4. Nilai Waktu Uang, Questionable Time Value of Money

Pengantar

Nilai WaktuApa yang dimaksud dengan Nilai Waktu Uang? Untuk memahami Nilai Waktu Uang dapat ditelusuri dari ilustrasi berikut:

Lima tahun yang lalu, uang Rp 10.000,- bisa digunakan untuk menikmati semangkok bakso dan segelas es jeruk. Sekarang hanya dapat segelas es jeruk saja. Lima tahun yang akan datang akan dapat apa dengan uang Rp 10.000,-?

Fenomena di atas menjelaskan bahwa nilai uang menurun bersama dengan perjalanan waktu. Uang Rp 1 juta pada tahun ini tidak sama nilainya pada tahun depan. Perubahan nilai uang tersebut disebabkan oleh dua faktor utama: inflasi, tingkat suku bunga, serta kondisi politik dan keamanan. Berubahnya nilai uang atau lebih tepatnya turunnya nilai uang tersebutlah yang sering dikatakan sebagai nilai waktu uang.

Nilai Waktu Uang (time Value of Money) adalah suatu konsep yang mengacu pada perbedaan nilai uang yang disebabkan karena perbedaaan waktu.

Pemahaman tentang Nilai Waktu Uang sangat penting dalam manajemen keuangan sehingga suatu investasi betul-betul mendapatkan manfaat dengan nilai yang sesungguhnya, bukan nominalnya.

Sebagai contoh, seseorang menawarkan tanah seluas 1 hektar dengan harga Rp 100 juta. Ada orang yang akan membelinya, tetapi dibayar 2 tahun yang akan datang dengan harga Rp 100 juta juga. Serah terima tanah dilakukan saat pelunasan. Apakah pemilik tanah menyetujui usulan pembeli? Jika transaksi dilakukan 2 tahun yang akan datang, berapa harga yang selayaknya?

Contoh lain. Seseorang hendak menjual tanah seluas 1 hektar senilai Rp 100 juta pada 5 tahun yang akan datang. Tiba-tiba dia butuh dana saat ini dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan dana selain menjual tanahnya. Berapa harga yang layak atas tanah tersebut?

Untuk pertanyaan pertama dapat dijawab dengan perhitungan Future Value (Nilai Waktu Uang Mendatang) dan untuk pertanyaan kedua dapat dijawab dengan Present Value (Nilai Waktu Uang Sekarang).

Sebelum membahas Future Value dan Present Value, perlu dipahami terlebih dahulu tentang konsep inflasi dan suku bunga yang menjadi faktor terjadinya perbedaan nilai waktu uang.

 

Inflasi

InflasiInflasi adalah fenomena kenaikan harga umum yang terjadi dalam suatu periode tertentu.

Kenaikan tersebut bisa dilihat dari dua prespektif:

  1. Perspektif Luas (Broad Perspective), misalnya kenaikan pada harga barang dan jasa secara umum, serta kenaikan biaya hidup (living cost).
  2. Perspektif sempit (Narrow Perspective), misalnya kenaikan harga komoditi konsumsi.

Contoh kasus kenaikan harga pada perspektif yang luas adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Efek domino dari kenaikan harga BBM adalah kenaikan biaya transportasi yang berdampak kepada kenaikan harga barang dan jasa. Bila kenaikan harga BBM tersebut berdampak kepada biaya produksi listrik, maka Tarif Dasar Listrik (TDL) naik. Kenaikan TDL berdampak kepada kenaikan biaya produksi, biaya administrasi, dan sebagainya yang operasinya bergantung kepada listrik. Kenaikan BBM dan TDL berdampak pula kepada kenaikan biaya hidup. Terjadilah inflasi.

Contoh kasus kenaikan harga pada perspektif yang sempit adalah kenaikan harga komoditi karena terbatasnya persediaan di saat permintaan sedang melonjak, biasanya terjadi pada even-even keagamaan. Kasus lainnya adalah ketika penawaran uang sangat tinggi melebihi pertumbuhan produksi barang dan jasa. Biasanya terjadi ketika suku bunga sangat tinggi. Terjadilah inflasi.

Angka inflasi diukur dalam satuan persen yang didapatkan salah satu caranya dari perbandingan antara Indeks Harga Konsumen – IHK pada periode yang dihitung dengan IHK pada periode sebelumnya. Kurun waktu periode bisa dalam satu bulan (Month over Month – MoM), satu kuartal (Quartal over Quartal– QoQ), atau satu tahun (Year over Year – YoY).

Misalkan IHK Tahun 2018 bernilai 100 dan IHK tahun 2019 bernilai 104,5. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

(IHK 2019 – IHK 2018)/IHK 2018 dikalikan 100%.

(104,5 – 100)/100 = 4,5/100 = 0,045, dikalikan 100% = 4,5%. Inilah angka inflasi YoY tahun 2019.

Indeks Harga Konsumen – IHK (Consumer Price Index – CPI) secara rutin dan berkelanjutan ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) berdasarkan data dan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS).

Fluktuasi harga barang dan jasa secara umum dipengaruhi oleh dinamika pasar yang menggunakan prinsip Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand).

Kategori tingkat Inflasi dan maknanya:

  • Kurang dari 2,5% =   tingkat inflasi rendah, kondisi ekonomi sangat stabil
  • Antara 2,5% – 5% =   tingkat inflasi sedang/moderat, kondisi ekonomi stabil.
  • Antara 5% – 8% =   tingkat inflasi tinggi, kondisi ekonomi kurang stabil
  • Di atas 8% =   tingkat inflasi sangat tinggi, kondisi ekonomi tidak stabil.

 

Bunga

Bunga adalah imbal jasa atas penggunaan uang oleh pihak lain dalam suatu periode tertentu. Nilai imbal jasa tersebut dinamakan Suku Bunga.

Fluktuasi dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan yang menggunakan prinsip Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand). Menurut Teori Loanable Funds: Tingkat Suku Bunga ditentukan oleh (1) Permintaan akan dana, dan (2) Penawaran dana.

Permintaan akan dana oleh masyarakat yang biasanya digunakan untuk keperluan rumah tangga, pemodalan usaha dan investasi, dan oleh pemerintah untuk kebutuhan pembangunan akan menaikkan suku bunga. Taraf pun menjadi tinggi. Hal itu menarik masyarakat pemilik dana untuk menawarkan dana dalam bentuk simpanan bank, obligasi, ataupun investasi. Di sisi lain, taraf yang tinggi akan menahan masyarakat untuk mengambil pinjaman.

Penawaran dana sangat banyak sedangkan permintaan berkurang. Taraf diturunkan.

Taraf yang rendah tidak lagi menarik bagi pemilik dana. Mereka menarik dananya. Di sisi lain, masyarakat yang membutuhkan dana melakukan permintaan dana.

Fluktuasi seperti itu tidak bisa dihindari. Untuk menjaga agar fluktuasi tersebut tidak terlalu tajam maka Pemerintah mengendalikan dengan menerapkan Taraf Acuan oleh Bank Indonesia sehingga pergerakan di pasar keuangan berada di sekitar taraf acuan. Pada akhir Februari 2020 Taraf SBI berada pada 4,75%.

Terdapat beberapa jenis bunga:

Bunga Flat

Bunga Flat (datar) nominalnya tetap tanpa memperhatikan nilai saldo pokok.

Contoh:  Pokok pinjaman 48 juta, bunga 10% pertahun, masa tenor 2 tahun (24 bulan).

Besar bunga 48 juta x 10% = 4.800.000 per tahun = 400.000 per bulan.

Cicilan Pokok 48 juta : 24 bulan = 2.000.000,-

Pengembalian pinjaman per bulan: 2.000.000 + 400.000 = 2.400.000,-

Total cicilan pokok dan bunganya selama 24 bulan = 57.600.000,-

Bunga Efektif.

Bunga efektif tarafnya tetap dengan memperhatikan nilai saldo.

Contoh:  Pokok pinjaman 48 juta, bunga 10%, masa tenor 2 tahun (24 bulan).

Cicilan bulan 1 dihitung dari pokok pinjaman. Cicilan bulan 2 dihitung dari Pokok

Pinjaman yang dikurangi dengan cicilan Pokok bulan 1, sehingga bunganya pun

berkurang.

Bunga EfektifRumus yang digunakan adalah

BC =Pc1PT×b12

BC    =   Bunga Cicilan

P      =   Pokok Pinjaman

T      =   Masa Tenor (bulan)

b      =   tingkat bunga

c       =   cicilan ke …

Total bunga: 5.000.000

Total semua cicilan: 53.000.000

Untuk mencoba praktek di Microsoft Excel, ikuti langkah-langkah berikut:

  1. PraktekKetik di A1: Pokok, A2: Bunga, A3: Tenor.
  2. Masukkan data di B1: 48000000, B2: 10%, B3: 24
  3. Tulis di A5: Bulan, B5: Pokok Pinjaman, C5: Pokok, D5: Bunga, E5: Cicilan
  4. Isi A6 sampai A29 dengan angka 1, 2 sampai 24.
  5. Isikan rumus di B6: =B$1-(A6-1)*(B$1/B$3), kemudian salin dan tempelkan di sel B7 sampai dengan sel B29.
  6. Isikan rumus di C6: =B1/B3. Di C7: =C6. Salin sel C7 dan tempelkan di C8 sampai dengan sel C29.
  7. Isikan rumus di D6: =((B$1-((A6-1)*(B$1/B$3)))*B$2)/12. Salin dan tempel di sel D7 sampai dengan sel D29.
  8. Isikan rumus di sel E6: =C6+D6. Salin dan tempelkan di sel E7 sampai dengan E29.
  9. Tulis di sel A30: TOTAL.
  10. Isi rumus di sel C30: =SUM(C6:C29). Salin dan tempelkan di sel D30 dan E30.
  11. Simpan lembar kerja dengan nama Praktek Interest.

Bunga Anuitas.

Bunga Anuitas sebenarnya adalah bunga efektif yang dimodifikasi. Prinsipnya sama, yaitu berdasarkan saldo pokok pinjaman. Bedanya jika besaran cicilan pada Efektif berubah-ubah, maka pada Anuitas dibuat sama.

Contoh:  Pokok pinjaman 48 juta, bunga 10%, masa tenor 2 tahun (24 bulan).

Pada perhitungan Bunga Efektif diketahui jumlah semua cicilan sebesar 53.000.000,- yang merupakan total dari cicilan pokok dan cicilan bunga.

Perhitungan sederhana Bunga Anuitas adalah membagi Total semua cicilan tersebut dengan berapa kali cicilan. Ü 53.000.000 : 24 = 2.208.333,3.

Dalam prakteknya, perhitungan Bunga Anuitas oleh lembaga-lembaga keuangan menggunakan rumus yang hasilnya memang tidak akurat, terdapat sedikit selisih, tetapi memang cepat mendapatkan hasil. Rumusnya seperti berikut:

P×i1211+i12t

P = pokok pinjaman,            i = tingkat bunga             t = masa tenor

Perhitungan dengan menggunakan rumus di atas untuk data pinjaman yang dipakai sebelumnya didapatkan hasil: 2.214.956,5. Ada selisih sebesar 6.623,1 setiap kali cicilan. Perhatikan tabel berikut. Yang kiri adalah perhitungan tanpa rumus, yang kanan menggunakan rumus.

BUnga Anuitas

Untuk mencoba praktek di Microsoft Excel, ikuti langkah-langkah berikut:

  1. Buka file Praktek Interest yang pernah disimpan.
  2. Ketika di sel G5: Bulan, H5: Pokok, I5: Bunga, J5: Cicilan.
  3. Blok G5 sampai J5, salin, tempelkan di L5.
  4. Ketik di sel G6: =$A6. Salin dan tempelkan di G7 sampai dengan G29.
  5. Ketik di sel H6: =J6-I6. Salin dan tempelkan di H7 sampai dengan H29.
  6. Ketik di sel I6: =$D6. Salin dan tempelkan di I7 sampai dengan I29.
  7. Ketik di sel J6: =J$3. Salin dan tempelkan di J7 sampai dengan J29.
  8. Blok sel G6 sampai dengan sel J29, salin, tempelkan di sel L6.
  9. Masukkan rumus di sel J3: =E30/B3.
  10. Masukkan rumus di sel O3: =B1*((B2/12)/(1-(1+(B2/12))^-B3)).
  11. Tulis di G30: TOTAL
  12. Masukkan rumus di sel H30: =SUM(H6:H29). Salin dan tempel di sel I30 dan J30.
  13. Blok sel G30 sampai sel J30. Salin. Tempel di sel L30.
  14. Agar tidak lupa, tulis di sel D1: Efektif. Sel H1: Anuitas Tanpa Rumus. Sel M1: Anuitas Dengan Rumus.
  15. Simpan lembar kerja.

 

Tiga jenis bunga di atas adalah taraf tetap (Fixed Rate). Ada juga Taraf Mengambang (Floating Rate) yaitu tingkat suku bunga yang berubah-ubah sesuai perubahan yang terjadi di pasar keuangan. Seperti halnya taraf tetap yang digunakan dalam perhitungan Flat, Efektif, dan Anuitas, taraf mengambang pun digunakan juga dalam tida bentuk perhitungan tersebut. Tetapi tidak seperti taraf tetap yang perhitungannya sekaligus untuk satu masa tenor, perhitungan pada taraf mengambang setiap kali terjadi perubahan tingkat suku bunga.

Penjelasan bunga di atas adalah tentang bunga pinjaman. Bagaimana dengan bunga simpanan?

Dalam hal simpanan dana, dikenal dua jenis bunga: bunga sederhana (simple interest) dan bunga majemuk (compound interest).

Bunga Sederhana atau disebut juga dengan Bunga tunggal biasanya digunakan untuk simpanan dengan saldo tetap dalam suatu periode tertentu, seperti simpanan deposito: 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun. Cara perhitungannya sama dengan perhitungan taraf tetap dan datar (flat).

Bunga majemuk biasanya digunakan untuk simpanan yang saldonya berubah-ubah seperti simpanan biasa. Cara perhitungannya bisa menggunakan cara flat atau pun cara efektif.

Terdapat tiga jenis Basis Perhitungan bunga simpanan:

  1. Saldo Terendah Bulanan
  2. Saldo Rata-Rata Bulanan
  3. Saldo Harian.

Buku Tabungan

Jika bunga simpanan tidak diambil dan simpanan dilanjutkan, begitu juga jika deposito dilanjutkan dengan melanjutkan transaksi deposito baru, maka bunga simpanan itu dimasukkan ke dalam pokok simpanan. Bunga akan diperhitungkan dari pokok simpanan yang sudah ditambah dengan bunga. Hal seperti ini disebut dengan Bunga Majemuk.Majemuk

Jika seseorang menyimpan uang sebesar Rp 50 juta di bank dengan bunga 6% dan tidak pernah menarik simpanannya selama 2 tahun. Berapakah saldo simpanannya pada awal tahun ketiga?

TabunganUntuk menghitung langsung dan lebih cepat bisa menggunakan rumus

Pn=P 1+i12t

Pn    =  Simpanan setelah periode tertentu.

P      =  Pokok Simpanan

i        =  Tingkat bunga

t             =  Frekuensi cicilan/lama waktu simpanan (bulan)

Pn=50.000.000 1+6%1224

Pn = 50.000.000  x (1 + 0,005)24   =  50.000.000  x (1,005)24  =  50.000.000  x  1,127  =  56.357.989

 

Future Value

Future Value (FV) yang berarti nilai waktu uang di waktu yang akan datang dan Present Value (PV) yang berarti nilai waktu uang saat ini tidak lepas dari perubahan tingkat suku bunga. Dengan demikian, perhitungannya pun hampir sama dengan perhitungan Bunga Majemuk pada simpanan, karena prinsip dari FV dan PV adalah pemajemukan (compounding) perubahan nilai uang tersebut.

Satu-satunya perbedaan adalah basis perhitungan. Bunga majemuk simpanan berbasis bulan karena umumnya bunga simpanan dibayarkan setiap bulan, sedangkan perhitungan nilai waktu uang berbasis tahun, sehingga kemajemukannya dihitung tahunan. Dengan demikian, rumus yang digunakan mirip dengan rumus untuk bunga majemuk tetapi tidak dibagi 12 (jumlah bulan dalam setahun). Rumusnya menjadi:

FVn = PV ( 1 + i)n

FVn = nilai uang setelah n tahun (Future Value)

PV = nilai uang saat ini (Present Vaue)

i = tingkat bunga

n = jumlah tahun

Untuk memahami lebih lanjut tentang Future Value, kita kembali ke soal kasus sebagai berikut:

Seseorang menawarkan tanah seluas 1 hektar dengan harga Rp 100 juta. Ada orang yang akan membelinya, tetapi dibayar 2 tahun yang akan datang dengan harga Rp 100 juta juga. Serah terima tanah dilakukan saat pelunasan. Apakah pemilik tanah menyetujui usulan pembeli? Jika transaksi dilakukan 2 tahun yang akan datang, berapa harga yang selayaknya?

Inti pertanyaannya adalah nilai uang 100 juta pada 2 tahun yang akan datang. Data-data yang ada:

PV: 100 juta       n: 2 tahun          t: 5% p.a. (Taraf SBI saat ini)

FV2 = 100.000.000 x (1 + 5%)2     =  100.000.000 x 1,052   =   100.000.000 x 1,1025

FV2 = 110.250.000 (Future Value)

Jadi jawaban dari pertanyaan di atas adalah harga 1 hektar tanah pada 2 tahun yang akan datang selayaknya: Rp 110.250.000,-

 

Present Value

Present Value (PV) yang berarti nilai waktu uang saat ini merupakan kebalikan dari Future Value (FV) yang berarti nilai waktu uang pada waktu yang akan datang. Dengan demikian rumus yang digunakan untuk menghitung Present Value adalah kebalikan dari rumus untuk Future Value sebagai berikut:

PV = FV / (1 + i)n

FVn = nilai uang setelah n tahun (Future Value)

PV = nilai uang saat ini (Present Vaue)

i = tingkat bunga

n = jumlah tahun

Untuk memahami lebih lanjut tentang Present Value, kita kembali ke soal kasus sebagai berikut:

Seseorang hendak menjual tanah seluas 1 hektar senilai Rp 100 juta pada 5 tahun yang akan datang. Tiba-tiba dia butuh dana saat ini dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan dana selain menjual tanahnya. Berapa harga yang layak atas tanah tersebut?

Inti pertanyaannya adalah nilai uang saat ini (present value) untuk 100 juta pada 5 tahun yang akan datang. Data-data yang ada:

FV: 100 juta       n: 5 tahun          t: 5% p.a. (Taraf SBI saat ini)

PV = 100.000.000  : (1 + 5%)5     =  100.000.000  : 1,055   =   100.000.000  : 1,276

PV = 78.352.617 (Present Value)

Jadi jawaban dari pertanyaan di atas adalah 1 hektar tanah yang ditawarkan pada 5 tahun yang akan datang dengan harga Rp 100 juta, harganya sekarang (present value) adalah: Rp 78.352.617,-

Dari dua perhitungan di atas, untuk Future Value dan Present Value, hasil akhirnya sangat ditentukan oleh Taraf yang berlaku.

 

Anuitas

Anuitas adalah serangkaian pembayaran atau penerimaan dalam suatu periode dengan nominal uang yang sama. Terdapat dua jenis Anuitas:

  1. Anuitas Biasa (Ordinary Annuity atau Deferred Annuity), yaitu pembayaran berkala pada akhir periode.
  2. Anuitas Jatuh Tempo (Due Annuity), yaitu pembayaran berkala pada awal periode.

Lazimnya anuitas yang digunakan pada keuangan adalah anuitas biasa, kecuali jika disebutkan sebagai Anuitas Jatuh Tempo.

Pada prinsipnya anuitas menggunakan perhitungan Present Value (PV) atau Future Value (FV).

Contoh kasus: Harga tunai sebuah rumah type 36 sebesar Rp 300 juta. Jika dijual secara cicilan selama 10 tahun dengan down payment sebesar Rp 60 juta. Berapa nominal cicilan per bulan yang benar?

Harga saat ini (Present Value): 300.000.000 – 60.000.000 = 240.000.000.

Bunga (i): 10% (rerata taraf di pasar keuangan selama 10 tahun terakhir).

Masa kredit (n): 10 tahun.

Rumus: FVn = PV(1 + i)n

FVn = nilai uang setelah n tahun (Future Value)

PV = nilai uang saat ini (Present Vaue)

i = tingkat bunga

n = jumlah tahun

FV10 = 240.000.000 x (1 + 10%)10   =   240.000.000 x 1,110   =  240.000.000 x 2,594   =   622.498.190.

Cicilan per bulan: Rp 622.498.190,- : 10 tahun : 12 bulan   =  622.498.190 : 120   =   Rp 5.187.485,-

 

Baca materi Manajemen Keuangan selengkapnya di Manajemen Keuangan.

Mari berbagi
  •  
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares
  • 2
    Shares
Komentar Anda: