3. Analisis Lingkungan Bisnis. Be The Inspiring Champion!

Kepentingan Analisis

Menguasai (mengetahui detil dan menganalisis) medan tempur adalah setengah kemenangan. Demikian salah satu nasehat Sun Tzu, seorang ahli strategi perang Cina yang bukunya sangat tersohor. Nasehat itu ternyata banyak digunakan oleh pebisnis dalam meraih kesuksesan.

Berbagai pola analisis bisnis diterapkan dan fakta membuktikan bahwa analisis yang diawali dengan data yang valid dan akurat betul-betul bisa mengantarkan kepada kesuksesan.

Saat ini sudah banyak model analisis yang ditawarkan dan dapat digunakan. Sebagian besar memang diperuntukkan bagi usaha yang sudah berjalan untuk bisa lebih maju lagi. Tetapi bisa juga digunakan untuk analisis usaha yang baru dimulai atau yang masih berada pada tahap permulaan.

Analisis terdiri dari dua bagian: Analisis Lingkungan Internal dan Analisis Lingkungan Eksternal.

Di antara model yang terkenal untuk analisis ekternal adalah model PEST ciptaan Francis Aguilar dan 5 Force milik Michael Porter. Sedangkan untuk analisis internal menggunakan model Value Chain Michael Porter. Hasil analisis eksternal dan internal dipadukan dengan Analisis SWOT milik Albert Humphrey.

Analisis PEST

PESTELPEST adalah singkatan dari Politic, Economy, Social, and Technology. Analisis PEST mengevaluasi faktor-faktor ekonomi makro yang memiliki pengaruh secara lebih luas.

Faktor Politik, berkaitan dengan kondisi politik, kebijakan pemerintah seperti peraturan, program, dan larangan yang terkait dengan bidang usaha dan ekonomi. Contoh: Program subsidi modal bagi usaha mikro dan usaha kecil; Dukungan bagi industri lokal; Program One Village One Product, dan lain sebagainya.

Faktor Ekonomi, berkaitan dengan kondisi ekonomi seperti keadaan inflasi, tingkat suku bunga yang sedang berlaku, kondisi supply and demand komoditi tertentu, dan sebagainya.

Faktor Sosial, berkaitan dengan sosial budaya masyarakat yang menjadi pangsa pasar. Di antaranya tentang gaya hidup masyarakat, tingkat pendidikan, tarap ekonomi, kebiasaan, dan lain sebagainya.

Faktor Teknologi, berkaitan dengan keterkaitan usaha yang dijalankan dengan teknologi, baik teknologi mesin, elektronik, informasi, dan lainnya. Contoh: penggunaan mesin, penggunaan jaringan seluler, penggunaan kendaraan, dan sebagainya.

Pada perkembangannya, Analisis PEST tersebut ditambah lagi dengan dua faktor, yaitu Environment (lingkungan) dan Legal (Hukum) sehingga disingkat menjadi PESTEL.

Faktor Lingkungan, berkaitan dengan peraturan pemerintah tentang pemeliharaan lingkungan, seperti penggunaan plastik, tingkat emisi bahan bakar yang diizinkan, daur ulang imbah, dan sebagainya.

Faktor Hukum, berkaitan dengan peraturan-peraturan tentang usaha, seperti undang-undang tentang hak cipta dan paten, tentang persaingan usaha, tentang informasi dan transaksi elektronik, tentang perlindungan konsumen, dan sebagainya.

Semua informasi yang ada dan berkaitan dengan usaha yang akan dijalankan dicatat dan dikelompokkan menurut faktor-faktor PEST/PESTEL.

Contoh:

PESTEL

ANALISIS 5 KEKUATAN

5 forcesModel 5 Kekuatan Porter atau yang dikenal dengan 5 Forces Model adalah alat analisis yang terdiri dari lima kelompok faktor yang berkaitan dengan eksistensi suatu usaha di tengah persaingan usaha. Model ini bisa digunakan untuk usaha yang sudah eksis, tapi juga bisa digunakan untuk usaha yang baru masuk seperti yang akan dibahas kali ini. Kelima faktor tersebut adalah:

  1. Threat of New Entrants (Hambatan bagi Pendatang baru).
  2. Bargaining Power of Suppliers (Posisi Tawar Pemasok)
  3. Bargaining Power of Buyers (Posisi Tawar Pembeli)
  4. Threat of Substituties (Hambatan Barang Pengganti)
  5. Rivalry among Existing Competitors (Persaingan antar Pesaing)

Tantangan Pendatang Baru.

Beberapa faktor yang dihadapi oleh para pendatang baru adalah:

  1. Hambatan masuk (barriers to entry) oleh pelaku bisnis yang sudah ada. Pendatang baru berarti bertambahnya pesaing yang membuat persaingan semakin keras dan bisa merubah banyak hal seperti harga bahan baku, harga produk, dan sebagainya.
  2. Ekonomi Skala (economies of scale) adalah fenomena turunnya biaya produksi per unit bersamaan dengan banyaknya jumlah produksi. Semakin besar jumlah produksi semakin rendah biaya produksi per unit. Besaran produksi berbanding terbaik dengan banyaknya pelaku pada usaha yang sama. Hal itu terkait dengan prinsip penawaran dan permintaan.
  3. Kesetiaan pelanggan kepada merek (brand loyalty) . Di dalam benak pelanggan sudah ada daftar merek untuk setiap komoditi yang mereka beli. Berpindah ke merek baru tidaklah mudah.
  4. Kecukupan modal (capital requirements) merupakan suatu regulasi yang mensyaratkan nominal tertentu bagi suatu usaha untuk mulai.
  5. Kecukupan pengalaman (cumulative experiences) masing-masing pelaku usaha.
  6. Kebijakan pemerintah (government policies) terkait dengan izin usaha.
  7. Akses saluran distribusi (access to distribution channels), terkait pemasaran dan penjualan.
  8. Biaya peralihan (switching cost) yang timbul jika pelanggan beralih dari satu pedagang ke pedagang lain.

Posisi Tawar Pemasok

Beberapa faktor yang berkaitan dengan pemasok adalah:

  1. Jumlah dan ukuran pemasok (number and size of suppliers). Jika jumlah pemasok banyak maka posisi tawar mereka rendah, begitu sebaliknya. Pemasok besar memiliki posisi tawar yang tinggi dibandingkan dengan pemasok kecil. Hal ini berkaitan dengan harga dan ketersediian bahan atau persediaan.
  2. Keunikan produk pemasok (uniqueness of each supplier’s product). Semakin unik produk pemasok semakin tinggi posisi tawarnya.
  3. Kemampuan Pemasok Utama dalam menyediakan produk pengganti (focal company’s ability to substitute).

Posisi Tawar Pembeli

Beberapa faktor yang berkaitan dengan pembeli adalah:

  1. Jumlah pelanggan (number of customers). Jika pembeli sedikit dan penjual banyak, maka pembeli memiliki daya tawar yang tinggi. Prinsip Supply and Demand.
  2. Ukuran pesanan pelanggan (size of each customer order). Pembeli besar memiliki posisi tawar yang tinggi.
  3. Perbedaan antar pesaing (differencies bentween competitors). Keragaman penjual memberi pilihan lebih banyak kepada pembeli untuk mereka bandingkan.
  4. Kepekaan harga (price sensitivity). Kepekaan pembeli terhadap harga produk, karena pembeli tidak akan mau membayar produk yang mutunya tidak sesuai dengan harga.
  5. Kemampuan pembeli untuk mengganti produk (buyer’s ability to substitute). Tidak semua pembeli berani berganti produk, tapi ada juga pembeli yang suka coba-coba produk baru.
  6. Ketersediaan informasi bagi pembeli (buyer’s information availibility). Semakin banyak informasi tentang produk yang dimiliki oleh pembeli semakin tinggi posisi tawar pembeli.
  7. Biaya peralihan (switching costs) yang timbul jika pelanggan beralih dari satu pedagang ke pedagang lain atau beralih produk.

Hambatan Barang Pengganti

Beberapa faktor yang berkaitan dengan barang pengganti adalah:

  1. Jumlah ketersediaan barang pengganti (number of substitute products available). Semakin banyak jumlah barang pengganti maka semakin banyak pilihan bagi pembeli.
  2. Kecenderungan pembeli untuk ganti produk (buyer prospensity to substitute). Tidak semua pembeli berani berganti produk, tapi ada juga pembeli yang suka coba-coba produk baru.
  3. Kinerja relatif harga produk pengganti (relative price performance of substitute).
  4. Persepsi tingkat diferensiasi produk (perceived level of product differentiation). Setiap produk diyakini memiliki keunggulan masing-masing.
  5. Biaya peralihan (switching costs) yang timbul jika pelanggan beralih produk.

Persaingan

Beberapa faktor yang berkaitan dengan persaingan adalah:

  1. Jumlah pesaing (number of competitors). Besarnya jumlah pesaing membuat persaingan semakin keras dan bisa merubah banyak hal seperti harga bahan, harga produk, dan lainnya.
  2. Keragaman pesaing (diversity of competitors). Inovasi dan kreativitas memegang peranan penting dalam memenangkan persaingan.
  3. Konsentrasi industri (industry concentration). Kebijakan industri untuk fokus pada kelompok produk tertentu.
  4. Pertumbuhan industri (industry growth). Tingkat pertumbuhan suatu industri memiliki pengaruh dalam persaingan.
  5. Perbedaan mutu (quality differences). Setiap tingkat mutu suatu produk memiliki pangsanya masing-masing.
  6. Kesetiaan kepada merek (brand loyalty).
  7. Hambatan untuk keluar (barriers to exit). Kendala-kendala yang menghambat suatu pihak untuk keluar dari pasar atau persaingan.
  8. Biaya peralihan (switching costs) yang timbul sebagai akibat dari persaingan yang memaksa terjadinya peralihan produk, pemasok, strategi, atau lainnya.

Contoh:

5 Forces

ANALISIS FUNGSIONAL

FungsionalAnalisis fungsional adalah alat analisis internal yang bersifat teknis. Analisis dilakukan dengan merumuskan aktivitas-aktivitas perusahaan ke dalam setiap fungsi yang ada. Pada umumnya, fungsi perusahaan terdiri dari 5 bagian:

  1. Operasi.
  2. Keuangan.
  3. Sumberdaya manusia.
  4. Pemasaran.
  5. Lainnya, seperti Penelitian dan Pengembangan; Informasi dan Komunikasi, .

Contoh:

Fungsional

SWOT

SWOT singkatan dari Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (tantangan) merupakan alat analisis yang sering digunakan untuk mengetahui situasi suatu usaha dan langkah strategis yang diperlukan untuk kelanjutannya.

Evaluasi pada SWOT mencakup dua sisi, internal yang menjadi faktor-faktor kekuatan dan kelemahan; dan eksternal yang menjadi faktor-faktor peluang dan tantangan.

SWOT

Hasil analisis Fungsional untuk internal dan analisis PESTEL dan 5 Forces untuk eksternal yang sudah dicontohkan di atas diambil 5 faktor yang dinilai paling besar pengaruhnya, seperti contoh berikut

SWOT

Contoh rumusan langkah strategis berdasarkan inventarisasi faktor SWOT adalah sebagai berikut:

Strategi

Selanjutnya dicari skor masing-masing faktor seperti contoh berikut:

Bobot

Untuk mencari bobot, ditentukan terlebih dahulu tingkat urgensi atau kepentingan masing-masing faktor. Ada dua cara menentukan nilai urgensi faktor:

  1. Menilai langsung setiap faktor dengan angka 1 (sangat kecil urgensinya) sampai dengan 5 (sangat urgen) bagi kepentingan usaha yang dijalankan. Perhatikan contoh berikut:

Bobot

  • Isi kolom U. Pada tabel contoh diisi dengan angka 5 untuk faktor nomor 1 karena dianggap sangat urgen, faktor nomor 6 dinilai 2 karena dianggap kurang urgen. Begitu seterusnya.
  • Jumlahkan nilai pada kolom U. Misalnya pada tabel contoh berjumlah 35.
  • Isi kolom B (Bobot) dengan membandingkan antara nilai urgensi pada kolom U dengan Jumlahnya. Contoh: Faktor nomor 4: 3/35 = 0,09. Faktor nomor 9: 5/35 = 0,14.
  • Jumlahkan angka pada kolom B. Jumlahnya harus 1,00.
  • Lakukan hal yang sama pada faktor-faktor eksternal.

 

2. Membandingkan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Perhatikan contoh berikut:

Urgensi

  • Pada baris 1 kolom 2, bandingkan tingkat urgensi antara faktor nomor 1 dengan faktor nomor 2. Jika Faktor nomor 1 dinilai lebih urgen daripada faktor nomor 2, maka pada sel tersebut diisi dengan angka 1. Angka yang sama diisikan pada sel baris 2 kolom 1.
  • Baris 2 kolom 3 berisi angka 3 karena faktor nomor 3 dinilai lebih urgen daripada faktor nomor 2. Angka yang sama diisikan pada sel baris 3 kolom 2. Begitu seterusnya seluruh sel diisi dengan membandingkan antara dua faktor.
  • Pada baris 1, hitung angka 1 dan isikan frekuensinya pada kolom U. Pada contoh di atas, baris 1 berisi angka 1 sebanyak 8 kali; pada baris 10 terdapat angka 10 sebanyak 6 kali.
  • Angka-angka pada kolom U dijumlahkan. Misal jumlahnya 44 pada tabel contoh di atas.
  • Untuk mengisi kolom B (Bobot), bandingkan antara frekuensi dengan Jumlah Frekuensi. Pada contoh di atas, Faktor nomor 1: 8/44 = 0,18. Faktor nomor 10: 6/44 = 0,14.
  • Jumlahkan angka pada kolom B. Jumlahnya harus bernilai 1.
  • Langkah yang sama dilakukan pada faktor-faktor eksternal.

Langkah berikutnya adalah menentukan Rating setiap faktor.

Untuk Kekuatan dan Peluang: 1 = paling kecil; 2 = kecil; 3 = besar; 4 = paling besar

UntukKelemahan dan Tantangan: 1 = paling besar; 2 = besar; 3 = kecil; 4 = paling kecil.

Selanjutnya kalikan nilai Bobot dan nilai Rating dan dimasukkan dalam kolom Skor.

Jumlahkan skor masing-masing kelompok faktor.

Kurangkan total skor Kekuatan dengan total skor Kelemahan. Kurangkan total skor Peluang dengan total skor Tantangan. Contoh:

  • Total skor Kekuatan = 1,77
  • Total skor Kelemahan = 0,69

1,77 – 0,69 = 1,08 → koordinat sumbu X

  • Total skor Peluang = 1,64
  • Total skor Tantangan = 0,97

1,64 – 0,97 = 0,67 → koordinat sumbu Y

Kuadran

 

Letakkan posisi usaha pada Diagram SWOT sesuai dengan koordinat yang sudah ditemukan.

Jika dipehatikan nilai koordinat, maka keduanya bernilai positif sehingga berada di kuadran S dan O. Dengan demikian langkah strategis yang perlu diperhatikan adalah Strategi S – O

Strategi SO

 

Lihat materi Kewirausahaan selengkapnya di Kewirausahaan

Mari berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Komentar Anda: