Manajemen Keuangan, Prosperous Master 2

Bagian 1 – Manajemen Keuangan

Pengertian

Manajemen Keuangan terdiri dari dua kata: Manajemen dan Keuangan

FinancialManajemen berarti proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan upaya (usaha-usaha) anggota organisasi dalam menggunakan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Fungsi keuangan merupakan salah satu fungsi dari fungsi-fungsi organisasi yang biasanya terdiri dari fungsi personalia, fungsi operasi dan produksi, fungsi pemasaran dan fungsi penunjang bagi lancarnya operasional suatu organisasi (perusahaan).

Fungsi keuangan ada di setiap organisasi baik organisasi yang profit oriented maupun yang non profit oriented. Kesinambungan suatu organisasi sangat bergantung pada bidang keuangan, karena berdirinya organisasi dan kegiatan operasionalnya sehari-hari membutuhkan sumber daya keuangan (dana).

Tugas dan tanggungjawab manajemen keuangan dalam organisasi (perusahaan) yang utama adalah menggunakan dana (allocation of fund) dan mendapatkan dana (raising of fund). Fungsi penggunaan dan mendapatkan dana tidak saja ditemukan pada bagian keuangan di perusahaan (corporate finance) namun dapat juga ditemukan pada keuangan personal individual (personal finance) yang disebut dengan manajemen keuangan pribadi dan keuangan pemerintah (publik finance) yang disebut manajemen keuangan negara dan manajemen keuangan daerah. Untuk selanjutnya yang dipelajari dalam bahan ajar ini adalah manajemen keuangan perusahaan (corporate finance).

Dengan demikian manajemen keuangan adalah Perpaduan ilmu dan seni dalam merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengawasi fungsi-fungsi keuangan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan suatu organisasi.

 

Ruang Lingkup Manajemen Keuangan

Kegiatan manajemen keuangan meliputi perencanaan, analisis, dan pengendalian keuangan. Kegiatan keuangan tidak terbatas pada lingkup bagian atau fungsi keuangan saja, tetapi menjangkau juga pada seluruh bidang/fungsi organisasi lainnya (personalia, operasi dan produksi, pemasaran, dan lainnya).

Pada tugas penggunaan dana, manajemen keuangan mengatur pengalokasian dana organisasi berupa:

  1. Penentuan pagu anggaran masing-masing fungsi organisasi sesuai dengan kebutuhan dana kegiatan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
  2. Pengaturan pencairan dana masing-masing fungsi organisasi sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan.
  3. Penyediaan dan pengelolaan dana cadangan untuk membiayai kebutuhan yang tak terduga yang belum ditetapkan oleh organisasi tetapi wajib dipenuhi.
  4. Pengawasan atas penggunaan dana oleh seluruh bagian/fungsi organisasi.
  5. Pengendalian efisiensi penggunaan dana tanpa mengabaikan efektivitas kegiatan seluruh bagian/fungsi organisasi.

Pada tugas pengumpulan dana, manajemen keuangan terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu:

  1. Mengelola hasil penjualan.
  2. Menyusun dan menganalisis laporan keuangan.
  3. Menganalisis dan merencanakan ketetapan organisasi dalam mendapatkan dana.

Pengelolaan hasil penjualan meliputi pencatatan penjualan, pencatatan uang masuk hasil penjualan, dan mengelola akuntansi penjualan.

Penyusunan laporan keuangan merupakan pekerjaan rutin manajemen keuangan yang meliputi laporan uang masuk dan uang keluar yang dibuat secara rutin bulanan (kalau perlu mingguan) yang nanti direkapitulasi dalam laporan keuangan akhir tahun. Mengiringi laporan keuangan tersebut dilakukan analisis terhadap laporan keuangan secara berkala.

Perencanaan ketetapan organisasi untuk mendapatkan dana berupa:

  1. Kebijakan pemodalan.
  2. Kebijakan Investasi.
  3. Kebijakan Profit.
  4. Kebijakan Deviden.

 

Tujuan dan Manfaat Manajemen Keuangan

Tujuan manajemen keuangan paralel dengan tujuan perusahaan. Tujuan jangka panjang perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan berbeda dengan peningkatan laba perusahaan yang berorientasi jangka pendek.

Manfaat manajemen keuangan adalah pengelolaan keuangan menjadi lebih terencana dan terkendali

 

Bagian 2 – Laporan Keuangan

 

akuntansiLaporan keuangan merupakan alat utama bagi manajemen keuangan untuk melakukan analisa kondisi keuangan dan mempertimbangkan kebijakan keuangan.

Laporan keuangan yang terpenting adalah:

  1. Laporan Neraca
  2. Laporan Rugi-Laba

 

Laporan Neraca (Balance Sheet)

Laporan Neraca merupakan laporan yang mampu menggambarkan kekayaan organisasi yang sebenarnya. Informasi yang tercantum di dalam Laporan Neraca adalah tentang Aktiva, Pasiva, dan Ekuitas.

Aktiva adalah harta milik organisasi, atau sumberdaya ekonomi yang dimiliki oleh organisasi yang dapat digunakan untuk mendapatkan manfaat.

Jenis Aktiva:

  1. Aktiva Lancar (Current Assets): aktiva yang bisa ditukar menjadi uang tunai dalam masa tahun buku (biasanya 1 tahun).
  2. Aktiva Tetap (Fixed Assets): aktiva yang berusia ekonomi panjang digunakan untuk operasional organisasi dan tidak untuk dijual.
  3. Aktiva Tak Berwujud (Intangible Assets): Aktiva yang tak berwujud fisiknya tetapi memiliki nilai ekonomi dan bisa dijual.
  4. Aktiva Investasi (Investment Assets): Aktiva yang diinvestasikan.
  5. Aktiva Lain-Lain (Other Assets): Aktiva lain yang tidak masuk dalam empat kategori terdahulu.

Pasiva adalah pengorbanan organisasi, atau kewajiban ekonomi yang menjadi tanggungan  organisasi kepada pihak lain.

Jenis Pasiva:

  1. Pasiva Lancar/Utang Lancar/Utang Jangka Pendek (Current Liabilities): Pasiva yang harus dibayar dalam jangka pendek atau dalam masa tahun buku (biasanya dalam 1 tahun).
  2. Pasiva/Utang Jangka Panjang (Long Term Liabilities): Pasiva yang harus dibayar dalam jangka panjang (lebih dari 1 tahun.

 

Ekuitas adalah kekayaan bersih (netto) organisasi yang didapat dari pemilik modal dan hasil usaha organisasi.

Jenis Ekuitas:

  1. Modal disetor.
  2. Laba ditahan.
  3. Pendapatan lain di luar modal dan laba.

Nilai ekuitas = Aktiva (aset) – Pasiva (kewajiban)

 

Laporan Rugi-Laba (Income Statement)

Laporan Rugi-Laba merupakan laporan yang mampu menggambarkan kondisi operasional dan kinerja keuangan organisasi yang sebenarnya. Informasi yang tercantum di dalam Laporan Rugi Laba adalah tentang Pendapatan, Harga Pokok Produksi, Biaya, Rugi/Laba.

Rugi/Laba ada beberapa tahapan:

  1. Rugi/Laba Kotor (Gross Loss/Profit): selisih antara pendapatan dan harga pokok.
  2. Rugi/Laba Operasi (Operating Loss/Profit): selisih antara Rugi/Laba Kotor dengan total Beban/Biaya yang dibutuhkan dalam produksi, seperti biaya pengadaan bahan, biaya penyimpanan, biaya promosi dan pemasaran, dan sebagainya.
  3. Rugi/Laba Sebelum Bunga dan Pajak (Loss/Profit before Interest and Tax) dikenal dengan EBIT (Earning before Interest and Tax): Selisih antara Rugi/Laba Operasi dengan total Beban/Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan produksi, seperti sumbangan kepada pihak ketiga, CSR, dan sebagainya.
  4. Rugi/Laba Sebelum Pajak (Net Loss/Profit before Tax): Selisih antara Rugi/Laba Usaha/Operasi dengan total Beban/Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan produksi, seperti cicilan pinjaman, CSR, dan sebagainya.
  5. Rugi/Laba Bersih (Net Loss/Profit): Selisih antara Rugi/Laba Sebelum pajak dengan total Pajak.

Contoh laporan keuangan terdapat di Laporan Keuangan.

 

Bagian 3 – Analisis Keuangan

Analisis Keuangan merupakan analisis terhadap laporan keuangan yang disiapkan oleh manajemen keuangan.

Terdapat tiga macam analisis keuangan:

  1. Analisis Common Size.
  2. Analisis Indeks.
  3. Analisis Rasio

 

Analisis Common Size

Analisis Common Size adalah analisa terhadap struktur kekayaan organisasi beserta besaran setiap komponennya. Hasil Analisa Common Size terhadap Laporan Neraca dapat digunakan oleh manajemen keuangan untuk menentukan kebijakan permodalan dan kebijakan aktiva dan pasiva. Sedangkan analisa terhadap Laporan Rugi-Laba dapat digunakan untuk menentukan kebijakan operasional usaha.

Dalam Analisa Common Size terhadap Laporan Neraca, nilai Total Aktiva dan Pasiva dijadikan sebagai nilai dasar dan diberi nilai 100%. Dalam Lapran Rugi-Laba, nilai Pendapatan yang dijadikan nilai dasar dan diberi nilai 100%. Selanjutnya komponen lain dicari nilainya dengan membandingkan nominal komponen dengan nominal nilai dasar (Aktiva dan Pasiva, atau Pendapatan).

 

Analisis Indeks

Analisis Indeks adalah alat analisis perbandingan yang digunakan oleh manajemen keuangan untuk  mengetahui perkembangan usaha organisasi. Untuk itu data yang dibutuhkan adalah data runtut waktu (time series) untuk beberapa tahun, biasanya sekitar 5 tahun. Hasil Analisa Indeks dapat menunjukkan trend ekonomi dari semua komponen laporan keuangan.

Ditentukan suatu tahun sebagai standar, semua datanya diberi nilai 100%. Atas dasar nilai standar itulah data komponen yang sama pada tahun lainnya dibandingkan dengan nilai standar.

 

Analisis Rasio

RasioAnalisis Rasio adalah analisa perbandingan antar komponen di dalam Laporan Keuangan untuk tujuan tertentu. Terdapat tiga macam Analisis Rasio:

  1. Rasio Likuiditas. Rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek. Rasio yang sering dipergunakan adalah:
    • Rasio Modal Kerja Bersih (Net Working Capital – NWC) dengan Keseluruhan Aset (Total Assets – TA) atau sering disingkat dengan WCTA (Working Capital to Total Assets).

Rumus: WCTA = NWC / TA

NWC adalah Selisih aktiva lancar dan kewajiban lancar

TA adalah Total aktiva (lancar dan tidak lancar)

Semakin besar nilai WCTA semakin baik. Idealnya antara 16% – 21%.

  • Current Ratio (CR).

Rumus: CR = CA / CL

CA adalah Current Assets atau aktiva lancar.

CL adalah Current Liabilities atau kewajiban lancar.

Semakin besar nilai CR semakin baik.

  • Quick Ratio (QR) atau Acid Test Ratio. Quick ratio (QR) ini mirip dengan Current Ratio (CR), Jika CR menghitung semua aset lancar maka pada QR aset lancar dikurangi dengan persediaan. Hal itu karena persediaan membutuhkan waktu dan proses untuk ditukar menjadi uang. Dengan demikian, QR digunakan untuk mengurukur kemampuan organisasi dalam memenuhi kewajiban yang sangat mendesak.

Rumus: QR = (Aset Lancar – Persediaan) / Kewajiban Lancar

Semakin besar nilai QR semakin baik

  1. Rasio Solvabilitas. Rasio Solvabilitas atau disebut juga dengan Leverage Ratio, mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajiban keuangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio yang sering dipergunakan adalah:
    • Debt to Equity Ratio (DER), rasio seluruh utang terhadap modal.

Rumus: DER = Seluruh kewajiban / Seluruh ekuitas

Semakin kecil nilai DER semakin baik

  • Debt Ratio (DR), rasio seluruh utang terhadap Aset.

Rumus: DR = Seluruh kewajiban / Seluruh aset

Semakin kecil nilai DR semakin baik

  • Total Debt Coverage (TDC), kemampuan dalam membayar pokok utang dan bunganya.

Rumus: TDC = Laba sebelum bunga dan Pajak / (Bunga + (Pokok / (1 – Pajak)))

Semakin besar nilai TDC semakin baik.

  • Time Interest Earned Ratio (TIER), kemampuan dalam membayar bunga utang.

Rumus: TIER = Laba sebelum bunga dan Pajak / Bunga

Semakin besar nilai TIER semakin baik

  1. Rasio Profitabilitas. mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba/profit. Rasio yang sering dipergunakan adalah:
    • Profitabilitas terkait penjualan
      • Ukuran Laba Kotor (Gross Profit Margin – GPM), rasio antara laba kotor dengan penjualan.

Rumus: GPM = Laba kotor / Penjualan

Semakin besar nilai GPM semakin baik.

  • Ukuran Laba Operasi (Operating Profit Margin – OPM), rasio antara laba operasi dengan penjualan.

Rumus: OPM = Laba operasi / Penjualan

Semakin besar nilai OPM semakin baik.

  • Ukuran Laba Bersih (Net Profit Margin – NPM), rasio antara laba operasi dengan penjualan.

Rumus: NPM = Laba bersih / Penjualan

Semakin besar nilai NPM semakin baik.

  • Profitabilitas terkait Aktiva
    • Perputaran Total Aktiva (PTA), rasio antara penjualan dengan rerata total aktiva tahun berjalan dengan tahun sebelumnya.

Rumus: PTA = Penjualan / Rerata Aktiva

Semakin besar nilai PTA semakin baik.

  • Tingkat Pengembalian Investasi (Return on Investment – ROI), rasio antara laba bersih dengan rerata total aktiva tahun berjalan dengan tahun sebelumnya.

Rumus: ROI = Laba bersih / Rerata Aktiva

Semakin besar nilai ROI semakin baik.

  • Profitabilitas terkait dengan Laba dan Aktiva
    • Rentabilitas Ekonomi (RE), rasio antara Laba Operasi dengan rerata total aktiva tahun berjalan dengan tahun sebelumnya.

Rumus: RE = Laba operasi / Rerata Aktiva

Nilai RE bisa juga didapat dengan mengalikan nilai OPM dengan nilai PTA.

Semakin besar nilai RE semakin baik.

  • Rentabilitas Modal Sendiri (RMS), rasio antara laba bersih dengan rerata modal sendiri pada tahun berjalan dengan tahun sebelumnya.

Rumus: RMS = Laba bersih / Rerata Ekuitas

Semakin besar nilai RMS semakin baik.

 

Contoh perhitungan analisis laporan keuangan terdapat di Analisis Keuangan.

 

Bagian 4 – Nilai Waktu Uang

 

Pengantar

Lima tahun yang lalu, uang Rp 10.000,- bisa digunakan untuk menikmati semangkok bakso dan segelas es jeruk. Sekarang hanya dapat segelas es jeruk saja. Lima tahun yang akan datang akan dapat apa dengan uang Rp 10.000,-?

Nilai WaktuFenomena di atas menjelaskan bahwa nilai uang menurun bersama dengan perjalanan waktu. Uang Rp 1 juta pada tahun ini tidak sama nilainya pada tahun depan. Perubahan nilai uang tersebut disebabkan oleh dua faktor utama: inflasi, tingkat suku bunga, serta kondisi politik dan keamanan.

Nilai Waktu Uang (time Value of Money) adalah suatu konsep yang mengacu pada perbedaan nilai uang yang disebabkan karena perbedaaan waktu.

Pemahaman tentang Nilai Waktu Uang sangat penting dalam manajemen keuangan sehingga suatu investasi betul-betul mendapatkan manfaat dengan nilai yang sesungguhnya, bukan nominalnya.

Sebagai contoh, seseorang menawarkan tanah seluas 1 hektar dengan harga Rp 100 juta. Ada orang yang akan membelinya, tetapi dibayar 2 tahun yang akan datang dengan harga Rp 100 juta juga. Serah terima tanah dilakukan saat pelunasan. Apakah pemilik tanah menyetujui usulan pembeli? Jika transaksi dilakukan 2 tahun yang akan datang, berapa harga yang selayaknya?

Contoh lain. Seseorang hendak menjual tanah seluas 1 hektar senilai Rp 100 juta pada 5 tahun yang akan datang. Tiba-tiba dia butuh dana saat ini dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan dana selain menjual tanahnya. Berapa harga yang layak atas tanah tersebut?

Untuk pertanyaan pertama dapat dijawab dengan perhitungan Future Value (Nilai Waktu Mendatang) dan untuk pertanyaan kedua dapat dijawab dengan Present Value (Nilai Waktu Sekarang).

Sebelum membahas Future Value dan Present Value, perlu dipahami terlebih dahulu tentang konsep inflasi dan suku bunga yang menjadi faktor terjadinya perbedaan nilai waktu uang.

 

Inflasi

Inflasi adalah fenomena kenaikan harga umum yang terjadi dalam suatu periode tertentu.

Kenaikan tersebut bisa dilihat dari dua prespektif:

  1. Perspektif Luas (Broad Perspective), misalnya kenaikan pada harga barang dan jasa secara umum, serta kenaikan biaya hidup (living cost).
  2. Perspektif sempit (Narrow Perspective), misalnya kenaikan harga komoditi konsumsi.

InflasiContoh kasus kenaikan harga pada perspektif yang luas adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Efek domino dari kenaikan harga BBM adalah kenaikan biaya transportasi yang berdampak kepada kenaikan harga barang dan jasa. Bila kenaikan harga BBM tersebut berdampak kepada biaya produksi listrik, maka Tarif Dasar Listrik (TDL) naik. Kenaikan TDL berdampak kepada kenaikan biaya produksi, biaya administrasi, dan sebagainya yang operasinya bergantung kepada listrik. Kenaikan BBM dan TDL berdampak pula kepada kenaikan biaya hidup.

Contoh kasus kenaikan harga pada perspektif yang sempit adalah kenaikan harga komoditi karena terbatasnya persediaan di saat permintaan sedang melonjak, biasanya terjadi pada even-even keagamaan. Kasus lainnya adalah ketika penawaran uang sangat tinggi melebihi pertumbuhan produksi barang dan jasa. Biasanya terjadi ketika suku bunga sangat tinggi.

Angka inflasi diukur dalam satuan persen yang didapatkan salah satu caranya dari perbandingan antara Indeks Harga Konsumen – IHK pada periode yang dihitung dengan IHK pada periode sebelumnya. Kurun waktu periode bisa dalam satu bulan (Month over Month – MoM), satu kuartal (Quartal over Quartal– QoQ), atau satu tahun (Year over Year – YoY).

Misalkan IHK Tahun 2018 bernilai 100 dan IHK tahun 2019 bernilai 104,5. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

(IHK 2019 – IHK 2018)/IHK 2018 dikalikan 100%.

(104,5 – 100)/100 = 4,5/100 = 0,045, dikalikan 100% = 4,5%. Inilah angka inflasi YoY tahun 2019.

Indeks Harga Konsumen – IHK (Consumer Price Index – CPI) secara rutin dan berkelanjutan ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) berdasarkan data dan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS).

Fluktuasi harga barang dan jasa secara umum dipengaruhi oleh dinamika pasar yang menggunakan prinsip Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand).

Kategori tingkat Inflasi dan maknanya:

  • Kurang dari 2,5% =   tingkat inflasi rendah, kondisi ekonomi sangat stabil
  • Antara 2,5% – 5% =   tingkat inflasi sedang/moderat, kondisi ekonomi stabil.
  • Antara 5% – 8% =   tingkat inflasi tinggi, kondisi ekonomi kurang stabil
  • Di atas 8% =   tingkat inflasi sangat tinggi, kondisi ekonomi tidak stabil.

 

Bunga

Bunga adalah imbal jasa atas penggunaan uang oleh pihak lain dalam suatu periode tertentu. Nilai imbal jasa tersebut dinamakan Suku Bunga.

Fluktuasi suku bunga dipengaruhi oleh dunamika pasar keuangan yang menggunakan prinsip Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand). Menurut Teori Loanable Funds: Tingkat Suku Bunga ditentukan oleh (1) Permintaan akan dana, dan (2) Penawaran dana.

Permintaan akan dana oleh masyarakat yang biasanya digunakan untuk keperluan rumah tangga, pemodalan usaha dan investasi, dan oleh pemerintah untuk kebutuhan pembangunan akan menaikkan suku bunga. Suku bunga menjadi tinggi. Hal itu menarik masyarakat pemilik dana untuk menawarkan dana dalam bentuk simpanan bank, obligasi, ataupun investasi. Di sisi lain, suku bunga yang tinggi akan menahan masyarakat untuk mengambil pinjaman.

Penawaran dana sangat banyak sedangkan permintaan berkurang. Suku bunga diturunkan.

Suku bunga yang rendah tidak lagi menarik bagi pemilik dana. Mereka menarik dananya. Di sisi lain, masyarakat yang membutuhkan dana melakukan permintaan dana.

Fluktuasi seperti itu tidak bisa dihindari. Untuk menjaga agar fluktuasi tersebut tidak terlalu tajam maka Pemerintah mengendalikan dengan menerapkan Suku Bunga Acuan oleh Bank Indonesia sehingga pergerakan fluktuasi suku bunga di pasar keuangan berada di sekitar suku bunga acuan. Pada akhir Februari 2020 Suku Bunga Acuan BI berada pada taraf 4,75%.

Terdapat beberapa jenis bunga:

  1. Bunga Flat (datar). Bunga yang nominalnya tetap tanpa memperhatikan nilai saldo pokok.
  2. Bunga Efektif. Bunga yang tarafnya tetap dengan memperhatikan nilai saldo.
  3. Bunga Anuitas. Bunga Anuitas sebenarnya adalah bunga efektif yang dimodifikasi. Prinsipnya sama, yaitu bunga berdasarkan saldo pokok pinjaman. Bedanya jika besaran cicilan pada Bunga Efektif berubah-ubah, maka pada Bunga Anuitas dibuat sama.

Tiga jenis bunga di atas adalah tingkat bunga tetap (Fixed Rate). Ada juga Bunga Mengambang (Floating Rate) yaitu tingkat suku bunga yang berubah-ubah sesuai perubahan tingkat suku bunga di pasar keuangan. Seperti halnya bunga tetap yang digunakan dalam perhitungan Flat, Efektif, dan Anuitas, bunga mengambangpun digunakan juga dalam tida bentuk perhitungan tersebut. Tetapi tidak seperti bunga tetap yang perhitungannya sekaligus untuk satu masa tenor, perhitungan pada bunga mengambang setiap kali terjadi perubahan tingkat suku bunga.

Penjelasan bunga di atas adalah tentang bunga pinjaman. Bagaimana dengan bunga simpanan?

Dalam hal simpanan dana, dikenal dua jenis bunga: bunga sederhana (simple interest) dan bunga majemuk (compound interest).

Bunga Sederhana atau disebut juga dengan Bunga tunggal biasanya digunakan untuk simpanan dengan saldo tetap dalam suatu periode tertentu, seperti simpanan deposito: 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun. Cara perhitungannya sama dengan perhitungan bunga tetap dan datar (flat).

Bunga majemuk biasanya digunakan untuk simpanan yang saldonya berubah-ubah seperti simpanan tabungan biasa. Cara perhitungannya bisa menggunakan cara flat atau pun cara efektif.

Terdapat tiga jenis Basis Perhitungan bunga simpanan:

  1. Saldo Terendah Bulanan
  2. Saldo Rata-Rata Bulanan
  3. Saldo Harian.

Jika bunga tabungan simpanan tidak diambil dan tabungan dilanjutkan, begitu juga jika deposito dilanjutkan dengan melanjutkan transaksi deposito baru, maka bunga simpanan itu dimasukkan ke dalam pokok simpanan. Bunga akan diperhitungkan dari pokok simpanan yang sudah ditambah dengan bunga. Hal seperti ini disebut dengan Bunga Majemuk.

 

Future Value

Future Value (FV) yang berarti nilai uang di waktu yang akan datang dan Present Value (PV) yang berarti nilai uang saat ini tidak lepas dari perubahan tingkat suku bunga. Dengan demikian, perhitungannya pun hampir sama dengan perhitungan Bunga Majemuk pada bunga simpanan, karena prinsip dari FV dan PV adalah pemajemukan (compounding) perubahan nilai uang tersebut.

Satu-satunya perbedaan adalah basis perhitungan. Bunga majemuk simpanan berbasis bulan karena umumnya bunga simpanan dibayarkan setiap bulan, sedangkan perhitungan nilai uang berbasis tahun, sehingga kemajemukannya dihitung tahunan. Rumus Future Value adalah:

FVn = PV ( 1 + i)n

FVn = nilai uang setelah n tahun

PV = nialai uang saat ini

i = tingkat bunga

n = jumlah tahun

Untuk memahami lebih lanjut tentang Future Value, kita kembali ke soal kasus sebagai berikut:

Seseorang menawarkan tanah seluas 1 hektar dengan harga Rp 100 juta. Ada orang yang akan membelinya, tetapi dibayar 2 tahun yang akan datang dengan harga Rp 100 juta juga. Serah terima tanah dilakukan saat pelunasan. Apakah pemilik tanah menyetujui usulan pembeli? Jika transaksi dilakukan 2 tahun yang akan datang, berapa harga yang selayaknya?

Inti pertanyaannya adalah nilai uang 100 juta pada 2 tahun yang akan datang. Data-data yang ada:

PV: 100 juta       n: 2 tahun          t: 5% p.a. (Suku Bunga BI saat ini)

FV2 = 100.000.000 x (1 + 5%)2     =  100.000.000 x 1,052   =   100.000.000 x 1,1025

FV2 = 110.250.000

Jadi jawaban dari pertanyaan di atas adalah harga 1 hektar tanah pada 2 tahun yang akan datang selayaknya: Rp 110.250.000,-

 

Present Value

Present Value (PV) yang berarti nilai uang saat ini merupakan kebalikan dari Future Value (FV) yang berarti nilai uang pada waktu yang akan datang. Dengan demikian rumus yang digunakan untuk menghitung Present Value adalah kebalikan dari rumus untuk Future Value sebagai berikut:

PV = FV / (1 + i)n

Untuk memahami lebih lanjut tentang Future Value, kita kembali ke soal kasus sebagai berikut:

Seseorang hendak menjual tanah seluas 1 hektar senilai Rp 100 juta pada 5 tahun yang akan datang. Tiba-tiba dia butuh dana saat ini dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan dana selain menjual tanahnya. Berapa harga yang layak atas tanah tersebut?

Inti pertanyaannya adalah nilai uang saat ini untuk 100 juta pada 5 tahun yang akan datang. Data-data yang ada:

FV: 100 juta       n: 5 tahun          t: 5% p.a. (Suku Bunga BI saat ini)

PV = 100.000.000  : (1 + 5%)5     =  100.000.000  : 1,055   =   100.000.000  : 1,276

PV = 78.352.617

Jadi jawaban dari pertanyaan di atas adalah 1 hektar tanah yang ditawarkan pada 5 tahun yang akan datang dengan harga Rp 100 juta, harganya sekarang adalah: Rp 78.352.617,-

Dari dua perhitungan di atas, untuk FV dan PV, hasil akhirnya sangat ditentukan oleh Tingkat Suku Bunga yang berlaku.

 

Anuitas

Anuitas adalah serangkaian pembayaran atau penerimaan dalam suatu periode dengan nominal uang yang sama. Terdapat dua jenis Anuitas:

  1. Anuitas Biasa (Ordinary Annuity atau Deferred Annuity), yaitu pembayaran berkala pada akhir periode.
  2. Anuitas Jatuh Tempo (Due Annuity), yaitu pembayaran berkala pada awal periode.

Lazimnya anuitas yang digunakan pada keuangan adalah anuitas biasa, kecuali jika disebutkan sebagai Anuitas Jatuh Tempo.

Pada prinsipnya anuitas menggunakan perhitungan Present Value (PV) atau Future Value (FV).

Contoh kasus: Harga tunai sebuah rumah type 36 sebesar Rp 300 juta. Jika dijual secara cicilan selama 10 tahun dengan down payment sebesar Rp 60 juta. Berapa nominal cicilan per bulan yang benar?

Harga saat ini (PV): 300.000.000 – 60.000.000 = 240.000.000.

Bunga (i): 10% (rata-rata suku bunga pasar selama 10 tahun terakhir).

Masa kredit (n): 10 tahun.

Rumus: FVn = PV(1 + i)n

FV10 = 240.000.000 x (1 + 10%)10   =   240.000.000 x 1,110   =  240.000.000 x 2,594   =   622.498.190.

Cicilan per bulan: Rp 622.498.190,- : 10 tahun : 12 bulan   =  622.498.190 : 120   =   Rp 5.187.485,-

 

Contoh praktek penghitungan bunga bisa dilihat di Nilai Waktu Uang.

 

Bagian 5 – Keuangan Syariah tentang Nilai Waktu Uang

Fungsi Uang

Manajemen keuangan syariah – berdasarkan ajaran Islam – memandang fungsi uang adalah sebagai alat tukar, bukan sebagai komoditi. Sebagai alat tukar uang bisa digunakan untuk:

  1. Membeli barang atau jasa. Manfaat yang diterima adalah manfaat dari barang atau jasa yang dibeli.
  2. Membeli saham dengan cara investasi. Manfaat yang diterima adalah hasil dari usaha yang dibiayai oleh saham.
  3. Membeli pahala dengan cara meminjamkan atau bersedakah. Manfaat yang diterima adalah pahala dan ridha Allah, serta balasan di akherat kelak.

Bola uangManfaat uang didapatkan dengan menggunakan uang dalam pertukaran antar manusia secara adil dan nilai yang setara. Uang yang disimpan tidak mendatangkan manfaat. Jika timbul manfaat materi dari uang yang disimpan atau dari uang yang digunakan untuk membeli pahala atau dari transaksi yang tidak adil dan tidak setara nilai, maka manfaat tersebut tidak sah, ilegal secara syar’i, disebut dengan riba.

Peggunaan uang oleh pihak lain harus diawali dengan akad/transaksi yang jelas. Apakah untuk membeli barang atau jasa? Ataukah untuk investasi? Atau untuk kebajikan sosial (meminjamkan, sedekah, wakaf, dan sebagainya)?

Investasi merupakan bentuk ketidakpastian yang alami (natural uncertainty) karena hasil dari sebuah usaha pasti berada di antara 3 kemungkinan:

  1. Positive Return (Profit), saat usaha menghasilkan laba;
  2. No Return, Saat hasil usaha berada pada posisi impas, tidak untung, tidak pula rugi; dan
  3. Negative Return (Loss), saat usaha mengalami kerugian.

Untuk itu, setiap uang yang diinvestasikan dalam suatu usaha akan menghadapi ketiga kemungkinan tersebut. Memaksakan hasil usaha hanya pada satu posisi untung saja (premium to uncertainty) merupakan tindak kezaliman yang ditolak oleh syariah.

Pendapat yang mengatakan bahwa bunga bukan riba dan merupakan sesuatu yang legal merupakan pendapat yang salah dengan alasan sebagai berikut:

  1. Dikatakan bahwa bunga merupakan konsekwensi dari menurunnya nilai uang seiring perjalanan waktu. Hal ini tidak benar, sebab teori nilai waktu uang lebih banyak dipengaruhi oleh adanya bunga.
  2. Dikatakan bahwa bunga merupakan konsekwensi dari inflasi. Hal ini tidak benar, justru sebaliknya, salah satu faktor terjadinya inflasi adalah bunga.
  3. Dikatakan bahwa bunga merupakan jasa atas penggunaan uang oleh pihak lain berupa pinjaman. Hal ini yang tidak diterima oleh syariah. Pinjam-meminjam merupakan akad kebajikan sosial. Setiap manfaat materi yang timbul dari akad kebajikan sosial disebut riba.
  4. Dikatakan bahwa bunga merupakan bentuk bagi hasil dari penggunaan uang dalam investasi. Hal ini tidak benar, sebab bunga ditentukan di awal transaksi akan diberikan secara terus-menerus atau selama periode transaksi tanpa penjelasan penggunaan uang dan tanpa ada diktum jika investasi berada pada posisi no return atau negative return. Dalam hal ini penetapan bunga merupaka tindak memaksakan suatu investasi hanya pada satu posisi: positive return.

 

Nilai Ekonomi Waktu

Atas dasar pembahasan tentang uang dan bunga di atas maka manajemen keuangan syariah menolak teori Nilai Waktu Uang (Time Value of Money). Sebagai solusinya Syariah menawarkan Nilai Ekonomi Waktu (Economic Value of Time). Maksudnya adalah: Waktu memiliki pengaruh ekonomi terhadap aset, termasuk di dalamnya terhadap uang.

Uang Rp 1 juta jika dipakai untuk bisnis selama 1 bulan, bisa mendapatkan laba Rp 100 ribu sehingga jumlahnya menjadi Rp 1.100.000,- tapi bisa juga rugi Rp 100 ribu sehingga pada akhir bulan menjadi Rp 900 ribu. Jika diambil kemungkinan positive return, bulan ke-2 jumlah uang sudah Rp 1.100.000,- dan tetap dipakai untuk bisnis, mendapat untung Rp 100 ribu lagi, maka jumlah uang di akhir bulan ke-2 menjadi Rp 1.200.000,- Perjalanan waktu selama dua bulan menjadikan uang yang asalnya sebesar Rp 1.000.000,- menjadi Rp 1.200.000,-, atau tumbuh 10% setiap bulan.

Pertumbuhan 10% dari uang RP 1 juta itulah yang disebut dengan nilai ekonomi waktu.

Nilai ekonomi waktu akan didapatkan jika terjadi pergerakan uang. Uang yang tidak bergerak atau disimpan saja tidak akan mendapatkan manfaat dari Nilai Ekonomi Waktu.

Jika teori Nilai Waktu Uang (Time Value of Money) berbasis kepada bunga, maka teori Nilai Ekonomi Waktu (Economic Value of Time) berbasis kepada hasil usaha, dalam hal ini adalah nisbah bagi hasil.

 

Nisbah dalam Investasi dan Simpanan

Dalam pembahasan tentang bunga diberikan simulasi perhitungannya. Dalam pembahasan tentang nisbah ini juga akan diberikan simulasi perhitungan nisbah bagi hasil dengan pokok dana yang sama.

Terdapat beberapa model pengembalian dana pembiayaan (mudharabah)

  1. Model Sliding (menurun). Nominal Marjin menurun.
  2. Model Average (Rerata). Model menurun yang dicari nilai rataannya agar pembayaran angsuran bisa sama atau tetap setiap bulan.
  3. Model Menanjak. Nominal marjin menanjak.
  4. Model Anuitas. Jumlah angsuran tetap. Meskipun model Average sebenarnya sudah bisa memenuhi kriteria anuitas, karena total angsuran setiap bulan sudah sama setiap bulannya, tetapi jika disebutkan model Anuitas, maka digunakan rumus tersendiri.

 

Dalam hal simpanan dana, perhitungan bagi hasil diperhitungkan secara majemuk (compounded) yang berbasis pada rerata saldo bulanan.

Data yang diperlukan untuk perhitungan adalah besaran rerata saldo bulanan nasabah, besaran nisbah bagi hasil, dan angka HI-1000.

HI-1000 merupakan angka yang menunjukkan hasil investasi yang diperoleh dari penyaluran setiap seribu rupiah dana yang diinvestasikan oleh bank. Angka ini didapatkan dari perhitungan rasio antara hasil investasi dengan dana yang diinvestasikan dikali 1000. Karena kondisi investasi yang sangat dinamis maka angka ini setiap hari mengalami penyesuaian dan dapat dicek langsung melalui pihak Bank.

Jika dibandingkan antara perhitungan bunga dengan perhitungan nisbah bagi hasil maka terdapat persamaan pada hasil meskipun sebagian rumus yang digunakan berbeda. Perbedaan rumus tersebut disebabkan oleh perbedaan basis, yaitu antara bunga dan nisbah bagi hasil.

Sepintas nampak bahwa hasil perhitungan sama, tetapi pada hakekatnya terdapat perbedaan yang sangat prinsipil, yaitu pada perhitungan dengan nisbah bagi hasil, hasilnya bersih dari unsur yang dilarang oleh syariah, sehingga sebenarnya di dalamnya terkandung kelebihan, yaitu berkah.

 

Contoh praktek penghitungan bunga bisa dilihat di Keuangan Syariah.

Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda: