Konflik Sosial dan Peran Akademisi, 2019

konflik sosialKonflik Sosial dan Peran Akademisi

PENDAHULUAN

Sebagai ilustrasi bagi penanganan konflik sosial, kita perhatikan dua buah hadits berikut:

Ada sebuah riwayat hadits yang mengisahkan pengakuan setan yang takut masuk ke masjid untuk merusak shalat seseorang yang shalat karena ada seorang alim yang tertidur di dekat orang yang shalat tersebut.

Ada pula sebuah riwayat bahwa Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berobat ketika sakit, karena setiap penyakit pasti ada obatnya.

Kedua hadits di atas menjadi ilustrasi awal untuk makalah tentang peranan akademisi, termasuk di dalamnya para tokoh agama dan para cerdik pandai dalam menangani dan mencegah masalah konflik social.

Dari kedua hadits di atas bisa ditarik suatu pemikiran bahwa jika konflik sosial merupakan suatu penyakit (sosial) dan untuk itu perlu diyakini terdapatnya virus penyebabnya, maka penyakit tersebut bisa disembuhkan dan dicegah oleh orang yang ditakuti oleh virus tersebut.

 

KONFLIK SOSIAL SEBAGAI SUATU PENYAKIT

Para pakar sudah banyak menjelaskan tentang definisi Konflik Sosial, akar masalah, dampak, cara penanggulangan, dan pencegahannya. Dari sekian banyak penjelasan para pakar dapat dipetik beberapa poin penting tentang konflik sosial sebagai berikut:

  1. Konflik sosial terjadi akibat benturan kepentingan individu atau kelompok masyarakat yang tidak menemukan solusi.
  2. Terdapat korelasi negatif antara tingkat Pendidikan masyarakat dengan konflik sosial; antara taraf ekonomi masyarakat dengan konflik sosial; dan tingkat keajegan pranata sosial dengan konflik sosial, serta terdapat korelasi positif antara heterogenitas masyarakat dengan konflik sosial.
  3. Tingkat kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial para tokoh masyarakat merupakan faktor penting dalam penanganan dan pencegahan konflik sosial.

Definisi lebih banyak silakan layari 32 Pengertian Konflik Menurut Para Ahli

Perbedaan kepentingan individu atau kelompok dalam suatu komunitas merupakan sesuatu yang niscaya dan tidak bisa dihindari, bahkan menjadi bagian dari hukum alam (sunnatullah). Penerimaan terhadap perbedaan itulah yang merupakan sesuatu yang sangat rentan untuk dijadikan pemicu konflik sosial sehingga wajib dijadikan sebagai titik fokus utama bagi para pemerhati penanganan dan pencegahan konflik sosial, Hal itu karena penerimaan terhadap perbedaan menuntut kerelaan untuk menerima ketidakpuasan ketika tidak semua kepentingannya terpenuhi.

Tingkat kerelaan untuk menerima ketidakpuasan merupakan sesuatu yang sangat labil karena merupakan bagian dari rasa yang sangat sensitif. Sangat mudah dipengaruhi oleh opini yang dimiliki seseorang, sedangkan opini terbentuk dari argumen.

Jika argumen yang dimiliki oleh seseorang, baik yang disusunnya sendiri maupun yang diterimanya dari orang lain merupakan argumen yang sehat, maka opininya pun akan sehat, sehingga memberi pertimbangan yang sehat bagi rasa yang dimilikinya untuk meningkatkan kadar kerelaannya. Namun jika argumennya sakit, maka pada ujungnya menurunkan kadar kerelaannya untuk menerima ketidakpuasan. Jika tidak juga menemukan saluran solusi, maka akan meledak keluar dan terjadilah konflik sosial.

Argumen yang sehat adalah argumen yang dibangun berdasarkan fakta yang riil, valid, logis, dan legal. Bangunan argumen yang sehat memerlukan pemahaman yang komprehensif tentang ajaran agama, kewajiban dan hak, kaidah ilmiyah, filosofi kultur dan budaya, serta hukum formal dan kesepakatan.

Fakta bahwa masyarakat dengan taraf pendidikan yang rendah, masyarakat yang taraf ekonominya rendah, masyarakat dengan pranata sosial yang tidak ajeg, dan masyarakat yang sangat heterogen, baik oleh salah satu dari faktor-faktor di atas atau oleh kumpulan faktor-faktor tersebut, sangat mudah terprovokasi untuk meletupkan konflik sosial merupakan hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan.

Fakta lain bahwa kebanyakan provokasi dilahirkan oleh mereka yang memiliki “pendidikan yang cukup” merupakan suatu “kecelakaan” yang memrihatinkan. Bisikan provokasi tersebut bisa kita sebut dengan waswasil khonnas, meminjam istilah dari QS. An-nas 4, yang berarti “bisikan setan yang bersembunyi”, yang terdiri dari jenis jin dan manusia (QS. An-Nas 6).

Kecerdasan intelektual tidak cukup. Dibutuhkan kecerdasan lain untuk mengobati penyakit konflik sosial, yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial yang cukup untuk dapat menyusun argumen yang sehat.

 

PERAN AKADEMISI

Mereka yang menuntut ilmu dan sudah dinyatakan memiliki ilmu dengan gelar akademik atau pun gelar sosial memiliki tanggung jawab ilmiyah untuk menyebarkan dan mengimplementasikan ilmunya bagi kemaslahatan kemanusiaan. Mereka seringkali disebut sebagai para cerdik-pandai, tokoh agama, alim-ulama, para sarjana, para akademisi.

Para akademisi, baik yang masih aktif di kampus dan lembaga pendidikan, maupun yang berjuang di bidang non pendidikan, memiliki tradisi tiga aktifitas yang disebut dengan TRI DHARMA: Pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga aktivitas tersebut berkait-berkelindan dalam satu lingkar yang dinamis.

Dalam konteks Peran Akademisi dalam Penanganan dan Pencegahan Konflik Sosial, para akademisi dalam tradisi ilmiyahnya terbiasa untuk menemukan data dan fakta sosial yang kemudian disaring dan diramu menjadi argumen untuk selanjutnya diolah dalam upaya menemukan rumusan dan tesis tentang aplikasi dan solusi yang bermanfaat bagi upaya bersama menangani dan mencegah konflik sosial.

Dengan demikian, bila hendak dituliskan secara numerik, maka Peran Akademisi dalam Penanganan dan Pencegahan Konflik Sosial adalah sebagai berikut:

  1. Membaca dan menelaah data dan fakta sosial dalam kehidupan keseharian.
  2. Menangkap dan mengindentifikasi masalah yang timbul, baik yang insidentil maupun yang berkelanjutan.
  3. Mengidentifikasi akar masalah.
  4. Menganalisis masalah untuk menerbitkan argumen-argumen yang relevan.
  5. Merumuskan alternatif aplikasi dan/atau solusi.
  6. Menyampaikan aplikasi dan/atau solusi kepada para pemangku kepentingan yang terkait dan berwenang.

 

SARAN DAN HARAPAN

Dari paparan di atas dapat dipetik beberapa butir penting sebagai saran makalah ini sebagai berikut:

  1. Perlu adanya kerja sama yang berkelanjutan antara Pemerintah Daerah dan Desa dengan Lembaga Pendidikan atau Kelompok Akademisi dalam upaya berkelanjutan menangani dan mencegah konflik sosial.
  2. Perlu pelibatan akademisi dalam urusan kemasyarakatan oleh Pemerintah Daerah dan Desa secara nyata.
  3. Perlu investasi sumber daya manusia oleh Pemerintah Daerah dan Desa berupa beasiswa bagai warga masyarakat di pendidikan agama dan pendidikan tinggi.

 

 

Judul Asli: Peran Akademisi dalam Penanganan dan Pencegahan Konflik Sosial di Kabupaten Sumbawa Barat
Disampaikan pada:
Workshop Internalisasi Kurikulum Bina Damai dalam Pendidikan Perdamaian bagi Aparatur Daerah/Desa
Diselenggarakan oleh:
Direktorat Penanganan Daerah Pasca Konflik, Ditjen. Pembangunan Daerah Tertentu
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI
Hotel Grand Royal Taliwang, 17 – 18 Juli 2019

Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda:
Close Menu