebagai khalifah di muka bumi (Sesungguhnya Aku menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi – QS. Al-Baqarah 30), dan sudah memiliki warna tauhid rububiyah (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi.”  – QS. Al-A’raf ` 172).

Manusia lahir dengan memikul amanat besar berupa tugas dan fungsi tersebut di atas (Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia – QS. Al-Ahzab 72).

Jika manusia lahir dengan tugas, fungsi, kesaksian, dan amanat tersebut, maka hal-hal tersebut adalah bagian dari fitrah penciptaan. Dan jika Allah menciptakan manusia untuk hal-hal tersebut, maka Allah juga pasti akan membekali manusia dengan semua potensi yang diperlukan oleh manusia untuk menjalankan semua tugas dan fungsinya, membuktikan kesaksiannya, dan menunaikan amanatnya. Potensi ini pun bagian dari fitrah penciptaan juga. Dengan demikian, manusia terlahir dengan fitrah, dan Fitrah menjadi titik awal perjalanan hidupnya di dunia ini.

Segala sesuatu di alam ini, selalu bermula dari suatu titik awal untuk kemudian meniti setiap titik yang berderet rapat membentuk sebuah garis yang mengarah dan berakhir pada suatu titik akhir. Titik awal pastilah tetap dan tertentu, namun titik akhir masih relatif dan belum bisa dipastikan letaknya karena dipengaruhi oleh perjalanan meniti titik-titik proses yang dipilih, apakah kemudian garis yang terbentuk oleh titian titik-titik proses tersebut lurus ataukah bengkok. Yang dikehendaki tentulah sebuah garis lurus. Seperti itulah ibarat kehidupan manusia di dunia.

Manusia yang berawal dari titik fitrah, diharapkan terus meniti fitrahnya dalam perjalanan kehidupan, mengikuti ajaran agama yang lurus, fitrah hidayah, hingga manusia sampai pada titik akhir hidupnya di dunia ini tetap dalam fitrahnya.

Manusia hendaknya berpedoman kepada fitrah hidayah agar fitrah penciptaannya tetap lurus dalam meniti proses perjalanan hidupnya. Demikianlah kandungan perintah pada awal ayat 30 dari surat Ar-Rum tersebut di atas, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) dalam keadaan lurus!” dengan kata lain: tetap tegaklah berpedoman secara konsisten (istiqamah) kepada ajaran agama Islam, karena dengan cara demikian, maka potensi yang ada pada dirimu akan berkembang dengan lurus meniti proses kehidupan, sehingga kamu dapat menjalankan semua tugas, fungsi, kesaksian, dan amanat seperti yang dikehendaki.

Demikian pula yang dikandung pada bagian akhir ayat tersebut, “Itulah agama yang lurus” sebagai penegasan dari penjelasan di atas.

Jika sepanjang proses kehidupan titik-titik yang dilalui adalah titik-titik fitrah, terwujudlah perjalanan yang tetap, tenang, tidak terombang-ambing, tidak tersesat jauh. Andaikan terseret sedikit keluar jalur, berusaha kembali ke jalur fitrah, maka dapat diduga kuat bahwa titik akhirnya adalah titik fitrah juga. Manusia akhirnya kembali ke Tuhannya dengan fitrahnya.

Ungkapan kembali ke fitrah bermaksud bahwa sepanjang kehidupannya manusia terlalu sulit untuk bisa bebas dari kelupaan, atau luput dari kesalahan, atau selamat dari ketergelinciran. Tetapi sepanjang hayat masih dikandung badan, manusia masih memiliki kesempatan untuk kembali ke fitrahnya lagi, mengingat semua tugas, fungsi, kesaksian, dan amanatnya, serta kembali menunaikan semua kewajiban kehidupannya.

 

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah!

Manusia memiliki potensi yang bisa menjurus ke arah positif, namun bisa juga menjurus ke arah negatif. Ini dari aspek fitrah penciptaan. Sedangkan dari aspek fitrah hidayah, dapat dipastikan selalu benar. Bila potensi manusia berkembang menjurus ke arah yang positif, berarti manusia tersebut berjalan selaras dengan fitrah. sebaliknya, jika potensinya berkembang menjurus ke arah negatif, maka manusia tersebut menyimpang dari fitrah.

Bisa dikatakan bahwa faktor utama penyimpangan manusia dari fitrah adalah tipu daya setan, sebab pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan kepada kebaikan, ke arah yang positif. Hal tersebut karena Allah telah membekali manusia dengan akal dan hati nurani, bahkan Allah pun sudah memberikan hidayah agama. Adapun pemberian nafsu bukanlah potensi untuk kejelekan atau kejahatan, karena pada dasarnya nafsu diberikan untuk kemaslahatan kehidupan manusia jika nafsu tersebut dikendalikan pada batas yang wajar.

زُيِّنَ لِلناَّسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَناَطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاْلخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعاَمِ وَاْلحَرْثِ ، ذلِكَ مَتاَعُ اْلحَياَةِ الدُّنْياَ ، وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَئاَبِ .

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diinginkannya, yaitu wanita, anak-anak, harta yang melimpah (terdiri) dari emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(QS. Ali Imran 14).

Allah mengembankan tugas dan amanat kepada manusia, namun Allah juga memberi manusia kesenangan dalam kehidupan di dunia. Manusia dipersilahkan untuk menikmati kesenangan yang disediakan oleh Allah tersebut, tetapi bukan tanpa batas ataupun tanpa hikmah selain kesenangan itu sendiri. Inilah di antara bentuk ujian yang diberikan, bahwa di setiap kesenangan dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah selalu disertai dengan batasan dan hikmah lain.

Batas-batas itulah yang diperalat oleh setan untuk menjerumuskan manusia kepada penyimpangan fitrah.

Kecintaan kepada lawan jenis dan hasrat seksual adalah nikmat dan kesenangan yang diberikan kepada manusia, namun Allah menggariskan suatu kondisi bahwa hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan memberi dampak ikutan berupa pertemuan sperma dan ovum yang berakibat kepada lahirnya keturunan. Jika perkawinan sperma dan ovum itu terjadi, maka janin tersebut akan ditempatkan di rahim yang ada di perut perempuan.

Mengingat bahwa pelampiasan hasrat seksual tersebut berdampak kepada banyak hal yang besar, maka Allah mengajarkan bahwa hubungan kelamin hanya dihalalkan di dalam suatu ikatan perkawinan yang memuat seperangkat tanggung jawab, kewajiban, dan hak bagi kedua orang yang berhubungan tersebut. Di luar ikatan perkawinan tersebut, maka segala bentuk hubungan kelamin dilarang dengan keras, diharamkan.

Di sinilah tempat bermainnya Iblis dan bala tentaranya. Setan hanya memperlihatkan di mata nafsu manusia kenikmatan dari hubungan seks dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada hubungan seks, pada waktu yang sama setan mengaburkan aturan dan hikmah dari hubungan seks tersebut. Jika kemudian manusia terjerat dalam tipu dayanya, kemudian terjerumus dalam dampak yang timbul dari hubungan seks yang dilakukannya, setan berlepas diri dan meninggalkan korbannya dengan penuh kemenangan.

Demikianlah yang akhirnya banyak terjadi. Berbagai bentuk perzinaan, pelacuran, perselingkuhan, pemerkosaan, pornografi, pornoaksi, aborsi, dan pembunuhan bayi banyak mewarnai kehidupan manusia yang dirasakan semakin tidak harmonis dan tidak kondusif bagi manusia itu sendiri. Orang tua sangat mengkhawatirkan anak-anak gadisnya, suami dan istri saling curiga dan tidak merasa tenang, rumah tangga bukannya menjadi sorga bagi penghuninya, namun justru menjadi neraka, masyarakat gelisah dengan lingkungan yang ‘kotor’, dan lain sebagainya. Begitulah kondisi yang timbul akibat perilaku yang menyimpang dari fitrah. Ini hanyalah sebuah contoh penyimpangan pada aspek kecintaan terhadap lawan jenis dan hasrat seksual.

Andaikan manusia tidak tunduk pada tipu daya setan dan dengan kekuatan akal, hati dan jiwanya tetap teguh selaras dengan fitrah, dia hanya melampiaskan hasrat seksualnya dalam perkawinan yang penuh tanggung jawab, masing-masing suami dan istri menyadari dan menunaikan kewajiban dan hak masing-masing, kemudian keduanya membangun rumah tangganya dengan penuh kedamaian, penuh dengan hasrat cinta dan kasih-sayang, maka sang suami akan tenang bekerja mencari nafkah bagi keluarganya karena yakin bahwa istrinya akan menjaga kehormatan diri dan keluarga.

Sang istri akan tenang bekerja dan melayani suami dan anak-anaknya karena yakin bahwa suaminya akan menjaga kehormatan diri dan keluarga, anak-anakpun tumbuh dalam bimbingan yang baik dan penuh kedamaian, orang tua tidak gelisah dan khawatir terhadap anak-anak mereka, rumah tangga laksana sorga dunia, masyarakat sekitar pun merasa tenang dan ikut berbahagia.

Jika kondisi ideal pada satu keluarga ini terjadi juga pada keluarga-keluarga lain dalam suatu lingkungan, suatu desa, suatu negeri, dapat dibayangkan betapa indahnya kehidupan manusia. Karunia dari keselarasan hidup dengan fitrah.

Sungguh, Allah sudah mengingatkan hal tersebut:

يَآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آَمَنُوْا ادْخُلُوْا فيِ السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطاَنِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, dia musuh yang nyata bagi kalian
(QS. Al-Baqarah 208)

Dengan kata lain, Wahai orang-orang yang mengaku beriman dengan iman Islam, masuklah sepenuhnya ke dalam Islam, ikuti dan terapkan sepenuhnya ajaran Islam, pahami sepenuhnya aturan dan hikmah Islam. Jangan hanya mengambil sebagian yang disukai dan meninggalkan sebagian yang tidak disukai, karena seperti itulah cara setan mempedayakan kalian. Jangan ikuti langkah tipu daya setan yang akan menjebak dan menjerumuskanmu, karena setan itu adalah musuhmu yang sesungguhnya, yang dengan sengaja merancang kehancuran hidup kalian, baik di dunia, maupun di akherat.

Contoh lain tentang akibat keselarasan dan penyimpangan fitrah adalah dalam hal kecintaan terhadap harta, Allah memang menghamparkan langit dan bumi untuk kepentingan kesejahteraan hidup manusia. Allah menganugerahkan harta bagi manusia sebagai sarana dan prasarana yang digunakan oleh manusia dalam menunaikan tugas, fungsi, kesaksian, dan amanat kehidupannya. Manusia dipersilahkan untuk mendapatkan harta dan memanfaatkan seoptimal mungkin. Namun demikian, seperti lazimnya, dalam kesenangan harta ini pun, terdapat batasan dan hikmah.

Tidak ada batasan tentang seberapa banyak manusia boleh memiliki dan memanfaatkan harta. Batasan yang ada adalah bahwa harta tersebut harus diperoleh dengan cara yang halal dan baik. Hikmah yang dititipkan pada pemilikan harta tersebut adalah bahwa harta tersebut hendaknya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak disia-siakan atau dimubazirkan.

Hikmah berikutnya adalah bahwa pada harta yang dimiliki tersebut terdapat hak orang lain, sehingga tidak 100% harta yang dimiliki oleh seseorang menjadi haknya. Dengan demikian, meskipun cara mencari dan memperoleh harta tersebut sudah halal dan baik, namun jika hak orang lain masih belum dikeluarkan, maka harta tersebut belum bersih.

Seperti biasanya, setan bermain pada sisi kenikmatan dan kesenangan saja, sambil mengaburkan aturan dan hikmah yang ada. Mata nafsu manusia disilaukan oleh kenikmatan dan kesenangan harta, kehidupan enak, mudah, mewah, konsumersime, dan hedonisme. Pada rasio nafsu manusia dicekoki pemikiran bahwa tak ada beda kenikmatan yang dirasakan oleh manusia, apakah harta itu diperoleh dengan cara yang halal ataupun cara yang haram, yang penting harta tersebut bisa diperoleh, dan bila setelah dengan susah-payah mencari dan memperoleh harta, manusia berhak dengan sesuka hatinya untuk menggunakannya, bahkan tak ada logikanya tentang hak orang lain pada harta yang diperoleh.

Manusia yang terjebak dalam tipu daya setan dan membenarkan logika tersebut dengan membabi-buta mencari harta, tak peduli baik atau buruk, tak peduli halal atau haram, tak peduli seberapa banyak dan seberapa besar korban yang diakibatkannya. Manusia tersebut menjadi sangat kikir, bakhil, dan tak mau tahu orang lain. Akibatnya, rasa khawatir dan was-was tentang keamanan diri dan hartanya selalu menghantui, hidupnya tak tenang, hati dan otaknya tak pernah istirahat dari rasa takut, gelisah, dan curiga. Pada saat yang sama, tumbuhlah rasa benci orang lain atas kekikirannya, ancaman untuk mengambil hartanya atau mencelakainya, dan seterusnya. Inilah kondisi penyimpangan dari fitrah.

Andaikan manusia tersebut teguh dalam keselarasannya dengan fitrah, maka dia akan tetap menahan diri untuk hanya memperoleh harta dengan cara yang halal dan baik, menyadari bahwa perolehan hartanya adalah karunia dari Allah, sehingga tumbuh di hati, jiwa, dan pikirannya rasa syukur, kemudian menyadari bahwa di dalam hartanya ada hak orang lain, maka dia mengambil sebagian dari hartanya untuk dizakatkan dan disedekahkan.

Manusia tersebut akan merasakan kedamaian di hati dan jiwanya, bukan dia yang diperbudak oleh harta, namun dia yang mengendalikan harta, dengan menggunakannya untuk setiap kebaikan yang bisa dijangkaunya. Karena kedermawanannya, orang-orang di sekitarnya mencintai dan menyayangi, bahkan ikut menjaga diri dan hartanya. Andaikan semua orang yang mendapat anugerah kekayaan harta seperti gambaran orang tersebut, betapa harmonis dan damainya kehidupan di dunia ini. Itulah berkah dari keselarasan dengan fitrah.

 

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah!

Demikianlah contoh-contoh yang dapat dianalogikan terhadap aspek-aspek lain dalam kehidupan manusia, seperti kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, hukum, dan seterusnya. Penyimpangan dari fitrah akan berdampak sangat destruktif terhadap kehidupan manusia, dan hanya dengan kembali selaras dengan fitrah, kehidupan yang harmonis, aman, tenteram, dan damai dapat diwujudkan.

Manusia hendaknya berupaya untuk terus stabil berada pada jalur fitrahnya sampai pada batas akhir perjalanan hidupnya.

يَآ أَيَّتُهاَ النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ، اِرْجِعِيْ إِلىَ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ، فَادْخُلِيْ ِفيْ عِباَدِيْ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam sorga-Ku
(QS. Al-Fajr 27 – 30)

 

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْساَنٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ للِمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِناَتِ، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلماَتِ، اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ أَنْتَ سمِيْعٌ قَرِيْبٌ مجِيْبُ الدَّعَواَتِ وَقاَضِيَ اْلحاجاَتِ.

رَبَّناَ آتِناَ فيِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفيِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ الناَّرِ

سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَماَّ يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلىَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَالحمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعاَلمِيْنَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Disampaikan pada:

  1. Idul Fitri 1434 H, 8 Agustus 2013, di Masjid Agung Darussalam Komplek Kamutar Telu Center (KTC) Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat NTB.
  2. Idul Fitri 1440 H, 5 Juni 2019, di Masjid Baitul Arqam, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB Mataram.
Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda:
Close Menu