5. Keuangan Syariah tentang TVM. An Essential Critic

Fungsi Uang

UangDi dalam konsep keuangan syariah fungsi uang adalah sebagai alat tukar, bukan sebagai komoditi. Sebagai alat tukar uang bisa digunakan untuk:

  1. Membeli barang atau jasa. Manfaat yang diterima adalah manfaat dari barang atau jasa yang dibeli.
  2. Membeli saham dengan cara investasi. Manfaat yang diterima adalah hasil dari usaha yang dibiayai oleh saham.
  3. Membeli pahala dengan cara meminjamkan atau bersedakah. Manfaat yang diterima adalah pahala dan ridha Allah, serta balasan di akherat kelak.

Menurut Keuangan Syariah, manfaat uang didapatkan dengan menggunakan uang dalam pertukaran antar manusia secara adil dan nilai yang setara. Uang yang disimpan tidak mendatangkan manfaat. Jika timbul manfaat materi dari uang yang disimpan atau dari uang yang digunakan untuk membeli pahala atau dari transaksi yang tidak adil dan tidak setara nilai, maka manfaat tersebut tidak sah, ilegal secara syar’i, disebut dengan riba.

Penggunaan uang oleh pihak lain harus diawali dengan akad/transaksi yang jelas. Hai ini merupakan prinsip yang asasi dalam Keuangan Syariah. Apakah untuk membeli barang atau jasa? Ataukah untuk investasi? Atau untuk kebajikan sosial (meminjamkan, sedekah, wakaf, dan sebagainya)?

Investasi merupakan bentuk ketidakpastian yang alami (natural uncertainty) karena hasil dari sebuah usaha pasti berada di antara 3 kemungkinan:

  1. Positive Return (Profit), saat usaha menghasilkan laba;
  2. No Return, Saat hasil usaha berada pada posisi impas, tidak untung, tidak pula rugi; dan
  3. Negative Return (Loss), saat usaha mengalami kerugian.

Untuk itu, setiap uang yang diinvestasikan dalam suatu usaha akan menghadapi ketiga kemungkinan tersebut. Memaksakan hasil usaha hanya pada satu posisi untung saja (premium to uncertainty) merupakan tindak kezaliman yang ditolak oleh syariah.

Pendapat yang mengatakan bahwa bunga bukan riba dan merupakan sesuatu yang legal merupakan pendapat yang salah dengan alasan sebagai berikut:

  1. Dikatakan bahwa bunga merupakan konsekwensi dari dampak perubahan nilai waktu uang, yakni menurunnya nilai uang seiring perjalanan waktu. Hal ini tidak benar, sebab teori nilai waktu uang lebih banyak dipengaruhi oleh adanya bunga.
  2. Dikatakan bahwa bunga merupakan konsekwensi dari inflasi. Hal ini tidak benar, justru sebaliknya, salah satu faktor terjadinya inflasi adalah bunga.
  3. Dikatakan bahwa bunga merupakan jasa atas penggunaan uang oleh pihak lain berupa pinjaman. Hal ini yang tidak diterima oleh syariah. Pinjam-meminjam merupakan akad kebajikan sosial. Setiap manfaat materi yang timbul dari akad kebajikan sosial disebut riba.
  4. Dikatakan bahwa bunga merupakan bentuk bagi hasil dari penggunaan uang dalam investasi. Hal ini tidak benar, sebab bunga ditentukan di awal transaksi akan diberikan secara terus-menerus atau selama periode transaksi tanpa penjelasan penggunaan uang dan tanpa ada diktum jika investasi berada pada posisi no return atau negative return. Dalam hal ini penetapan bunga merupaka tindak memaksakan suatu investasi hanya pada satu posisi: positive return.

 

Nilai Ekonomi Waktu

Atas dasar pembahasan tentang uang dan bunga di atas maka syariah Islam menolak teori Nilai Waktu Uang (Time Value of Money). Sebagai solusinya Keuangan Syariah menawarkan Nilai Ekonomi Waktu (Economic Value of Time). Maksudnya adalah: Waktu memiliki pengaruh ekonomi terhadap aset, termasuk di dalamnya terhadap uang.

Dalam kalkulasi keuangan syariah, uang Rp 1 juta jika dipakai untuk bisnis selama 1 bulan, bisa mendapatkan laba Rp 100 ribu sehingga jumlahnya menjadi Rp 1.100.000,- tapi bisa juga rugi Rp 100 ribu sehingga pada akhir bulan menjadi Rp 900 ribu. Jika diambil kemungkinan positive return, bulan ke-2 jumlah uang sudah Rp 1.100.000,- dan tetap dipakai untuk bisnis, mendapat untung Rp 100 ribu lagi, maka jumlah uang di akhir bulan ke-2 menjadi Rp 1.200.000,- Perjalanan waktu selama dua bulan menjadikan uang yang asalnya sebesar Rp 1.000.000,- menjadi Rp 1.200.000,-, atau tumbuh 10% setiap bulan.

Pertumbuhan 10% dari uang RP 1 juta itulah yang disebut dengan nilai ekonomi waktu.

Nilai ekonomi waktu akan didapatkan jika terjadi pergerakan uang. Uang yang tidak bergerak atau disimpan saja tidak akan mendapatkan manfaat dari Nilai Ekonomi Waktu.

Jika teori Nilai Waktu Uang (Time Value of Money) berbasis kepada bunga, maka teori Nilai Ekonomi Waktu (Economic Value of Time) Keuangan Syariah berbasis kepada hasil usaha, dalam hal ini adalah nisbah bagi hasil.

 

Margin Nisbah dalam Investasi dan Simpanan

Dalam pembahasan tentang bunga diberikan simulasi perhitungannya. Dalam pembahasan tentang nisbah ini juga akan diberikan simulasi perhitungan nisbah bagi hasil dengan pokok dana yang sama.

Terdapat beberapa model pengembalian dana pembiayaan (mudharabah)

1. Model Sliding (menurun). Nominal Marjin menurun.

Contoh:  Pokok pembiayaan 48 juta, nisbah 10% pertahun, Tenor 2 tahun (24 bulan). Cicilan Pokok 48 juta : 24 bulan = 2.000.000,-

Nisbah SlidingRumus yang digunakan untuk menghitung margin bagi hasil adalah:

M=Pc1PT×N12

M     =   Margin bagi hasil

P      =   Pokok Pembiayaan

T      =   Masa Tenor (bulan)

N      =   Nisbah bagi hasil

c       =   cicilan ke …

Rumus yang digunakan sama dengan rumus mencari nilai bunga efektif, tetapi variabel Tingkat Bunga diganti dengan variabel Nisbah bagi hasil. Hasilnya pun sama.

Total pengembalian pokok: 48.000.000 dan Total bagi hasil 5.000.000,- = 53.000.000,-

2. Model Average (Rerata). Model menurun yang dicari nilai rataannya agar pembayaran angsuran bisa sama atau tetap setiap bulan.

Nisbah Rerata

Rumus yang digunakan adalah:

M=T+12T×P×N12

M     =   Margin bagi hasil

P      =   Pokok Pembiayaan

T      =  Masa Tenor (bulan)

N      =  Nisbah bagi hasil

Total bunga: 5.000.000

Total semua cicilan: 53.000.000

3. Model Menanjak. Nominal marjin menanjak.

Nisbah MenanjakRumus yang digunakan adalah

M=PT×N12×c

M     =   Margin bagi hasil

P      =   Pokok Pembiayaan

T      =   Masa Tenor (bulan)

N      =   Nisbah bagi hasil

c       =   Cicilan ke …

4. Model Anuitas. Jumlah angsuran tetap. Meskipun model Average sebenarnya sudah bisa memenuhi kriteria anuitas, karena total angsuran setiap bulan sudah sama setiap bulannya, tetapi jika disebutkan model Anuitas, maka digunakan rumus tersendiri.

Nisbah Anuitas

M=P×N1211+N12T

M     =   Margin bagi hasil

P      =   Pokok pembiayaan

N      =   Nisbah bagi hasil

T      =   Masa tenor

 

Perhitungan di atas adalah tentang nisbah bagi hasil pembiayaan. Bagaimana dengan bagi hasil pendanaan (tabungan dan deposito)?

Dalam hal simpanan dana, perhitungan bagi hasil diperhitungkan secara majemuk (compounded) yang berbasis pada rerata saldo bulanan.

Data yang diperlukan untuk perhitungan adalah besaran rerata saldo bulanan nasabah, besaran nisbah bagi hasil, dan angka HI-1000.

HI-1000 merupakan angka yang menunjukkan hasil investasi yang diperoleh dari penyaluran setiap seribu rupiah dana yang diinvestasikan oleh bank. Angka ini didapatkan dari perhitungan rasio antara hasil investasi dengan dana yang diinvestasikan dikali 1000. Karena kondisi investasi yang sangat dinamis maka angka ini setiap hari mengalami penyesuaian dan dapat dicek langsung melalui pihak Bank.

Rumus yang digunakan untuk mencari marjin bagi hasil yang diterima oleh pemilik simpanan adalah:

M=Rerata Saldo1000×HI1000×Nisbah Bagi Hasil

Jika seseorang menyimpan uang sebesar Rp 50 juta di bank syariah dengan margin nisbah 50% dan tidak pernah menarik simpanannya selama 2 tahun. Berapakah saldo simpanannya pada awal tahun ketiga?

Nisbah SimpananData yang ada:  Rerata Saldo = 50.000.000                              Nisbah = 50%

Waktu Simpanan: 2 tahun (24 bulan)      HI-1000 = 10

Untuk menghitung langsung dan lebih cepat bisa menggunakan rumus

Pn=S1+H×N1000t

Pn    =  Simpanan setelah periode tertentu.

S       =  Saldo rerata bulanan

H      =  Nilai HI-1000

N      =  Nisbah bagi hasil

t       =  Lama waktu simpanan (bulan)

Pn=50.000.000 1+10×0,51.00024

Pn = 50.000.000  x (1 + 0,005)24   =  50.000.000  x (1,005)24  =  50.000.000  x  1,127  =  56.357.989

 

Jika dibandingkan antara perhitungan bunga dengan perhitungan nisbah bagi hasil maka terdapat persamaan pada hasil meskipun sebagian rumus yang digunakan berbeda. Perbedaan rumus tersebut disebabkan oleh perbedaan basis, yaitu antara bunga dan nisbah bagi hasil.

Sepintas nampak bahwa hasil perhitungan sama, tetapi pada hakekatnya terdapat perbedaan yang sangat prinsipil, yaitu pada perhitungan dengan nisbah bagi hasil, hasilnya bersih dari unsur yang dilarang oleh syariah, sehingga sebenarnya di dalamnya terkandung kelebihan, yaitu berkah. Itulah satu di antara sekian misi Keuangan Syariah.

Kritik atas Nilai Waktu Uang di atas merupakan sebagian kecil dari sekian banyak kritik yang disampaikan oleh oleh para pakar ekonomi dan pakar keuangan, baik mereka yang masih bergelut di keuangan konvensional, maupun dari kalangan keuangan syariah. Fakta bahwa terdapat banyak cacat dalam konsep nilai waktu uang semakin menggairahkan para ekonom untuk mengkaji lebih lanjut tentang konsep Nilai Ekonomi Waktu. Namun demikian, mesti diakui bahwa sampai saat ini akar konsep Nilai Waktu Uang masih kuat menancap pada sistem moneter global.

 

Baca materi Manajemen Keuangan selengkapnya di Manajemen Keuangan.

Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda: