4 Metode Pembelajaran Bahasa Asing

4 Metode Pembelajaran Bahasa Asing

Kebutuhan pada Bahasa Asing

Pembelajaran bahasa asing sudah menjadi kebutuhan manusia di era borderless saat ini, ketika batas dan sekat negara dan bangsa sudah ditembus oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ketika kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain sudah menapaki ranah global. Manusia dituntut untuk berkomunikasi dengan manusia lain yang berbicara dengan bahasa asing.

pembelajaran bahasa asing

Bahasa Komunikasi

Berkomunikasi adalah kebutuhan dasar manusia, alat utamanya adalah bahasa. Mereka yang selamat dari cacat

fisik yang terkait dengan komunikasi aktif, menggunakan bahasa suara, sedangkan mereka yang memiliki cacat berupa bisu atau tuli, terpaksa menggunakan bahasa isyarat.

Bahasa isyarat terdiri dari dua bentuk: bentuk yang umum adalah isyarat tubuh atau yang lebih dikenal dengan istilah bahasa tubuh. Bentuk ini digunakan oleh semua manusia, baik yang sehat maupun yang cacat, dari berbagai belahan dunia dengan beraneka ragam ras. Pemahaman terhadap isyarat tubuh didapatkan dari kesepakatan sehingga terdapat beberapa bentuk isyarat yang dipahami berlainan di berbagai daerah atau bangsa.

Orang Indonesia umpamanya sudah sepakat bahwa isyarat tubuh meletakkan jari telunjuk secara miring di dahi menyatakan gila atau tidak sehat mental, sedangkan bahasa lain mengisyaratkan dengan cara lain, seperti orang Arab yang mengisyaratkan dengan cara membuat putaran lima jari yang dibengkokkan di samping kepala. Contoh lain seperti pernyataan tidah tahu yang diisyaratkan dengan cara mengangkat kedua bahu sebentar, tetapi di daerah lain diisyaratkan dengan cara membuka kedua tangan lebar-lebar, atau bahkan dengan cara menganggukkan kepala.

Bentuk yang khusus adalah isyarat tubuh yang dikhususkan untuk para penyandang cacat bisu dan tuli. Seperangkat isyarat tangan sudah ditetapkan menjadi bahasa komunikasi untuk mereka yang kurang beruntung.

Adapun mereka yang beruntung selamat dari cacat fisik komunikasi, berkomunikasi aktif dengan menggunakan suara. Apakah suara yang diperdengarkan itu berupa kata baku yang terdaftar dalam ‘kamus’ seperti berbicara, berpidato, bernyanyi, dan sebagainya, ataupun bukan kata baku, seperti suara siulan, erangan, desisan, dan sebagainya. Meskipun bukan kata baku, tetapi ketika suara tersebut diperdengarkan langsung dapat dipahami oleh pendengarnya. Saat itu telah terjadi suatu komunikasi suara. Suara kata tak baku ini dipahami maknanya oleh mayoritas manusia di dunia dengan pemahaman yang sama.

Yang paling kompleks dalam komunikasi aktif adalah penggunaan kata-kata baku. terdapat banyak perbedaan kata-kata yang digunakan oleh manusia untuk menunjuk suatu maksud yang sama.

Ucapan terima kasih misalnya, dinyatakan dalam bentuk kata yang beraneka-ragam: thank you (Inggris), syukran (Arab), merci (Perancis), danke (Jerman), arigatou gozaimasu (Jepang), xie xie (Cina), kam sia (Taiwan), kamsahamnida (Korea), salamat (Pilipina), cam on (Vietnam), khawp khun (Thailand), shukuria (Myanmar), shukriya (Pakistan), rumba nandri (India), gracias (Spanyol), obrigado (Portugis), dank u (Belanda), koszonom (Hongaria), dekuji (Ceko), mahalo (Hawai), spasibo (Rusia). (Lebih lanjut silahkan layari  http://users.elite.net/runner/jennifers/thankyou.htm “Thank you” in more than 465 languages). Di Indonesia sendiri terdapat banyak ragam ucapan terima kasih, seperti teurimong geunaseh (Aceh), mauliate (Batak), sauha golo (Nias), hatur nuhun (Sunda), matur nuwun (Jawa), selangkong (Madura), matur suksme (Bali), tampi asih (Lombok), sakeran (Sumbawa), kurrusumanga‘ (Toraja), makase (Menado), amanai (Papua).

Keragaman kosakata seperti tersebut di atas terjadi juga pada kata-kata lain untuk maksud yang lain pula. Susunan kalimat pun beragam dengan aturan dan tata aturannya masing-masing, termasuk di dalamnya cara menyebutkannya, aksennya, lahjahnya, iramanya, sampai kepada tatacara penulisannya, jenis hurufnya, dan seterusnya. Masing-masing memiliki ciri dan bentuk yang unik. Kesatuan dari keunikan tersebut tersistem dalam apa yang disebut bahasa.

Ditinjau dari penguasaan manusia terhadap bahasa, setidaknya ada tiga tingkatan bahasa:

  1. Bahasa Ibu, yaitu bahasa yang pertama kali dikuasai oleh manusia, biasanya adalah bahasa yang pertama kali digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dengan ibunya yang memeliharanya sejak kecil. Kebanyakan yang menjadi bahasa ibu adalah bahasa daerah dimana manusia dilahirkan dan dibesarkan, tetapi ada juga yang – karena orangtuanya berasal dari dua bahasa daerah yang berbeda atau tinggal di suatu daerah yang menggunakan bahasa bukan bahasa ibu kedua orangtuanya – menjadikan bahasa nasional sebagai bahasa ibu.
  2. Bahasa nasional. Setiap negara menetapkan satu bahasa resmi yang menjadi bahasa nasional. Terkadang ada suatu negara yang penduduknya berasal dari bangsa-bangsa yang berbeda dengan persentase yang signifikan. Singapura umpamanya, Berbagai kelompok bangsa Cina membentuk 74,2% dari penduduk Singapura, Melayu 13,4%, India 9,2%, sementara Eurasia, Arab dan kelompok lain membentuk 3,2%, bahasa resmi utama adalah bahasa Inggris, namun yang ditetapkan sebagai bahasa nasional adalah bahasa Melayu (http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura).
  3. Bahasa asing (bahasa negara lain) dan bahasa daerah lainnya.

 

Bagaimana Manusia Berbahasa?

Bahasa adalah perpaduan antara keterampilan dan ilmu. Keterampilan berbahasa ada empat: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan ilmu bahasa terkait dengan gramatika, tatacara menulis, tatacara membaca, dan sebagainya.

Kemampuan berbahasa adalah penguasaan manusia terhadap 4 keterampilan bahasa, bukan terhadap ilmu bahasa. Seseorang yang sudah mampu berdialog dalam suatu bahasa, dia mampu mengucapkan suatu ujaran yang bisa dipahami oleh pendengarnya dan dia mampu memahami apa yang diujarkan oleh lawan bicaranya, maka orang tersebut sudah bisa berbahasa, meskipun secara teori orang itu tidak paham sama sekali tentang kaidah gramatika.

Kemampuan berbahasa ada dua tingkatan, aktif dan pasif. Kemampuan berbahasa aktif adalah kemampuan seseorang untuk berbahasa dalam komunikasi hidup sehari-hari. Sedangkan kemampuan berbahasa pasif adalah kemampuan seseorang untuk memahami bahasa tersebut secara pasif, melalui mendengar dan membaca, serta mampu mengekspresikan hanya dengan cara menulis, tetapi tidak berdaya untuk masuk dalam dialog hidup.

Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan “bagaimana manusia berbahasa?”, cara yang sederhana adalah dengan mengikuti tahapan pertumbuhan manusia sejak bayi hingga masa ketika anak itu sudah dianggap mampu berbahasa. Setidaknya ada 4 tahapan yang dilalui oleh bayi untuk mulai bisa berbahasa aktif:

  1. Tahap mendengar dan merekam dalam memori otaknya kata-kata yang diberikan oleh ibu, bapak, saudara, dan keluarganya.
  2. Tahap pengenalan makna kosakata dalam jumlah yang masih terbatas.
  3. Tahap menirukan dan penyusunan pola-pola kalimat sederhana.
  4. Tahap berbicara sederhana serta penambahan kosakata dan struktur kalimat.

Keempat tahapan itulah yang dilalui oleh manusia kecil secara berulang-ulang, dimulai pada lingkaran yang terkecil, ibu, bapak, saudara dan keluarga terdekat, terus meluas ke teman-temannya, seiring dengan meluasnya dunia yang dirambahnya. Demikianlah akhirnya seorang anak berusia 4 tahun sudah mampu berkomunikasi aktif dengan teman-temannya, bahkan dengan orang dewasa. Anak 4 tahun itu sudah menguasai bahasa ibu secara aktif, entah bahasa daerah atau bahasa nasionalnya.

Fenomena itulah yang terjadi pada kemampuan anak-anak di kawasan pariwisata untuk berbahasa Inggris. Mereka mendapatkan kemampuannya bukan melalui pembelajaran sengaja di sekolah, tetapi melalui tahapan natural seperti yang disebutkan di atas. Bermula dari banyak mendengar komunikasi antara para tourist dan guides, merekam setiap kata, memahami maknanya, menirukan dan mengekspresikan dalam menyapa, berbicara, dan selanjutnya berkembang sampai pada kemampuan berbahasa Inggris secara aktif.

Dalam dunia pendidikan, tentu bukan kemampuan berbahasa yang seperti itu saja yang diharapkan, tetapi penguasaan semua keterampilan bahasa yang terpadu dengan penguasaan atas ilmu-ilmu bahasa secara lengkap, walaupun barangkali tidak sampai kepada aspek sastranya. Baik bahasa daerah, bahasa nasional, ataupun bahasa asing. Dari semua indikator keberhasilan bahasa, yang terpenting adalah kemampuan berbahasa aktif dalam arti kemampuan seseorang untuk melakukan komunikasi aktif dengan menggunakan bahasa secara baik dan benar.

 

Metode Pembelajaran Bahasa Asing

Pembelajaran bahasa asing sudah melalui sejarah panjang. Banyak kepentingan orang mempelajari bahasa asing semenjak teknologi belum semaju sekarang ini. Di antaranya yang paling populer adalah untuk kepentingan misi keagamaan, ekonomi dan militer. Berbagai macam metode dan pendekatan digunakan, setidaknya dapat terangkum dalam 4 pendekatan sebagai berikut:

1.  Metode Kosakata & Terjemah, Vocabulary & Translation Methodطريقة المترادفات والترجمة.

Tahapan paling awal dalam pembelajaran bahasa asing menggunakan metode atau Pendekatan Kosakata dan Terjemah. Dalam pendekatan ini, yang dilakukan adalah menghafalkan kosakata baru dalam bahasa yang dipelajari sebanyak mungkin, kemudian menyusunnya dalam suatu kalimat.

Pendekatan ini banyak memiliki kelemahan, terutama terjadi pada fakta bahwa masing-masing bahasa memiliki tatabahasa yang berbeda-beda. Para pembelajar akhirnya terjebak dalam kesalahan struktural ketika menyusun kalimat dalam bahasa yang dipelajari, juga dalam menterjemahkan, baik dari atau ke bahasa asing yang dipelajari.

Belum lagi terhambat oleh keterbatasan daya ingat dalam menghafal seluruh kosakata yang dipelajari atau merecall suatu kata yang dibutuhkan segera.

2.  Metode Tatabahasa, Grammatical Methodالطريقة النحوية .

Untuk mengatasi hambatan dan kelemahan Pendekatan Kosakata dan Terjemah dicoba diatasi dengan Pendekatan Tatabahasa, dimana para pembelajar selain harus menghafal banyak kosakata juga dijejali dengan kaedah-kaedah tatabahasa yang pasti cukup rumit dan kompleks.

Kelemahan dan hambatan yang ada pada Pendekatan Kosakata dan Terjemah ternyata tidak bisa diatasi sepenuhnya oleh Pendekatan Tatabahasa. Pengetahuan tentang kaedah tatabahasa hanya membuat pembelajar menjadi sangat kaku dalam berbahasa pasif, apalagi berkomunikasi aktif. Belum lagi kerumitan dan kompleksitas kaedah tatabahasa memberi tekanan tambahan kepada pembelajar sehingga kegiatan pembelajaran bahasa asing menjadi kegiatan yang membosankan, membebankan, bahkan menakutkan.

3.  Metode Langsung, Direct Methodالطريقة المباشرة.

Pendekatan Langsung merupakan suatu revolusi dalam pembelajaran bahasa asing. Pendekatan ini ditemukan secara teori menjelang perang dunia ke-2 pada tahun 1940an untuk kepentingan spionase dan militer, dimana para spion dimasukkan langsung ke dalam komunitas masyarakat penutur asli (native speakers) bahasa yang dipelajari. Para pembelajar terpaksa berkomunikasi dengan anggota komunitas dengan menggunakan bahasa yang dipelajari.

Sesungguhnya teori Pendekatan Langsung ini disarikan dari praktek yang sudah lama dilakukan oleh para pengembara ke negeri orang, para pendakwah, misionaris, para pedagang, dan sebagainya. Hingga saat ini pun para perantau yang ‘nekad’ hidup di negeri orang ‘tanpa sengaja’ mempraktekkan Pendekatan Langsung ini.

Para penjual bakso yang hampir semuanya adalah suku Jawa dan merantau di semua penjuru negeri, sehingga bakso selalu bisa dijumpai di hampir semua wilayah di Indonesia. Para penjual bakso tersebut ternyata telah fasih berbahasa daerah dimana dia tinggal dan berdagang, dia mampu berkomunikasi aktif, bahkan dengan aksen dan intonasi yang benar, meskipun logat jawanya masih juga terdengar. Fenomena penjual bakso adalah contoh nyata dari keberhasilan Pendekatan Langsung dalam pembelajaran bahasa asing.

Pendekatan ini efektif, karena pada dasarnya cara yang ditempuh mengikuti cara natural bagaimana manusia berbahasa. Keberhasilan pendekatan ini membuatnya sangat populer dan digunakan sebagai metode utama pembelajaran bahasa asing.

Dalam perkembangannya, ketika Pendekatan Langsung ini diterapkan dalam pembelajaran bahasa asing di sekolah, muncullah suatu masalah, yakni karena terlalu langsung, maka siswa mampu berkomunikasi aktif dengan bahasa yang dipelajari, tetapi tidak baik dan benar, jika pelajar jawa belajar bahasa Inggris, maka komunikasi yang terjadi adalah menggunakan bahasa ‘Inggris Jawa’, kalau orang Sumatera belajar bahasa Arab, maka yang muncul adalah bahasa ‘Arab Sumatera’. Yang dimaksud dengan ‘Inggris Jawa’ atau ‘Arab Sumatera’ adalah penggunaan struktur kalimat dan nuansa bahasa ibu dalam komunikasi bahasa Arab atau Inggris.

Masalah itu muncul karena salah satu prasyarat efektifitas Pendekatan Langsung adalah ketersediaan komunitas penutur asli dimana para pembelajar menyerap dan menirukan cara komunikasi yang baik dan benar dalam mempraktekkan bahasa yang dipelajari. Ketersediaan laboratorium komputer sangat tidak mampu menggantikan peranan komunitas penutur asli. Jika prasyarat itu tidak tersedia, maka keunggulan ‘langsung’menjadi kelemahan utama dari pendekatan ini.

4.  Metode Dengar Bicara, Aural Oral Method, الطريقة السمعية الشفهية.

Pendekatan Dengar Bicara muncul pada dasawarsa 70an sebagai reaksi atas kelemahan yang muncul dari Pendekatan Langsung. Pelajaran yang diambil dari munculnya kelemahan tersebut adalah:

  1. Mengamati proses mendapatkan bahasa oleh manusia pada awal masa pertumbuhan, maka tahapan awal adalah tahapan merekam banyak input, dalam hal ini adalah perbendaharaan kosakata, maknanya, struktur kalimatnya, cara penggunaannya, dan sebagainya. Tahapan berikutnya adalah menirukan, baik kontennya ataupun polanya, barulah sampai pada tahap penggunaan dalam ekspresi.
  2. Jika input yang menjadi bahan mentah kurang atau tidak lengkap, yang terjadi adalah ‘kreasi’yang terpaksa, dalam hal inilah pengaruh bahasa ibu akan terjadi.
  3. Metode Langsung terlalu cepat meletakkan pembelajar dalam situasi harus bicara sebelum input yang dimiliki memadai.

Untuk itu, Pendekatan Dengar Bicara sangat menekankan pengutamaan keterampilan mendengar di awal-awal pembelajaran dengan maksud memberikan input yang memadai, dilanjutkan dengan bimbingan drill tentang apa yang diperdengarkan tersebut, barulah kemudian sampai pada tahapan ekspresi lisan tentang apa yang diperdengarkan dan didrillkan tadi. Proses memperdengarkan pola/pattern dapat dilakukan oleh guru, tapi sebaiknya oleh penutur asli bahasa yang dipelajari, baik secara langsung ataupun melalui rekaman, dalam hal ini, ketersediaan laboratorium bahasa atau minimal pemutar kaset/VCD/DVD sangat membantu proses pembelajaran.

Pendekatan Dengar Bicara mengelompokkan keterampilan bahasa ke dalam 2 kelompok:

  1. keterampilan lisan (oral skill, مهارة شفهية) yang terdiri dari keterampilan mendengar (listening, استماع) dan bicara (speaking, كلام)
  2. keterampilan tulisan (writen skill, مهارة كتابية) yang terdiri dari keterampilan membaca (reading, قراءة) dan menulis (writing, كتابة).

Dalam mengajarkan keempat keterampilan bahasa tersebut, metode dengar bicara menegaskan bahwa pada sesi-sesi awal pembelajaran bahasa asing, proses pembelajaran didominasi oleh keterampilan lisan, bahkan pada pertemuan-pertemuan awal hampir seluruh waktu dihabiskan untuk keterampilan lisan. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan siswa dalam penguasaan bahasa asing yang dipelajari, maka persentase dominasi keterampilan lisan berkurang dengan semakin meningkatnya persentase keterampilan tulisan, hingga pada jenjang advance dan expert, pembelajaran keterampilan tulisan sangat dominan.

Sebagai contoh, jika pelajaran bahasa Inggris atau Arab diajarkan di SMP/MTs dan di SMA/MA, masing-masing selama 3 tahun yang terdiri dari 6 semester, maka porsi masing-masing keterampilan bahasa adalah sebagai berikut:

Pembelajaran Bahasa Asing di SMP/MTs

Kelas Semester Mendengar Bicara Membaca Menulis Total
VII 1 50 35 10 5 100
2 50 35 10 5 100
VIII 3 45 30 15 10 100
4 40 30 15 15 100
IX 5 40 30 15 15 100
6 35 30 15 20 100

Pembelajaran Bahasa Asing di SMA/MA

Kelas Semester Mendengar Bicara Membaca Menulis Total
X 1 30 30 20 20 100
2 25 30 25 20 100
XI 3 20 25 25 30 100
4 20 25 25 30 100
XII 5 15 20 30 35 100
6 10 20 35 35 100

Pendekatan Dengar Bicara sesungguhnya adalah pengembangan atas Pendekatan Langsung dengan beberapa modifikasi untuk mengatasi kelemahan yang muncul. Beberapa pengembangan tersebut antara lain:

Metode Langsung Metode Dengar Bicara
1. Tahapan antara mendengar dan bicara tidak jelas. 1. Tahapan antara mendengar dan bicara sistematis.
2. Tahapan antara keterampilan lisan dan keterampilan tulisan tidak jelas. 2. Tahapan antara 4 keterampilan bahasa jelas dan proporsional berjenjang.

Pengembangan yang dilakukan dalam Pendekatan Dengar Bicara menimbulkan kelebihan lain seperti:

  1. Pengajaran ilmu bahasa seperti tatabahasa menjadi lebih mudah untuk diintegrasikan dalam pengajaran keterampilan bahasa, termasuk di dalamnya peningkatan dari kaidah yang sederhana menuju kaidah yang kompleks.
  2. Penyusunan buku-buku pegangan siswa dan buku panduan untuk guru lebih sistematis.
  3. Pengukuran keberhasilan pembelajaran lebih mudah.
  4. Masalah kegagalan pembelajaran lebih mudah diidentifikasi dan dilakukan remedial dengan tepat.

 

Best Practices

Banyak lembaga pendidikan yang telah menunjukkan keberhasilan dalam pembelajaran bahasa asing yang bisa diteladani, di antaranya adalah Pondok Modern Gontor, Lembaga Indonesia Amerika (LIA) Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, Kampung Inggris di Pare Kediri Jawa Timur, dan lain sebagainya. Di sini akan dipaparkan selayang pandang tentang kiat yang digunakan oleh Pondok Modern Gontor dalam pembelajaran Bahasa Arab dan Inggris, LIPIA Jakarta dalam pembelajaran bahasa Arab, dan Kampung Pare dalam pembelajaran bahasa Inggris.

1.   Pondok Modern Gontor, http://gontor.ac.id/

Gontor menerapkan Metode Langsung. Pelajaran bahasa Arab dan Inggris menjadi pelajaran yang sangat dipentingkan. Untuk siswa kelas 1 KMI (sederajat kelas VII SMP/MTs) diberikan pelajaran bahasa Arab sebanyak 10 jam seminggu, ditambah dengan pelajaran pendukung lain seperti Imla’ (kaidah penulisan Arab) dan khat (seni kaligrafi Arab). Sedangkan untuk bahasa Inggris dijadwalkan 4 jam pelajaran seminggu. Buku yang dipergunakan oleh siswa adalah Durusul Lughah al-Arabiyyah untuk bahasa Arab dan English Lesson yang disadur dari Berlitz untuk bahasa Inggris.

Untuk kelas-kelas berikutnya, pelajaran bahasa Arab dibagi dalam beberapa mata pelajaran: Insya’ (ekspresi tulis), muthalaah (membaca), tamrinat (latihan-latihan bahasa), nahwu dan sharf (tatabahasa), imla‘ (kaidah penulisan), dan khat (kaligrafi). Untuk tingkatan yang lebih tinggi sederajat SMA/MA, pelajaran sharf, imla’, dan khat dihentikan, diganti dengan pelajaran tentang sastra Arab: balaghah (ma’ani, bayan, dan badi’) dan tarikh adabil lughah (sejarah sastra). Alokasi waktu untuk keseluruhan pelajaran bahasa Arab sekitar 10 – 12 jam pelajaran seminggu.

Pada pelajaran bahasa Inggris, penambahan pelajaran grammar ditambahkan pada kelas 3 (sederajat kelas IX SMP/MTs) dan kelas yang lebih tinggi. Alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran bahasa Inggris sekitar 3 – 4 jam pelajaran seminggu.

Pada kelas-kelas permulaan, pembelajaran bahasa Arab dan Inggris diwarnai dengan pemberian kosakata baru dan drill penggunaan kosakatabaru tersebut dalam kalimat sederhana. Guru meneriakkan kosa kata tersebut dalam kalimat sederhana yang kemudian diikuti oleh para siswa berulang kali sehingga siswa mampu mengucapkannya sendiri dengan benar. Kemudian siswa diminta untuk memahami pola kalimat sederhana tersebut dan selanjutnya melakukan penggantian kata (word replacing) dalam kalimat yang tersedia secara benar.

Nasehat yang selalu diulang-ulang setiap kali pelajaran bahasa asing berakhir adalah agar para siswa terus menggunakan kosakata baru yang sudah diketahui dalam komunikasi sehari-hari agar kosakata tersebut tidak hilang dari ingatan dan menjadi satu dengan para siswa.

Praktek pembelajaran bahasa tersebut terbukti mampu membuat para siswa melakukan komunikasi sederhana dalam bahasa Arab dan Inggris, khususnya dengan menggunakan pola kalimat yang sudah diajarkan.

Penguatan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris dilakukan dengan berbagai cara, yang paling efektif adalah penerapan disiplin bahasa resmi (Arab dan Inggris) sebagai bahasa komunikasi dimana para siswa/santri selama berada di dalam kampus pondok wajib berbahasa Arab atau Inggris (sesuai tema pekan: apakah usbu’ araby ataukah english week, usbu’ = week) yang diikuti pemberian sangsi bagi santri yang tidak mengikuti disiplin bahasa tersebut; penggunaan bahasa Arab untuk pengantar semua pelajaran bahasa Arab dan pelajaran-pelajaran islamiyat serta bahasa Inggris untuk semua pelajaran bvahasa Inggris; dan adanya kegiatan ekstrakurikulair latihan pidato dalam 3 bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia).

2.   Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta

LIPIA Jakarta yang merupakan filial dari Universitas Islam Internasional Imam Ibnu Saud Riyadh Saudi Arabia menyelenggarakan program I’dadul Lughah selama 2 tahun (4 semester) bagi tamatan SMA/MA dengan muatan kurikulum islamiyat (ilmu-ilmu keislaman) dan bahasa Arab.

Buku pegangan utama yang digunakan di LIPIA adalah al-Arabiyah lin Nasyi’in yang menggunakan metode Dengar Bicara. Buku tersebut terdiri dari 6 jilid tebal yang disusun sangat sistematis dan terpadu, memuat panduan untuk melatih dan meningkatkan 4 ketarampilan bahasa Arab.

Seluruh kegiatan pembelajaran menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi di bawah bimbingan para dosen yang datang dari beberapa negara yang berbahasa Arab (Saudi Arabia, Mesir, Sudan, Yordania, dan lain-lain) juga dosen dari Indonesia. Dengan demikian, mahasiswa LIPIA mendapat keuntungan bisa berkomunikasi langsung dengan penutur asli bahasa Arab, baik dalam komunikasi sehari-hari ataupun melalui ceramah-ceramah. Suasana yang sangat kondusif tersebut didukung pula oleh ketersediaan sarana pendukung belajar, seperti laboratorium bahasa dan alat-alat peraga, selain didukung juga oleh disiplin kewajiban berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab selama berada di kampus LIPIA.

Satu catatan yang mempercepat penguasaan para siswa dalam menguasai bahasa Arab adalah adanya komitmen bahwa para mahasiswa LIPIA secara berkelompok menyewa rumah sebagai tempat kos mereka. Di rumah kontrakan tersebut diterapkan pula anjuran untuk terus berkomunikasi menggunakan bahasa Arab.

3.  Kampung Inggris, Pare Kediri

Kampung Inggris Pare merupakan julukan bagi perkampungan di sepanjang Jalan Anyelir, Jalan Brawijaya, Jalan Kemuning yang berada di dua desa: Tulungrejo dan Palem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Dijuluki Kampung Inggris karena di perkampungan tersebut terdapat sekitar 250 lembaga kursus bahasa Inggris, termasuk asrama atau camp tempat peserta kursus yang datang dari luar daerah bertempat-tinggal. Yang lebih penting dari itu adalah karena komunikasi yang terdengar di perkampungan itu menggunakan bahasa Inggris.

Melihat latar belakang perintisnya, Kalend Osein, yang jebolan Pondok Modern Gontor, maka bisa diduga bahwa metode pembelajaran yang digunakan adalah Pendekatan Langsung (Direct Method) yang pernah dipelajari oleh Kalend. Pada perkembangannya, metode pembelajaran yang digunakan berkembang dan mengadopsi metode terbaru: Pendekatan Dengar Bicara (Oral Aural Method). Namun kunci utama keberhasilan Kampung Inggris sama seperti yang dipegang Oleh Pondok Modern Gontor dan LIPIA dalam pembelajaran bahasa asing, yaitu komitmen dan disiplin para pembelajar untuk praktek dan komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Inggris.

Dari tiga best practices di atas dapat diambil suatu benang merah bahwa faktor utama keberhasilan pembelajaran bahasa asing adalah adanya suatu disiplin untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajari dengan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Semakin banyak praktek semakin bagus penguasaan bahasa asing, semakin lama tidak praktek semakin hilang bahasa asing yang dipelajari.

 

Berbahasa adalah Keterampilan

Bila diamati dengan seksama akan ditemukan fakta bahwa kemampuan berbahasa didapatkan melalui rangkaian latihan dan praktek yang berkelanjutan, persis sama dengan kemampuan seseorang untuk mengetik menggunakan 10 jari tanpa melihat papan tut, kemampuan seseorang untuk bermain bola basket, kemampuan seseorang untuk menghipnotis, kemampuan seseorang untuk memainkan gitar atau piano, kemampuan seseorang untuk naik sepeda, kemampuan seseorang untuk berenang, dan lain sebagainya. Seluruh kemampuan tersebut adalah suatu keterampilan yang didapatkan melalui proses latihan dan praktek.

Bila ada seseorang yang secara teori sangat mengenal berbagai teknik dasar berenang, mengenal berbagai gaya renang, memahami berbagai bentuk improvisasi dari masing-masing gaya renang, namun apabila dia belum pernah mempraktekkan teknik renang yang paling dasar sekalipun, bila dia diharuskan berenang, mungkin dia akan menemukan suatu gaya baru, yaitu gaya batu, dimana tangan dan kakinya tak tahu harus melakukan apa ketika tiba-tiba tubuhnya segera tenggelam ke dalam air persis seperti batu. Bandingkan dengan seorang anak pantai yang tak pernah sekalipun mendengar teori tentang renang, apabila dia lompat ke laut, dia akan segera bergerak lincah mirip seekor ikan.

Demikianlah analogi sederhana bagi seseorang yang mempelajari bahasa asing, meskipun dia sangat menguasai semua ilmu bahasa, dia mungkin menghafal ribuan kosakata, bila tanpa latihan dan praktek, lidahnya akan kelu ketika dia terjebak di tengah komunikasi bahasa asing, telinganya seperti mendengar suara tanpa makna. Bahkan mereka yang sudah pernah memiliki kemampuan berbahasa aktif pun, jika dalam waktu lama tidak mempraktekkannya, dia akan kehilangan kemampuan aktifnya, syukur bila dia masih mampu mempertahankan kemampuan pasifnya.

 

Taliwang, 13 April 2011

Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda:
Close Menu