Buku Catatan Amal #2: Rekam Jejak Digital

Tentang Rekam Jejak

Lanjutan Buku Catatan Amal #1

Dari penjelasan ustadz tentang buku catatan amal yang berupa digit angka biner, maka kalau boleh saya katakan bahwa buku catatan amal tersebut adalah buku digital. Di benak saya muncul beberapa pemikiran:

  1. Proses pencatatan amal oleh malaikat Raqib dan Atid juga menggunakan proses rekam jejak digital.
  2. Persaksian tubuh kita juga dalam bentuk persaksian digital.
  3. Panggilan manusia pun menggunakan sistem digital.

Bagaimana pendapat ustadz?

 

Buku Catatan Digital

Subhanallah..!

Saya tidak berani memastikan bahwa proses pengadilan di akherat kelak menggunakan sistem digital, namun, dengan pengetahuan tentang teknologi informasi dan komunikasi, tentang sistem digital, kita lebih bisa memahami beberapa hal tentang akherat dan memperkuat iman kepada hari akhir. Tentu tidak semua bisa dipahami dengan sistem digital.

Tentang buku catatan amal, menurut saya memang lebih logis jika buku tersebut berbentuk buku digital. Bukankah saat ini kita akrab dengan istilah notebook, salah satu varian laptop yang berukuran lebih kecil dan tipis. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Notebook berarti buku catatan. Tetapi saya yakin bahwa buku catatan amal yang akan diterima oleh manusia kelak jauh lebih canggih daripada apa yang dapat kita bayangkan.

Jika buku catatan amal kelak berupa buku digital, maka sangat logis jika proses pencatatan amal atau rekam jejak oleh malaikat juga menggunakan proses digital, persaksian anggota tubuh atas amal perbuatan manusia menggunakan persaksian digital, dan pemanggilan manusia pun menggunakan sistem digital.

Agar lebih jelas, kita elaborasi satu demi satu untuk menjawab tiga pertanyaan di atas.

 

Rekam Jejak Digital

Kiraman Katibin adalah para malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan manusia. Setiap manusia terus dikawal oleh dua malaikat di kanan dan kiri manusia. Mereka terus mengawasi apa yang diperbuat oleh manusia tanpa henti, 60 detik per menit, 60 menit per jam, 24 jam dalam sehari-semalam, 7 hari dalam sepekan. Tak sedetik pun lalai dan terlewatkan. Sebagai mahluk yang ghaib tentulah para malaikat tersebut melakukan pencatatan dan rekam jejak secara ghaib pula. Iman terhadap hal ini termasuk ke dalam lingkup Iman kepada keghaiban (Lihat QS. Al-Baqarah 3).

Kecanggihan teknologi masa kini dapat dijadikan media untuk memahami pola kerja para malaikat Kiraman Katibin tersebut.

Kita sudah familiar dengan CCTV (Closed Circuit Television), semacam kamera yang diletakkan di tempat-tempat tertutup dan merekam semua kejadian di tempat yang terjangkau oleh kamera dalam masa yang ditentukan, bahkan bisa merekam selama 24 jam sehari semalam. Rekaman tersebut tersimpan dan dapat disaksikan pada monitor. Kita dapat menyaksikan semua peristiwa yang sudah terjadi pada waktu yang kita kehendaki: tanggalnya, harinya, jamnya, hingga menit dan detiknya.

Untuk skala yang lebih luas, kita mengetahui bahwa di angkasa terdapat satelit yang dilengkapi dengan kamera yang merekam peristiwa di seluruh muka bumi. Bahkan kamera satelit tersebut bisa mengetahui kandungan tanah, mengukur ketinggian gunung dan kedalaman laut.

Kita juga sudah mengenal GPS (Global Positioning System), sebuah sistem pelacak lokasi geografis yang dapat merekam keberadaan kita, perjalanan kita, dan keadaan yang terjadi di sekitar kita, ketika kita membawa alat yang berhubungan dengan satelit, seperti handphone dengan GPS aktif atau alat navigator berbasis GPS.

Bayangkan jika berbagai alat yang sangat canggih itu disatukan, tidak ada lagi tempat yang kita bisa bersembunyi di dalamnya.

Itu hasil karya manusia yang ilmunya terbatas. Lantas bagaimana canggihnya alat yang diciptakan oleh Zat Yang ilmunya tanpa batas yang menjadi bekal para malaikat Kiraman Katibin dalam memantau amal perbuatan setiap hamba?

Sekarang kita lebih yakin bahwa sekecil apa pun amal perbuatan manusia pasti dilihat dan diketahui.

Kita lebih yakin akan kebenaran firman Allah dalam QS. Al-Zalzalah 7 – 8:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Zarrah (bahasa Arab) berarti atom atau yang lebih kecil dari atom. ِ[almaany.com]

Jadi… memahami proses pencatatan amal perbuatan manusia dengan pendekatan proses digital lebih mudah untuk dipahami.

 

Berlanjut ke Buku Catatan Amal #3: Saksi Digital

Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda:
Close Menu