Kewirausahaan 2, The Successful Entrepreneurship

Bagian I – Kewirausahaan

Wirausaha dan Wiraswasta

Ada dua kata yang seolah-olah memiliki arti yang sama tetapi sebenarnya  kandungan makna yang berbeda, yaitu kata Wiraswasta dan Wirausaha. Masyarakat umum lebih akrab dengan kata wiraswasta.

Wira berasal dari bahasa Sangskerta yang berarti manusia unggul, berani, berjiwa besar, pahlawan, dan makna-makna lain yang senada.

Swa: sendiri

Sta: berdiri

Usaha: suatu upaya, baik berupa gerak fisik, olah pikir, ataupun olah hati, untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. Dalam dunia ekonomi, usaha dimaknai dengan suatu upaya produktif untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi.

JIka kata-kata tersebut digabungkan maka timbul pemahaman baru yang sebagai berikut:

Wiraswasta berarti usaha mandiri, usaha seseorang untuk menciptakan sumber penghidupannya sendiri. Dalam hal ini, siapa pun yang mampu melakukan dan memiliki usaha mandiri yang dengan usahanya itu dia mendapatkan pendapatan atau penghasilan, bisa disebut sebagai wiraswastawan, meskipun seandainya dia pun seorang karyawan di lembaga pemerintah atau swasta/non-pemerintah.

Seorang petani yang menanam padi dan palawija adalah seorang wiraswastawan; Seorang guru atau pelatih privat adalah wiraswastawan; seorang pengrajin – apapun bentuk keterampilannya – yang mampu menjual hasil karyanya adalah seorang wiraswastawan; seorang nelayan adalah wiraswastawan; Apalagi mereka yang berbisnis dalam bidang apa pun, pada skala apa pun, adalah seorang wiraswastawan.

Apa bedanya dengan wirausaha?

Wirausaha adalah jiwa, semangat, kemampuan untuk mengelola sumber-sumber yang ada untuk mencapai kesuksesan yang disertai dengan kreativitas dan inovasi, bahkan ide-ide yang tidak biasa.

Petani adalah wiraswastawan, tapi belum tentu seorang wirausahawan; karena petani wirausahawan adalah mereka yang tidak bercocoktanam secara tradisional ataupun konvensional, tetapi petani yang berani melakukan perubahan dalam pola pertaniannya sehingga dia mendapatkan penghasilan yang tidak seperti para petani lainnya.

Pedagang bakso adalah wiraswastawan, tapi belum tentu wirausahawan; Pedagang bakso wirausahawan akan melakukan sesuatu yang “aneh” atau mungkin dianggap “gila” sehingga usahanya memberikan pernghasilan yang lebih.

Nelayan adalah wiraswastawan, tapi Nelayan wirausahawan bukan sekedar turun melaut dengan perahu di waktu malam dan pulang saat subuh dengan ikan hasil tangkapannya kemudian istirahat seperti para nelayan yang lain. Nelayan wirausahawan akan melanjutkannya dengan sesuatu yang membuat hasil tangkapan ikannya memberi nilai tambah yang sangat besar dibandingkan dengan hasil yang didapat oleh para nelayan yang lain.

Begitulah seterusnya… Tidak semua wiraswastawan adalah wirausahawan. Untuk menjadi wirausahawan diperlukan sesuatu yang lebih dan tidak biasa dibandingkan dengan yang lainnya.

Wirausaha lebih unggul dari wiraswasta. Karena sedikit orang yang bisa melakukan wirausaha, maka yang akrab dalam masyarakat umum adalah wiraswasta.

 

Karakteristik Wirausahawan

Bila diamati dari para wirausahawan sukses, dapat disimpulkan karakteristik yang mereka miliki adalah sebagai berikut:

  1. Percaya diri: kemandirian, optimisme, kemantapan pribadi.

I CanKeyakinan dan kepercayaan kepada diri sendiri merupakan bekal utama yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Keyakinan pasti diiringi oleh optimisme dan kepribadian yang mantap, stabil, dan tidak mudah goyah oleh tanggapan orang lain.

Resep Harland Sanders akhirnya disukai di seluruh dunia dan dikonsumsi oleh hampir 1 milyar orang setelah dia menawarkan resepnya dengan sepenuh keyakinan selama dua tahun, ditertawakan dan ditolak lebih dari 1000 kali. Resep rahasia Kentucky Fried Chicken.

  1. Orientasi tugas dan hasil: tekad, kerja keras, energik, tekun dan tabah.

Sikap yang wajib dimiliki oleh seorang wirausahawan adalah kerja keras dengan tekun dan tabah. Fikirannya selalu memikirkan bagaimana cara sukses tanpa peduli posisinya tertinggal oleh kompetitor.

Macintosh atau lebih dikenal dengan Mac adalah contoh kebangkitan kewirausahaan perusahaan komputer yang pernah bangkrut kalah bersaing dengan Windows. Kejatuhannya justru membuatnya bangkit lebih tinggi dengan Apple untuk komputer bagi para high-class, bahkan merambah ke smartphone iPhone, iPad, dan rombongannya.

  1. Berani mengambil resiko: punya perhitungan yang matang, punya kemampuan solusi untuk masalah.

Kegiatan usaha pasti menghadapi kemungkinan sukses dan kemungkinan gagal. Resiko kegagalan inilah yang ditakuti oleh banyak orang sehingga tidak berani berusaha. Para wirausahawan adalah mereka yang berani menghadapi resiko dan berhasil mengatasinya, tentu dengan perhitungan yang matang dan kemampuan untuk mencari langkah solutif yang tepat dalam menghadapi setiap kondisi yang datang tiba-tiba.

Sempat tertinggal jauh dari pesaingnya di pasaran handphone yang saat itu dikuasai oleh Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan lainnya, Samsung yang sejak awal hendak memperkenalkan touchscreen handphone dengan sistem Android tidak surut walau harus mengorbankan banyak sumberdayanya.

  1. Kepemimpinan: mampu membuat orang lain mengerjakan sesuatu dengan suka hati, memiliki manajemen.

Pemimpin yang sebenarnya bukan  mereka yang bisa berkerja sendirian, bukan juga mereka yang hanya pandai memberi perintah. Pemimpin yang sebenarnya adalah mereka yang mampu membuat orang lain melakukan suatu pekerjaan dengan sukacita. Kepemimpinan seperti itulah yang dimiliki oleh para wirausahawan

Kerja tim yang kompak dan penuh motivasi adalah salahsatu kunci sukses yang dipegang oleh Bill Gates (Microsoft) dan Mark Zuckerberg (Facebook).

  1. Originalitas: inovasi, kreativitas, fleksibilitas.

Para wirausahawan seringkali dianggap “gila” karena ide-ide mereka yang dianggap aneh, tidak lazim, dan tidak biasa.

Iwan Fals, Ebiet G. Ade, dan Rhoma Irama di tahun 1970an dianggap sebagai para pemusik gila ketika mereka menawarkan konsep musik yang aneh di telinga masyarakat. Namun akhirnya mereka menjadi idola bagi para pecinta musik pada genre masing-masing.

  1. Visioner: Orientasi masa depan, pandai mengambil pelajaran dari masa lalu, berfikir out of the box.

Jeli melihat peluang, para wirausahawan memiliki wawasan masa depan yang tepat.

Tokopedia yang dirintis oleh William Tanuwijaya pada tahun 2009, Buka Lapak oleh Achmad Zaky pada tahun 2010, dan Gojek oleh Nadiem Makarim pada tahun 2010 adalah contoh kemampuan para milenial dalam melihat jauh ke depan, saat kehidupan sudah dikuasai oleh dunia internet dan teknologi 4,0.

Beberapa contoh yang disebutkan di atas barangkali justru menimbulkan kesan keliru karena yang tampak saat ini adalah kesuksesan mereka. Banyak orang tidak membaca cerita perjuangan mereka, sehingga muncullah beberapa mitos tentang kewirausahaan. Berikut contoh mitos tersebut dan jawabannya:

  1. Wirausahawan adalah mereka yang nekad menerjang resiko tinggi.

MitosJawaban:   Wirausahawan bukan pasukan bunuh diri. Mereka memperhitungkan dengan cermat semua resiko yang mereka hadapi dan menyiapkan langkah-langkah yang matang untuk menghadapi resiko tersebut. Mereka bijak dalam dalam memilih resiko dan bukan pejudi.

  1. Wirausahawan adalah pemilik perusahaan.

Jawaban:   Yang menjadikan Mc Donald menjadi waralaba yang ada hampir di seluruh pelosok dunia adalah Ray Kroc, pemimpin perusahaan, bukan pemiliknya Donald Bersaudara.

  1. Inovasi adalah gagasan besar.

Jawaban:   Keberhasilan yang besar banyak yang dimulai dari sebuah gagasan kecil dan sederhana. Walkman berawal dari keinginan yang sederhana, ingin mendengar lagu dimana saja tanpa menganggu orang lain.

  1. Hanya orang genius yang bisa menjadi wirausahawan.

Jawaban:   Fred Smith – untuk kepentingan tesisnya – mengamati sistem pengiriman paket di kantor pos dan beberapa perusahaan kurir/ekspedisi. Tesisnya hanya diberi nilai C- oleh para penguji. Tapi hasil kajian Fred justru menjadi perusahaan kurir terbesar di dunia dengan nama FedEx (Federal Express).

  1. Wirausahawan dilahirkan, bukan hasil latihan.

Jawaban:   Memang ada perdebatan antara teori belajar dan teori bawaan jika dikaitkan dengan orang-orang yang sukses: pemimpin, wirausahawan, dan sebagainya. Tetapi siapa yang tahu bahwa kesuksesan itu adalah sebuah bawaan jika tidak pernah dicoba dan diperjuangkan? Barangkali anda memiliki bawaan untuk menjadi wirausahawan sukses, kenapa tidak dicoba dan diwujudkan?

 

Tahapan Cipta Wirausaha

Sekali lagi, bila diamati dari para wirausahawan sukses, dapat disimpulkan bahwa mereka tidak bermain sulap dengan merapal mantera sim salabim adakadabra lantas usahanya terwujud dalam kondisi sukses besar.  Mereka pun tidak memiliki jin seperti jin sahabat Aladin dalam dongeng 1001 Malam yang dapat mewujudkan segala sesuatu dalam sekejap mata. Kesuksesan para wirausahawan selalu menempuh tahapan-tahapan yang secara garis besar dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Imitasi dan duplikasi

Tahap awal adalah meniru. Ide atau gagasan orang lain diikuti dan ditiru untuk dipelajari lebih dalam, dikenal lebih baik, dan dipahami seluk-beuknya.

  1. Modifikasi dan pengembangan

Setelah mengetahui seluk-beluk suatu gagasan, diketahui bagian mana titik-titik lemah dan mana titik-titk kuat dilakukan modifikasi dengan sesuatu yang baru.

  1. Cipta dan kreativitas.

KreatifPerubahan, perbaikan, penambahan, atau kalau perlu pengurangan terhadap suatu gagasan agar menjadi lebih baik dan lebih kuat diwujudkan sebagai seuah gagasan baru.

Pisang goreng adalah makanan camilan yang sudah ada sejak dahulu. Pisang dikupas dan dipotong menjadi dua bagian, dicelupkan pada adonan tepung yang diberi gula dan sedikit garam, lantas digoreng hingga masak. Dimodifikasi…. Tidak lagi dicelup ke dalam adonan tepung, tapi langsung digoreng, setelah masak ditaburi dengan serutan keju dan serbuk coklat. Jenis makanan baru tercipta!

 

Bagian II – Memulai Usaha

Kiat Memulai Usaha

Kata pepatah: Perjalanan panjang selalu diawali dengan langkah pertama. Mimpi indah yang panjang hanya menjadi impian jika tidak diiringi dengan langkah nyata.

Ada orang takut naik pesawat karena membayangkan kekhawatiran jika pesawat yang dinaikinya jatuh. Ada yang takut naik kapal karena dibayangi kekhawatiran kapal akan tenggelam. Ada yang takut naik mobil karena dibayangi kehawatiran kecelakaan. Akhirnya tidak pergi kemana-mana. Sementara itu banyak orang yang menikmati panorama awan dari balik jendela pesawat, menikmati keindahan laut dari atas geladak kapal, menikmati keindahan alam dari balik jendela mobil.

Tinggal memilih saja, hidup dalam bayang-bayang ketakutan? Atau menikmati kehidupan sambil mengendalikan bayang-bayang?

Untuk mengendalikan bayang-bayang, terdapat beberapa kiat untuk memulai kewirausahaan sebagai berikut:

  1. Pasang niat dan bulatkan tekad!

Banyak orang yang berkeinginan dan mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Ka’bah dan Ziarah makam nabi dalam kesempatan umrah dan haji. Tapi hingga puluhan tahun keinginannya hanya tetap menjadi keinginan yang tak kunjung terwujud. Ternyata keinginannya tidak dikukuhkan dengan niat dan tekad.

Banyak kasus minteri tentang kekuatan spiritual daripada niat. Karena niat, jalan yang sempit seakan-akan melebar, jarak yang panjang seakan-akan memendek, dinding yang tebal seakan-akan tembus. Tentu yang dimaksud disini adalah niat yang menjadi obsesi yang menggebu-gebu.

Dalam hal ini, tentu misteri niat itu tidak bisa dijadikan acuan keberhasilan yang bisa digeneralisir pada semua orang. Karena lebih banyak lagi orang yang memulai mewujudkan niatnya dengan langkah nyata sehingga peran niat menjadi kabur. Hal itu karena manusia hanya bisa menyaksikan apa yang kasat mata. Tetapi niat yang kuat pasti sudah tertancap di sanubari para wirausahawan sukses.

  1. Tentukan usaha apa yang akan dilakukan!

Menentukan bidang bisnis yang akan digeluti merupakan bentuk dari memulai sesuatu dengan langkah pertama. Fokus kepada bidang yang akan digeluti akan membuat pola pikir menjadi tertata secara sistematis. Ini sebagai langkah awal. Bukan tidak boleh melakukan diversifikasi bisnis.

Sangat penting untuk memulai dengan bidang yang selaras dengan passion yang dimiliki.

PassionPassion tidak identik dengan hobi atau kegemaran, sehingga tidak semua hobi atau kegemaran bisa disebut passion. Passion pun bukan obsesi.

Passion berasal dari bahasa Inggris yang berarti: gairah. Secara terminologi passion berarti kecenderungan jiwa terhadap sesuatu yang bisa membuat jiwa sangat bersemangat di saat menggeluti sesuatu tersebut, merasa bahagia dan merasa kenikmatan batin ketika mendapatkan sesuatu tersebut, dan tidak pernah merasa bosan terhadap sesuatu tersebut.

  1. Rancang dan bangun!

Banyak jalan menuju Roma. Kalau kita dari Jakarta, kita bisa ke Roma lewat jalur ke Amerika dulu, atau jalur ke Makkah dulu, atau jalur ke Mesir dulu, atau jalur ke Beijing dulu, jika memang tidak ada jalur langsung ke Roma tanpa transit. Tetapi jalur manakah yang paling pendek dan paling singkat? Jalur manakah yang paling menguntungkan? Jalur manakah yang paling sesuai dengan kondisi keuagan kita?

Itulah pentingnya rancangan. Agar langkah-langkah kita tidak tersesat, dan agar tidak melakukan hal yang tidak perlu dilakukan. Semuanya mesti efektif dan efisien.

  1. Pilih waktu yang pas!

Jangan jual es di musim dingin!

Nasehat di atas memang bijak. Senikmat apa pun semangkok es campur, segila apa pun penggemar es campur, mereka akan menahan diri untuk meminum es di musim dingin, karena tubuh mereka memang sedang membutuhkan suhu yang hangat.

Tetapi bagaimana jika bisnis kita memang tentang es?

Waktu dan kondisi lingkungan memang memberi pengaruh cukup besar bagi dunia bisnis. Tetapi bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh. Masih ada faktor-faktor lain yang berpengaruh, termasuk di antaranya adalah faktor keinginan pembeli untuk membeli. Inilah tantangan wirausahawan.

Untuk memulai, nasehat di atas memang sangat bijak.

  1. Libatkan orang-orang dekat!

Sebaiknya tidak berjalan sendirian. Bisnis sebenarnya merupakan salahsatu bagian kecil dari interaksi antar manusia. Interaksi berupa dialog, berbagi pandangan, berjalin tangan. Hal itu akan memperkuat posisi.

Orang dekat adalah pasangan, anak, orangtua, saudara, keluarga, termasuk sahabat.

Bukankah bisnis perlu promosi, dan promosi terbaik pasti akan disebarkan oleh orang-orang dekat. Bukankah dukungan orang-orang dekat mengandung harapan dan doa?

  1. Siapkan modal segera setelah memiliki dana!

Modal bukan segalanya, yang penting trust, kepercayaan.

Betul… itu bagi mereka yang sudah dipercaya oleh pemilik modal. Para pemula membutuhkan modal. Tidak terlalu banyak, sekedar cukup untuk memulai, baik untuk persediaan ataupun operasional. Sebaiknya modal sendiri dan menghindari utang di tahap awal.

  1. Buat rekening terpisah!

Manajemen keuangan bagi pebisnis hukumnya wajib.

Penataan keuangan harus dilakukan sejak tahap awal. Sejak penyiapan modal, pengadaan peralatan dan bahan, biaya opersional, sampai kepada hasil penjualan dan perhitungan laba. Untuk itu rekening bisnis harus terpisah dari rekening pribadi. Tidak ada keperluan pribadi yang boleh diambil dari rekening bisnis.

Lantas apa gunanya bisnis jika tidak bisa menikmati hasilnya?

Siapa bilang tidak bisa? Pada waktu yang ditentukan dilakukan pemindahbukuan dari rekening bisnis ke rekening pribadi. Yang dipindahbukukan adalah laba usaha, entah 100% atau 10%. Laba yang sudah dimasukkan ke rekening pribadi itulah yang bisa dinikmati. Lebih dari itu dianggap utang yang wajib dibayar.

  1. Kuatkan nilai jual produk dan layanan!

Pembeli adalah raja.

Tapi penjual bukan budak. Penjual hanya pelayan yang memberikan service yang memuaskan pembeli. Karena jika pembeli puas, maka kantongnya (nyata ataupun digital) bisa dikosongkan.

Agar pembeli puas, maka dua hal yang harus menjadi perhatian: produk dan layanan.

Layanan merupakan bentuk interaksi yang memberi pengaruh sangat kuat kepada pembeli agar mau membeli suatu produk. Bahasa yang santun memang bagus, tapi bahasa yang tegas tetapi sopan lebih bagus, karena dalam ketegasan tersebut tercermin kejujuran, kesesuaian produk, dan kejelasan transaksi. Termasuk dalam pelayanan yang baik adalah penawaran produk yang bermutu.

Ada pembeli yang puas dengan produk sekedarnya, tapi ada pula yang mengharapkan produk yang bermutu tinggi. Produk yang bermutu bisa karena memang bahan utamanya adalah sesuatu yang bermutu, tapi ada juga yang bahan utamanya biasa tetapi dimodifikasi dan diupgrade sehingga menjadi produk yang bermutu.

Keputusan pembeli untuk jadi membeli atau batal membeli merupakan hak asasi pembeli yang tidak boleh diganggu-gugat. Keputusan itu bisa dipengaruhi tetapi tidak boleh dipaksa. Dan jika keputusan akhirnya adalah batal membeli, keputusan itu wajib dihormati dengan raut muka dan suara yang manis. Karena sikap akhir itu akan memberi kesan yang mendalam bagi pembeli.

  1. Undang banyak orang ketika launching!

Dunia harus tahu apa yang kita lakukan, sehingga dunia tahu siapa kita.

Jangan dibalik menjadi: Dunia harus tahu siapa kita sehingga dunia tahu apa yang kita lakukan. Biarlah dunia mengetahui kita dari karya kita.

Ketika mereka membutuhkan kaos mereka segera mencari kita karena mereka tahu kita memroduksi kaos. Bukan mereka mencari kita lantas bertanya: apa yang kita jual atau apa yang kita produksi? Pencarian yang pertama adalah pencarian yang disertai keyakinan, sedangkan pencarian kedua adalah pencarian yang penuh keraguan.

  1. Jangan ragu memberi free sampling atau give away!

Pernah lihat tabung parfum yang di luarnya tertulis “for test”? Pernah melihat promosi aplikasi komputer yang di bagian bawah tertulis: “Free try for 30 days!”?

Itu adalah model promosi agar pelanggan merasakan secara riil manfaat dari produk yang kita jual. Tapi ingat, keberanian untuk memberi free sampling harus didasari oleh keyakinan bahwa produk yang dijual memang memenuhi mutu yang diharapkan oleh konsumen. Berani diadu dengan produk lain yang sejenis.

Jangan pelit untuk free sampling ini. Karena studi pemasaran bisnis telah membuktikan bahwa 25% sampai 30% mereka yang pernah mendapatkan free sampling pasti akan membeli produknya. Tapi samplingnya jangan terlalu besar, apalagi seukuran produk aslinya. Itu sedekah namanya.

  1. Manfaatkan media sosial untuk memulai gebrakan

Dunia saat ini sudah ada dalam genggaman, bukan karena ukuran dunia menyusut menjadi kecil, tapi dunia memang sudah dapat dilihat dari smartphone yang ada dalam genggaman.

Cobalah foto pekarangan rumah kita yang biasa-biasa saja, kemudian upload ke internet, pasti akan kelihatan seperti panorama yang indah. Itu bagian dari the magic of photographs.

Zaman sekarang, apalagi masa mendatang, kehidupan sudah sulit dilepas dari internet dan media sosial. Maka berbisnis masa kini dan masa depan akan lebih cerah jika memanfaatkan media sosial secerah foto pekarangan rumah kita.

Ingat: Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.

 

Bagian III – Analisis Lingkungan Bisnis

Analisis terdiri dari dua bagian: Analisis Lingkungan Internal dan Analisis Lingkungan Eksternal.

Di antara model yang terkenal untuk analisis ekternal adalah model PEST ciptaan Francis Aguilar dan 5 Force milik Michael Porter. Sedangkan untuk analisis internal menggunakan model Value Chain Michael Porter. Hasil analisis eksternal dan internal dipadukan dengan Analisis SWOT milik Albert Humphrey.

 

Analisis PEST

PESTELPEST adalah singkatan dari Politic, Economy, Social, and Technology. Analisis PEST mengevaluasi faktor-faktor ekonomi makro yang memiliki pengaruh secara lebih luas.

Faktor Politik, berkaitan dengan kondisi politik, kebijakan pemerintah seperti peraturan, program, dan larangan yang terkait dengan bidang usaha dan ekonomi. Contoh: Program subsidi modal bagi usaha mikro dan usaha kecil; Dukungan bagi industri lokal; Program One Village One Product, dan lain sebagainya.

Faktor Ekonomi, berkaitan dengan kondisi ekonomi seperti keadaan inflasi, tingkat suku bunga yang sedang berlaku, kondisi supply and demand komoditi tertentu, dan sebagainya.

Faktor Sosial, berkaitan dengan sosial budaya masyarakat yang menjadi pangsa pasar. Di antaranya tentang gaya hidup masyarakat, tingkat pendidikan, tarap ekonomi, kebiasaan, dan lain sebagainya.

Faktor Teknologi, berkaitan dengan keterkaitan usaha yang dijalankan dengan teknologi, baik teknologi mesin, elektronik, informasi, dan lainnya. Contoh: penggunaan mesin, penggunaan jaringan seluler, penggunaan kendaraan, dan sebagainya.

Pada perkembangannya, Analisis PEST tersebut ditambah lagi dengan dua faktor, yaitu Environt (lingkungan) dan Legal (Hukum) sehingga disingkat menjadi PESTEL.

Faktor Lingkungan, berkaitan dengan peraturan pemerintah tentang pemeliharaan lingkungan, seperti penggunaan plastik, tingkat emisi bahan bakar yang diizinkan, daur ulang imbah, dan sebagainya.

Faktor Hukum, berkaitan dengan peraturan-peraturan tentang usaha, seperti undang-undang tentang hak cipta dan paten, tentang persaingan usaha, tentang informasi dan transaksi elektronik, tentang perlindungan konsumen, dan sebagainya.

Semua informasi yang ada dan berkaitan dengan usaha yang akan dijalankan dicatat dan dikelompokkan menurut faktor-faktor PEST/PESTEL.

 

Analisis 5 Kekuatan

5 forcesModel 5 Kekuatan Porter atau yang dikenal dengan 5 Forces Model adalah alat analisis yang terdiri dari lima kelompok faktor yang berkaitan dengan eksistensi suatu usaha di tengah persaingan usaha. Model ini bisa digunakan untuk usaha yang sudah eksis, tapi juga bisa digunakan untuk usaha yang baru masuk seperti yang akan dibahas kali ini. Kelima faktor tersebut adalah:

  1. Threat of New Entrants (Hambatan bagi Pendatang baru).
  2. Bargaining Power of Suppliers (Posisi Tawar Pemasok)
  3. Bargaining Power of Buyers (Posisi Tawar Pembeli)
  4. Threat of Substituties (Hambatan Barang Pengganti)
  5. Rivalry among Existing Competitors (Persaingan antar Pesaing)

Tantangan Pendatang Baru.

Beberapa faktor yang dihadapi oleh para pendatang baru adalah:

  1. Hambatan masuk (barriers to entry) oleh pelaku bisnis yang sudah ada. Pendatang baru berarti bertambahnya pesaing di pasar yang membuat persaingan semakin keras dan bisa merubah banyak hal seperti harga bahan baku, harga produk, dan sebagainya.
  2. Ekonomi Skala (economies of scale) adalah fenomena turunnya biaya produksi per unit bersamaan dengan banyaknya jumlah produksi. Semakin besar jumlah produksi semakin rendah biaya produksi per unit. Besaran produksi berbanding terbaik dengan banyaknya pelaku pada usaha yang sama. Hal itu terkait dengan prinsip penawaran dan permintaan.
  3. Kesetiaan pelanggan kepada merek (brand loyalty) . Di dalam benak pelanggan sudah ada daftar merek untuk setiap komoditi yang mereka beli. Berpindah ke merek baru tidaklah mudah.
  4. Kecukupan modal (capital requirements) merupakan suatu regulasi yang mensyaratkan nominal tertentu bagi suatu usaha untuk mulai.
  5. Kecukupan pengalaman (cumulative experiences) masing-masing pelaku usaha.
  6. Kebijakan pemerintah (government policies) terkait dengan izin usaha.
  7. Akses saluran distribusi (access to distribution channels), terkait pemasaran dan penjualan.
  8. Biaya peralihan (switching cost) yang timbul jika pelanggan beralih dari satu pedagang ke pedagang lain.

Posisi Tawar Pemasok

Beberapa faktor yang berkaitan dengan pemasok adalah:

  1. Jumlah dan ukuran pemasok (number and size of suppliers). Jika jumlah pemasok banyak maka posisi tawar mereka rendah, begitu sebaliknya. Pemasok besar memiliki posisi tawar yang tinggi dibandingkan dengan pemasok kecil. Hal ini berkaitan dengan harga dan ketersediian bahan atau persediaan.
  2. Keunikan produk pemasok (uniqueness of each supplier’s product). Semakin unik produk pemasok semakin tinggi posisi tawarnya.
  3. Kemampuan Pemasok Utama dalam menyediakan produk pengganti (focal company’s ability to substitute).

Posisi Tawar Pembeli

Beberapa faktor yang berkaitan dengan pembeli adalah:

  1. Jumlah pelanggan (number of customers). Jika pembeli sedikit dan penjual banyak, maka pembeli memiliki daya tawar yang tinggi. Prinsip Supply and Demand.
  2. Ukuran pesanan pelanggan (size of each customer order). Pembeli besar memiliki posisi tawar yang tinggi.
  3. Perbedaan antar pesaing (differencies bentween competitors). Keragaman penjual memberi pilihan lebih banyak kepada pembeli untuk mereka bandingkan.
  4. Kepekaan harga (price sensitivity). Kepekaan pembeli terhadap harga produk, karena pembeli tidak akan mau membayar produk yang mutunya tidak sesuai dengan harga.
  5. Kemampuan pembeli untuk mengganti produk (buyer’s ability to substitute). Tidak semua pembeli berani berganti produk, tapi ada juga pembeli yang suka coba-coba produk baru.
  6. Ketersediaan informasi bagi pembeli (buyer’s information availibility). Semakin banyak informasi tentang produk yang dimiliki oleh pembeli semakin tinggi posisi tawar pembeli.
  7. Biaya peralihan (switching costs) yang timbul jika pelanggan beralih dari satu pedagang ke pedagang lain atau beralih produk.

Hambatan Barang Pengganti

Beberapa faktor yang berkaitan dengan barang pengganti adalah:

  1. Jumlah ketersediaan barang pengganti (number of substitute products available). Semakin banyak jumlah barang pengganti maka semakin banyak pilihan bagi pembeli.
  2. Kecenderungan pembeli untuk ganti produk (buyer prospensity to substitute). Tidak semua pembeli berani berganti produk, tapi ada juga pembeli yang suka coba-coba produk baru.
  3. Kinerja relatif harga produk pengganti (relative price performance of substitute).
  4. Persepsi tingkat diferensiasi produk (perceived level of product differentiation). Setiap produk diyakini memiliki keunggulan masing-masing.
  5. Biaya peralihan (switching costs) yang timbul jika pelanggan beralih produk.

Persaingan

Beberapa faktor yang berkaitan dengan persaingan adalah:

  1. Jumlah pesaing (number of competitors). Besarnya jumlah pesaing membuat persaingan semakin keras dan bisa merubah banyak hal seperti harga bahan, harga produk, dan lainnya.
  2. Keragaman pesaing (diversity of competitors). Inovasi dan kreativitas memegang peranan penting dalam memenangkan persaingan.
  3. Konsentrasi industri (industry concentration). Kebijakan industri untuk fokus pada kelompok produk tertentu.
  4. Pertumbuhan industri (industry growth). Tingkat pertumbuhan suatu industri memiliki pengaruh dalam persaingan.
  5. Perbedaan mutu (quality differences). Setiap tingkat mutu suatu produk memiliki pangsanya masing-masing.
  6. Kesetiaan kepada merek (brand loyalty).
  7. Hambatan untuk keluar (barriers to exit). Kendala-kendala yang menghambat suatu pihak untuk keluar dari pasar atau persaingan.
  8. Biaya peralihan (switching costs) yang timbul sebagai akibat dari persaingan yang memaksa terjadinya peralihan produk, pemasok, strategi, atau lainnya.

 

Analisis Fungsional

FungsionalAnalisis fungsional adalah alat analisis internal yang bersifat teknis. Analisis dilakukan dengan merumuskan aktivitas-aktivitas perusahaan ke dalam setiap fungsi yang ada. Pada umumnya, fungsi perusahaan terdiri dari 5 bagian:

  1. Operasi
  2. Keuangan
  3. Sumberdaya manusia.
  4. Pemasaran
  5. Lainnya, seperti Penelitian dan Pengembangan; Informasi dan Komunikasi, .

 

SWOT

SWOT singkatan dari Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (tantangan) merupakan alat analisis yang sering digunakan untuk mengetahui situasi suatu usaha dan langkah strategis yang diperlukan untuk kelanjutannya.

Evaluasi pada SWOT mencakup dua sisi, internal yang menjadi faktor-faktor kekuatan dan kelemahan; dan eksternal yang menjadi faktor-faktor peluang dan tantangan.

SWOT

Contoh Analisis Swot bisa dilihat di Analisis Lingkungan Bisnis.

 

 

Bagian IV – e-Commerce

E-Commerce dan Efektivitasnya

eCommerceE-Commerce (Electronic Commerce) adalah segala bentuk transaksi komersial yang berbasis media teknologi informasi dan komunikasi melalui internet dan komunikasi seluler. Cakupan transaksi komersial meliputi pemasaran, penawaran barang dan jasa, penjualan dan pembelian, sewa-menyewa, lelang, pembayaran, penyimpanan dana, penarikan dana, pengiriman dana, dan lain sebagainya.

Banyak penelitian telah menghasilkan simpulan bahwa pengaruh e-commerce sangat positif dan cukup signifikan bagi peningkatan pendapatan bisnis. Hal itu terjadi karena saat ini dan pada masa-masa mendatang kehidupan manusia sudah beralih ke era teknologi 4,0 yang di antara karakteristiknya adalah penggunaan internet pada segala hal (internet over everything). Beberapa faktor yang mendukung kondisi internet over everything adalah sebagai berikut:

  1. Teknologi semakin canggih, semua kebutuhan sudah tersentuh dan terlayani. Seseorang sudah tidak perlu pergi kemana-mana untuk memenuhi kebutuhannya. Cukup menggunakan komputer atau smartphone di tempat dia berada.
  2. Kecepatan internet dan jaringan seluler semakin cepat dan lebar. Terjadi penghematan waktu yang sangat besar untuk suatu urusan dibandingkan jika dilakukan secara manual.
  3. Harga teknologi senantiasa turun. Meskipun teknologi baru dengan fitur-fitur baru terus bermunculan yang pasti dibandrol dengan harga yang tinggi, tetapi setelah 6 bulan harganya akan segera turun tajam.
  4. Peraturan dan Perlindungan hukum bagi konsumen semakin baik, termasuk pada transaksi elektronik.

Bentuk e-Commerce

Terdapat empat jenis e-Commerce:

  1. B2B (business to business). Transaksi antara lembaga bisnis dengan lembaga bisnis lainnya. Contoh: transaksi antara perusahaan dengan bank, perusahaan penyedia bahan baku dengan perusahaan manufaktur, dan sebagainya.
  2. B2C (business to consumer). Transaksi antara lembaga bisnis dengan konsumen. Contoh: penjualan barang dan jasa oleh lembaga bisnis, transaksi antara nasabah dan bank, dan sebagainya.
  3. C2C (consumer to consumer). Transaksi antar konsumen. Contoh: Praktek reseller atau dropship yang diakukan oleh konsumen, dan sebagainya.
  4. C2B (consumer to business). Transaksi antara konsumen dengan lembaga bisnis. Contoh: pembelian bahan baku oleh lembaga bisnis, dan sebagainya.

Beberapa bentuk e-Commerce yang saat ini sudah akrab digunakan oleh masyarakat antara lain adalah sebegai berikut:

  1. Online Shop. Toko daring adalah laman website yang dibuat khusus sebagai media menjual komoditi tertentu, biasanya hanya satu jenis komoditi. Berbagai jenis komoditi sudah dijual melalui toko daring. Konsumen bisa mengunjungi toko daring untuk melihat-lihat komoditi yang dijual, biasanya berupa beberapa foto, disertai dengan beberapa keterangan tentang ukuran, berat, volume, warna, manfaat, cara pemakaian, harga, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan transaksi jual beli di dunia nyata, serah terima barang dilakukan pada saat pembayaran, maka pada transaksi online pembayaran dilakukan terlebih dahulu secara penuh, baru kemudian barang dikirimkan ke alamat pembeli atau penerima. Sudah tentu pembayaran dilakukan secara online pula berupa transfer ke rekening toko daring bersangkutan.

  1. Semacam pertokoan atau pasar daring. Di laman pasar daring terdapat banyak toko daring yang menjual berbagai macam komoditi. Toko-toko daring tersebut menyediakan barang, transaksi jual-beli diwakili oleh pasar daring sampai pada tahap pembayaran. Setelah terbayar, toko daring yang barangnya dibeli mengirim barang ke pembeli atau penerima. Pasar daring membayar harga barang jika penerima sudah menerima barang.
  2. Penyedia jasa online. Pola kerjanya sama dengan toko daring, namun yang dijual adalah jasa.
  3. Investasi online. Jual beli saham secara daring.
  4. Pelelangan online.
  5. Perbankan online. Transaksi perbankan daring yang melayani hampir semua layanan non tunai. Ada dua bentuk perbankan daring: Internet banking, yakni layanan perbankan daring melalui laman website; dan sms banking, yakni layanan perbankan daring melalui sms (short message service). Hampir semua bank sudah memiliki layanan online.
  6. E-Wallet, Dompet elektronik. Sistem pembayaran online yang pola kerjanya mirip dengan layanan simpanan dan transfer dana perbankan.
  7. Multi Service Online, layanan yang menyediakan beraneka ragam jasa yang saling terintegrasi.

 

Bagian V – Studi Kelayakan Bisnis

KelayakanPengertian Studi Kelayakan Bisnis

Studi Kelayakan Bisnis adalah suatu kegiatan yang mengkaji secara mendalam tentang suatu kegiatan usaha yang akan dijalankan, apakah layak atau tidak.

Ada dua macam Studi Kelayakan: Studi Kelayakan Proyek dan Studi Kelayakan Bisnis.

Studi kelayakan proyek hanya mengkaji kelayakan suatu proyek untuk dilaksanakan berdasarkan kepentingan dan manfaat proyek. Sedangkan Studi Kelayakan Bisnis menekankan kelayakannya pada aspek profitabilitasnya.

Suatu Studi Kelayakan Bisnis akan sangat membantu dalam memberikan gambaran prospek suatu kegiatan bisnis jika Studi Kelayakan Bisnis itu disusun secara lengkap dan berdasarkan data yang valid. Untuk itu perlu dipahami benar aspek-aspek yang membentuk postur Studi Kelayakan Bisnis dan tahapan-tahapan penyusunannya.

 

Tahapan Penyusunan Studi Kelayakan Bisnis

Aspek-aspek yang menjadi isi dari Studi Kelayakan Bisnis sebenarnya adalah aspek-aspek yang menjadi komponen pada Analisis Lingkungan Eksternal dan Analisis Lingkungan Internal. Hasil analisis lingkungan bisnis yang sudah dilakukan dinarasikan sedemikian rupa sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas bahwa kegiatan bisnis yang akan dijalankan adalah layak.

Dalam penyusunan Studi Kelayakan Bisnis terdapat beberapa tahapan yang mesti dilakukan sebagai berikut:

  1. Penetapan ide bisnis. Tetapkan bisnis apa yang mau dibangun sesuai dengan passion dan prospek pasar.
  2. Pengumpulan data. Kumpulkan data-data tentang aspek-aspek yang terkait dengan bisnis yang hendak dibangun.
  3. Analisis dan evaluasi. Lakukan analisis lingkungan eksternal dan internal.
  4. Perumusan langkah-langkah strategis. Analisis SWOT.
  5. Penyusunan analisis keuangan. Estimasi anggaran biaya modal dan operasi, Simulasi cashflow, penetapan Break Even Poin (BEP) atau titik impas, dan rasio keuangan lainnya.
  6. Penyusunan jadwal. Merumuskan setiap aktivitas yang akan dilakukan.

 

Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis

Aspek-aspek yang menjadi isi dari Studi Kelayakan Bisnis sebenarnya adalah aspek-aspek yang menjadi komponen pada Analisis Lingkungan Eksternal dan Analisis Lingkungan Internal. Hasil analisis lingkungan bisnis yang sudah dilakukan dinarasikan sedemikian rupa sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas bahwa kegiatan bisnis yang akan dijalankan adalah layak.

Di dalam analisis lingkungan eksternal dan internal pasti ditemukan faktor-faktor positif yang menjadi peluang dan kekuatan, serta faktor-faktor negatif yang menjadi tantangan dan kelemahan. Faktor-faktor negatif yang ditemukan dipaparkan dengan jelas disertai langkah-langkah penanganan yang solutif.

Diagram tahapan penyusunan Studi Kelayak Bisnis dapat dilihat di Studi Kelayakan Bisnis.

 

Bagian VI – Pemodalan

Jenis Modal

Kekayaan awal sebuah usaha adalah modal yang menjadi penopang utama kegiatan usaha. Ada empat jenis modal:

  1. Modal Intelektual. Berupa ide, gagasan, strategi, dan kecerdasan bisnis. Termasuk di dalamnya kemampuan manajerial dalam menjalankan usaha.
  2. Modal Sosial. Berupa kepercayaan dan dukungan masyarakat, pelanggan, kolega, dan pemerintah.
  3. Modal Moral. Berupa mental kejujuran, keberanian menghadapi resiko dan tantangan, tekad yang kuat, dan sebagainya.
  4. Modal Material. Berupa uang dan harta lainnya yang dapat digunakan untuk menjalankan usaha.

Meskipun Modal Intelektual, Sosial, dan Moral tidak bisa dinilai dengan angka, namun seringkali ketiganya memiliki andil yang lebih besar dalam keberhasilan suatu usaha daripada Modal Material.

Modal material terdiri dari dua jenis:

  1. Modal tetap. Semua jenis aset fisik yang tidak habis dipakai untuk produksi barang atau jasa, memiliki umur ekonomi yang cukup panjang (lebih dari umur buku keuangan), dan memiliki nilau susut yang diperhitungkan setiap tahun. Contoh: tanah, bangunan, peralatan, kendaraan, dan sebagainya.
  2. Modal kerja. Dana yang digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha.

 

Sumber Modal

Dari aspek kepemilikan, ada tiga macam modal:

  1. Modal sendiri. 100% modal bersumber dari kekayaan sendiri.
  2. Modal pinjaman. Ada porsi modal yang bersumber dari pinjaman.
  3. Modal saham. Modal terbentuk dari saham beberapa orang.

ModalModal sendiri bisa berasal dari kekayaan sendiri, bisa juga dari dana hibah atau bantuan modal, baik dari pemerintah ataupun dari perusahaan dalam bentuk dana CSR (Company Social Responsibility).

Menggunakan 100% modal sendiri adalah rekomendasi utama bagi mereka yang memulai usaha.

Rekomendasi kedua jika modal sendiri tidak cukup adalah modal saham. Bentuknya sebagai berikut:

  1. Kerjasama dengan perorangan seperti keluarga, sahabat, atau orang lain. Beberapa orang sepakat memulai usaha baru dan bersama-sama menanamkan modal yang kemudian dihitung porsi modal masing-masing. Modal para pihak tetap menjadi modal sampai ada pihak yang menarik diri, maka modal yang bersangkutan dikeluarkan dari modal ditambah laba atau dikurangi rugi hasil usaha.
  2. Kerjasama dengan lembaga perbankan (syari’ah) dalam bentuk mudharabah. Dalam hal ini bank bertindak sebagai investor ke dalam usaha perorangan. Bank mencukupi kekurangan modal yang dibutuhkan, kemudian dihitung porsi modal pemilik usaha dan porsi modal bank.
  3. Kerjasama dengan Lembaga Pemodalan. Ada banyak lembaga pemodalan yang didirikan dengan tujuan untuk menggiatkan kewirausahaan, baik yang didirikan oleh pemerintah ataupun oleh perusahaan.

Rekomendasi terakhir adalah modal yang bersumber dari pinjaman. Untuk ini harus diperhitungkan dengan cermat terkait dengan masa pengembalian pinjaman, tingkat bunga/bagi hasil, dan besaran pinjaman.

 

Bagian VII – Resiko

Pengertian Resiko

Setiap usaha pasti akan menghadapi ketidakpastian alami (natural uncertainty) di antara tiga kondisi: positive return jika usaha itu menghasilkan keuntungan; no return jika hasilnya impas; dan negative return jika hasilnya adalah kerugian. Kondisi pertama memang diharapkan, sedangkan dua kondisi berikutnya merupakan kondisi yang tidak diharapkan. Kondisi yang tidak diharapkan itulah yang sering dikenal dengan resiko usaha.

Resiko Usaha berarti suatu keadaan yang tidak dikehendaki yang mungkin akan terjadi mengiringi suatu kegiatan usaha.

Ditinjau dari sumbernya, faktor penyebab timbulnya resiko usaha dapat dikelompokkan menjadi tiga:

  1. Economic Factors, Resiko yang timbul dari dinamika ekonomi. Contoh: Terjadi inflasi dengan tingkat yang cukup tinggi sehingga menurunkan daya beli (purchase power) masyarakat; kenaikan harga BBM atau TDL yang mengakibatkan melonjaknya biaya produksi sehingga berdampak kepada kenaikan harga barang; persaingan bisnis; dan lain sebagainya.
  2. Natural Factors, Resiko yang timbul dari alam. Contoh: bencana alam yang mengakibatkan bergesernya komoditi yang menjadi prioritas; temuan tentang tingkat polusi lingkungan hidup oleh bahan-bahan kimia yang menyebabkan lahirnya regulasi tentang bahan produksi; timbulnya pandemi global yang menggeser komoditi prioritas; dan sebagainya.
  3. Human Factor. Resiko yang timbul karena manusia. Contoh: perubahan gaya hidup dan trend; human error dalam proses produksi dan pemasaran; ketidaktepatan manajemen; penipuan pihak lain; dan sebagainya.

Mengamati faktor-faktor penyebab timbulnya resiko di atas maka resiko dapat dikelompokkan menjadi dua jika ditinjau dari aspek pengendaliannya:

  1. Resiko yang bisa dikendalikan, yaitu resiko yang timbul dari faktor yang berada di bawah kuasa pemilik usaha. Biasanya resiko yang timbul dari faktor manusia.

Langkah pengendaliannya berupa analisis, evaluasi, dan langkah strategis agar resiko dapat dihindari atau dikendalikan.

  1. Resiko yang tidak bisa dikendalikan, yaitu resiko yang berasal dari faktor-faktor yang berada di luar kuasa pemilik usaha, seperti faktor ekonomi global, faktor alam, dan faktor manusia lain seperti para pemasok, pesaing, dan pelanggan.

Langkah yang harus diambil adalah analisis, evaluasi, dan langkah strategis untuk menyesuaikan diri dengan resiko yang mungkin terjadi.

 

Ukur ResikoAnalisis Resiko

Dalam upaya menghadapi resiko yang bisa dikendalikan perlu dilakukan analisis beberapa aspek usaha sebagai berikut:

  1. Aspek keuangan. Analisis yang terkait aspek keuangan meliputi biaya operasional usaha, tingkat laba/rugi, biaya pelunasan pokok pinjaman beserta bunga/bagi hasil, dan sebagainya. Langkah strategis utama dalam menghindari resiko keuangan adalah efisiensi.
  2. Aspek sumberdaya manusia. Analisis faktor sumberdaya manusia meliputi ketersediaan tenaga selama masa operasional usaha, ketepatan kerja, suasana kerja, dan sebagainya. Langkah strategis utama dalam menghindari resiko sumberdaya manusia adalah perhatian yang cukup kepada kepuasan kerja, khususnya yang terkait dengan keberadaan standar operasional prosedur (SOP) dan hubungan manajerial.
  3. Aspek produk. Analisis yang terkait dengan aspek produk meliputi harga, masa kadaluarsa, spesifikasi, daya tahan, hadirnya produk baru yang memiliki keunggulan, dan sebagainya. Langkah strategis untuk menghindari resiko adalah survey produk dalam upaya peningkatan mutu dan teknologi produksi. Dibutuhkan kreativitas dan daya inovasi yang berkelanjutan.
  4. Aspek bahan baku. Analisis terkait bahan baku meliputi harga, ketersediaan, dan hubungan dengan pemasok. Langkah strategi utama adalah menjada hubungan baik dengan pemasok.
  5. Aspek Pasar. Analisis terkait pasar meliputi efektivitas pemasaran, keseimbangan antara penawaran dan permintaan, keberadaan pasar oligopoli, besaran pangsa pasar, dan sebagainya. Langkah strategis yang dapat dilakukan adalah menjaga eksistensi di pasar dengan selalu melakukan survey pasar.
  6. Aspek pelanggan. Analisis yang berkaitan dengan faktor pelanggan adalah kesetiaan pelanggan, besaran pembelian pelanggan, dan sebagainya. Langkah utama untuk menghindari resiko adalah meningkatkan kepuasan pelanggan dan menjaga hubungan dengan pelanggan. Survey kepuasan harus dilakukan secara berkelanjutan.
  7. Aspek pesaing. Analisis terkait dengan faktor pesaing meliputi jumlah pesaing, tingkat inovasi pesaing dalam produksi dan pemasaran, kapasitas pesaing, dan sebagainya. Langkah strategis utama adalah paduan dari langkah-langkah strategis pada semua faktor sebelumnya.

 

Bagian VIII – Kepuasan Pelanggan

Pengertian Kepuasan Pelanggan

PelangganKepuasan Pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa pelanggan setelah membandingkan antara harapannya dengan apa yang diterimanya. Jika apa yang diterimanya persis seperti apa yang diharapkan, maka pelanggan akan senang. Jika apa yang diterimanya lebih dari apa yang diharapkannya, kesenangan pelanggan semakin bertambah. Namun jika apa yang diterimanya kurang dari apa yang diharapkan maka pelanggan akan kecewa. Derajat kesenangan atau kekecewaan pelanggan disebut dengan Tingkat Kepuasan Pelanggan.

Pelanggan yang puas akan mengulangi pembelian, bahkan menambah kuantitas pembeliannya. Sebaliknya pelanggan yang kecewa akan berpindah ke penjual lain yang diharapkan akan bisa memuaskan harapannya.

Harapan Pelanggan terhadap suatu produk barang atau jasa terbentuk oleh beberapa faktor sebagai berikut:

  1. Personal Needs. Kebutuhan pelanggan. Ketika pelanggan membutuhkan suatu barang atau jasa, pelanggan sudah meletakkan dalam benaknya beberapa kriteria yang harus ada pada suatu produk.
  2. Words of Mouth (WoM). Informasi yang beredar dari mulut ke mulut. Informasi dari kenalan, kerabat, atau orang lain tentang keunggulan atau kelemahan suatu produk. Pelanggan seringkali mencari masukan suatu produk dari orang lain berupa testimoni atau kesaksian.
  3. Past Experiences. Pengalaman pembelian sebelumnya.
  4. Advertisement Promises. Janji iklan, promosi, dan pemasaran tentang produk, baik spesifikasi, kegunaan, dan keunggulan.

Dari empat faktor tersebut di atas terbentuklah harapan pelanggan terhadap suatu produk barang dan jasa berupa sebuah sosok produk yang akan dijadikan sebagai tolok ukur penilaian.

 

Pengukuran Kepuasan Pelanggan

 

Kepuasan Pelanggan harus diukur. Pengetahuan tentang kepuasan pelanggan sangat penting untuk mempertahankan kesetiaan pelanggan demi menjaga eksistensi dalam persaingan atau bahkan untuk memenangi persaingan.

Pada dasarnya, harapan pelanggan mencakup lima dimensi sebagai berikut:

  1. Kualitas produk. Terkait dengan spesifikasi dan keunggulan sesuai jenis produk. Pelanggan memahami adanya tingkatan mutu produk yang berkaitan dengan perbedaan harga. Kepuasan akan muncul jika menurut logika pelanggan mutu yang didapatkan sesuai dengan harga atau lebih daripada harga.
  2. Kualitas layanan. Terkait dengan layanan yang diberikan oleh penjual dalam melayani pembeli. Keramah-tamahan, daya tanggap, penjelasan yang mudah dipahami, dan kesabaran pada saat negosiasi dan tawar-menawar. Kata-kata merupakan senjata yang bisa menarik hati pelanggan atau justru melukai hati pelanggan. Kecepatan juga sangat penting untuk menunjukkan bahwa pelanggan diistimewakan oleh penjual. Singkatnya, karena pelanggan adalah raja maka mereka harus memiliki kesan mendapat perhatian yang istimewa.
  3. Faktor emosional. Ada sesuatu pada produk yang bisa dibanggakan oleh pelanggan, bisa jadi merek (brand), atau desain, atau fitur, atau keunggulan lain yang tidak terdapat pada semua produk sejenis. Semakin besar kebanggaan pelanggan semakin tinggi pula tingkat kepuasan.
  4. Harga produk. Mahal atau murah harga suatu produk bukan diukur dari nilai nominal, tapi dari kesesuaian antara harga dengan mutu produk, sehingga ukuran harga menjadi sangat relatif sesuai dengan logika pelanggan. Harga mahal untuk produk bermutu tinggi memberikan kebanggaan tersendiri bagi pelanggan. Harga murah untuk produk bermutu sedang dapat memberi keleluasaan bagi pelanggan untuk membeli dalam kuantitas yang lebih banyak. Kedua-duany abisa menimbulkan kepuasan.
  5. Biaya dan kemudahan dalam mendapatkan produk. Terkait dengan biaya dan prosedur yang harus dialami oleh pelanggan untuk mendapatkan produk. Semakin ringan biaya dan semakin mudah cara untuk mendapatkan produk semakin membuat pelanggan mendapat kepuasan.

Kelima dimensi di atas merupakan aspek-aspek yang menjadi acuan untuk mengukur kepuasan pelanggan. Agar lebih valid dan lebih dalam informasi kepuasan pelanggan yang ingin digali, maka masing-masing dimensi di atas dapat diurai lagi sesuai kebutuhan.

Kelima dimensi tersebut dapat digunakan untuk produk barang ataupun jasa. Namun, khusus untuk industri jasa terdapat 5 dimensi yang lebih spesifik sebagai berikut:

  1. Reliability (keandalan), yaitu kemampuan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan dan menyampaikan jasa tepat waktu seperti yang dijanjikan.
  2. Assurance (jaminan), yaitu kemampuan untuk menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan sehingga pelanggan merasa aman dan tidak was-was atau khawatir.
  3. Tangible (dapat diindera), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan dan material yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan.
  4. Emphaty (empati), yaitu rasa peduli untuk memberikan perhatian secara individual kepada pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan, serta kemudahan untuk dihubungi.
  5. Responsiveness (daya tanggap), yaitu kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan merespon permintaan mereka, serta menginformasikan kapan saja jasa akan diberikan dan kemudian memberikan jasa secara cepat.

Untuk mengumpulkan informasi tentang harapan pelanggan terdapat beberapa cara yang dapat digunakan, di antaranya adalah:

  1. Sistem Keluhan dan Saran. Pelanggan diberi akses untuk menyampaikan menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan mereka.
  2. Ghost Shopping (hantu belanja). Suatu istilah yang sangat populer dalam dunia bisnis yang bertujuan untuk mengetahui keunikan atau keunggulan produk sejenis milik pesaing. Beberapa orang dipekerjakan untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan atau pembeli potensial, kemudian melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk pesaing. Selain itu para ghost shopper juga dapat mengamati cara pesaingnya dalam melayani permintaan pelanggan.
  3. Lost Customer Analysis (analisis kehilangan pelanggan). Menjalin komunikasi dengan para pelanggan yang sudah beralih untuk menanyakan sebab perpindahan mereka.
  4. Survei kepuasan Pelanggan. Penelitian mengenai kepuasan pelanggan yang dilakukan dengan survei maupun wawancara pribadi.

Pertanyaan survey atau wawancara tentang kepuasan pelanggan berupa atribut-atribut produk yang diajukan kepada responden dari kalangan pelanggan. Responden diminta untuk memberi nilai terhadap harapannya atas suatu produk dan nilai terhadap kinerja produk yang pernah mereka beli atau rasakan. Jawaban para responden dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan alat analisis, yang terkenal adalah: Customer Satisfaction Index (Indeks Kepuasan Pelanggan) dan Importance Performance Analysis (Analisis Kepentingan dan Kinerja).

Customer Satisfaction Indeks didapatkan dengan membandingkan antara kinerja dan harapan sehingga didapatkan tingkat kepuasan pelanggan, baik secara simultan maupun secara parsial. Sedangkan Importance Performance Analysis memosisikan masing-masing atribut pada diagram kartesius untuk mengetahui atribut mana saja yang berkinerja tinggi sesuatu harapan yang tinggi, yang berkinerja tinggi padahal harapan rendah, yang berkinerja rendah sementara harapan tinggi, serta yang berkinerja rendah seperti harapan yang rendah juga.

Contoh bisa dilihat di Kepuasan Pelanggan.

 

Bagian IX – Zakat dan Shadaqah

Hikmah Zakat dan Shadaqah

Zakat merupakan salahsatu rukun Islam yang menjadi kewajiban harta bagi kaum muslimin.

Terdapat dua jenis zakat:

  1. Zakat fitrah yang merupakan zakat diri atau zakat jiwa. Dibayarkan sekali setahun di akhir bulan Ramadhan sebelum Shalat Idul Fitri. Zakat dibayarkan dalam bentuk bahan makanan pokok (beras) seberat minimal 2,5 kg atau dalam bentuk uang senilai harga beras tersebut. Karena merupakan zakat diri atau zakat jiwa maka zakat fitrah wajib bagi setiap kaum muslimin yang hidup pada waktu penunaian zakat fitrah.
  2. Zakat Mal atau zakat harta yang diwajibkan atas setiap muslim yang memiliki harta melebihi batas minimal. Batas minimal tersebut disebut nishab.

Secara etimologi, zakat berarti kesucian, pertumbuhan. Secara terminologi berarti pengeluaran sebagian harta dengan cara dan kadar yang ditentukan oleh syariat. Hukumnya wajib setiap tahun hijriyah.

Shadaqah berarti pengeluaran sebagian harta yang cara dan kadarnya tidak ditentukan oleh syariat. Sepenuhnya sesuai kehendak dan kebijakan pemilik harta. Hukumnya sunnah.

Sesuai arti asalnya maka di antara hikmah zakat dan shadaqah adalah sebagai berikut:

  1. Mensucikan harta dari hak orang-orang yang berhak.
  2. Mensucikan jiwa dari sifat-sifat tercela seperti kikir, egois, hedonis, dan sebagainya.
  3. Wujud rasa syukur atas nikmat harta yang dikaruniakan oleh Allah.
  4. Penyebab tumbuh kembangnya harta.
  5. Menjalin hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Zakat Mal atau zakat harta diwajibkan atas beberapa jenis harta yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Zakat pertanian: tanaman berupa butiran seperti padi, gandum, jagung, palawija.
  2. Zakat peternakan: unta, sapi, kerbau, kambing.
  3. Zakat emas, perak, dan uang atau kertas berharga.
  4. Zakat niaga atau bisnis atau tijarah.
  5. Zakat tambang
  6. Zakat barang temuan
  7. Zakat profesi.

Zakat disalurkan ke orang-orang yang berhak menerima zakat yang disebut dengan mustahiq. Ada 8 kelompok mustahiq:

  1. Faqir
  2. Miskin
  3. Amil zakat
  4. Orang yang ditarik hatinya.
  5. Fir Riqab. Orang yang hendak memerdekakan diri dari ketertawanan.
  6. Orang yang terlilit hutang
  7. Fi Sabilillah. Orang yang bekerja untuk kepentingan agama.
  8. Ibnu Sabil. Musafir yang kehabisan bekal perjalanan.

Agar distribusi zakat bagi para mustahiq menjadi lebih praktis, lebih teratur, dan lebih berdayaguna, didirikanlah lembaga amil zakat secara resmi oleh Pemerintah dengan nama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan oleh organisasi masyarakat Islam seperti Muhammadiyah dengan nama Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU), Nahdlatul Ulama’ (NU) dengan nama Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah NU (LAZISNU), Dompet Duafa, dan lain sebagainya.

 

Zakat TijarahZakat

Zakat Tijarah adalah zakat yang dikenakan atas setiap bentuk usaha yang perhitungannya didasarkan atas kekayaan usaha yang dimiliki secara penuh dalam waktu satu tahun.

Kekayaan usaha yang menjadi dasar perhitungan adalah seluruh aset lancar dikurangi seluruh kewajiban lancar dalam 1 tahun hijriyah. Jika nilai selisih antara aset lancar dan kewajiban lancar mencapai batas minimal wajib zakat yang disebut dengan Nishab, maka usaha tersebut wajib zakat.

Nishab zakat tijarah adalah seharga nishab emas, yaitu 85 gram dengan harga aktual.

Kadar zakat tijarah adalah 2,5%.

Contoh kasus dapat dilihat di Zakat dan Shadaqah.

Mari berbagi
  •  
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
  • 6
    Shares
Komentar Anda:
Close Menu